Yang Mengaku Puasa

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi hanya menahan lapar dan dahaga.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi solat lima waktu tidak sepenuhnya terlaksana.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi mulut tidak pernah diam untuk menggunjing, menyumpah-serapahi, dan memupuk benci.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi menjaja betis di tepi jalan sambil menanti bedug adzan (maghrib).

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi berbuka dengan rizki hasil jarahan: dari bandul timbangan warung hingga kantor pengadilan.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi uang belanja bulanan justru ludes semingguan.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi tidur sepanjang siang dan melek sepanjang malam. Melek untuk I’tikaf di mall, kafe, dan singgasana lonte.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi kebahagiaan tarawih hanya di hari pembuka. Hari berikutnya hingga jelang takbir bergema, satu per satu shaf solat didesaki makhluk tak kasat mata.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi hati terus bertanya “kapan lebaran tiba?”.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi nafsu untuk menjadi “serba baru” justru berlebihan. Katanya “persiapan lebaran”. Hingga tiba takbir bergema menjadi penanda grand opening pameran “semua yang ku punya”.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi hasrat mudik hanya tertuju pada kampung halaman. Tanah kelahiran. Sedang mudik pada Pemilik tanah kelahiran, Pemilik kehidupan, bahkan Pemilik semesta raya, tak pernah terbesit dalam ingatan.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi pembagian zakat harus disiarkan hingga seluruh sudut angkasa mendengarnya. Padahal kerajaan angkasa lebih cinta pada tangan kanan yang berbagi tanpa perlu dilihat tangan kiri.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi ketulusan memaafkan hanya di raut muka. Kembali fitri hanya slogan acara di tivi-tivi. Kesucian hati hanya racikan kata tanpa arti.

Selepas Syawal berganti, sisa bulan tetap berjalan tanpa payung cinta Ilahi.

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Semoga.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*