[Untold Story] Kisah Pejuang Santri Journalism

width=132
Kau Boleh Bilang
Kau boleh bilang aku katro,
Hanya karena aku tak punya Samsul ato Ipul
Kau boleh bilang aku ndeso,
Hanya karena aku pakai sarung dan peci
Kau boleh bilang aku jumud,
Hanya karena aku tak berani udud
Kau boleh bilang aku jorok,
Hanya karena kulitku penuh borok
Kau boleh bilang aku payah,
Hanya karena aku belajar di Aliyah
Kau boleh bilang aku sok ‘alim,
Hanya karena aku mengaji tanpa alim
Ya, kau boleh bilang aku sesukamu
Tapi jangan halangi kuwujudkan impian itu
Dan lihat, aku akan lebih dulu sukses darimu
Sukses dunia, sukses akhirat
(dari Damae untuk Al Hikmah, 2012)

Pelupuk mata agak menghitam lantaran begadang tiap malam, badan sedikit kuru karena hanya dua kali makan dalam sehari. Kantong pun lebih sering kosong daripada berisi. Terlebih peci, entah berapa abad tak diganti. Baju kusut bak jemuran baru kering langsung dipakai lagi, karena memang tak ada setrika kecuali di rumah para kyai. Bahkan kadang, bau badan tiga hari tidak mandi jika air mati, sudah menjadi fenomena lumrah. Apalagi penyakit kulit macam gudig, kurap, kutu air, hingga cacar, menjadi kawan keseharian mereka.
Langkah Langkah tegap santri
Tapi, jangan salah. Dibalik kebersahajaan itu, wajah mereka bersih, memancar sinar air wudhu. Langkah tegap, sigap, tenang, dan fokus ke depan. Makan kangkung atau daging bukan lagi pilihan, apalagi keberuntungan. Begitu pula kantong kering atau baru saja bustelan, sama saja. Dita’zir atau dipuji, hal biasa. Semua mereka syukuri tanpa pernah berkesah. Mereka memang tidak kaya, tapi mereka tahu bagaimana caranya menikmati hidup.
Hal yang patut diacungi jempol 5, mereka tahu apa, bagaimana, dan untuk apa mereka      hidup. Hingga tak sedetik pun mereka siakan tanpa karya. Tak sejam pun mereka lewatkan tanpa belajar. Tak sehari pun mereka lalui tanpa mengaji. Tak seminggu pun mereka jalani tanpa memberi manfaat untuk orang lain. Tak sebulan pun mereka lakoni tanpa memperluas ladang amal. Dan tak setahun pun mereka tekuni tanpa mencetak sejarah, meski pahit-manis senantiasa mewarnai.
Itulah pejuang Santri Journalism.
—–
Generasi Tak penting kasih tau ni peristiwa apa. Cuma mo bilang penulis ada di situ :p
Santri journalism, ialah ranah jurnalistik ala santri yang diusung oleh Malhikdua Network (M2NET, dibaca Em Two Net). Sebuah lembaga informasi sekolah berbasis islam, MA Aliyah Al Hikmah 2, yang berdiri dibawah naungan Yayasan PP. Al Hikmah 2 Benda, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah. Mengadopsi era Citizen Journalism, M2Net berhasil membuat konsep dan genre baru yang terpublish di http://malhikdua.sch.id dengan menjunjung tinggi kebaharuan dan orisinilitas karya.
Menjadi bagian dari keluarga besar Malhikdua, akronim MA Al Hikmah 2, barangkali sudah biasa. Terbukti lebih dari seribu siswa belajar disana tiap tahunnya. Namun menjadi tidak biasa ketika berbicara ‘peluang’ tergabung dalam M2Net. Bukan alasan biaya yang manjadi kambing hitam, karena tak ada pungutan satu rupiah pun untuk bisa masuk M2Net. Melainkan besarnya modal keberanian, kesungguhan, dan keuletanlah yang menjadi parameter lamanya masa bertahan. Tak heran jika kemudian jargon M2Net Memang BEDA! membuahkan prestasi yang tak sederhana. Ya, M2Net sempat tiga kali bertengger menyandang Juara Website Nasional.
Parodi Parodi so sibuk. Ditengah keterbatasan.
Sepetak ruang berukuran 3×4 m, persis bersebelahan dengan kantor utama Malhikdua, ialah rumah kedua para pejuang Santri Journalism. Basecamp, demikian mereka menyebut. Disinilah mereka bebas berekspresi, berkarya, juga mencurahkan segenap gagasan hebat untuk dunia. Disini pula mereka belajar mengumpulkan informasi, mengolah, dan menyebarkannya via website      resmi sekolah. Muatan informasi yang orisinil, faktual, unik, juga edukatif seputar pesantren dan sekolah tercinta, menjadi tombak kekuatan konsep jurnalisme santri yang digongkan.
Kini, M2Net tidak hanya terbagi menjadi 3 wilayah kekuasaan: Redaksional, Organisasi, dan Komunitas Blogger Sandal Selen. Belum lama dari jeda bulan ini, M2Net malahirkan anak baru yang khusus mewadahi pembelajaran dunia jurnalistik. Sanggar Jurnal, namanya. Recommended untuk santri yang ingin belajar seputar jurnalistik media cetak, radio, juga online. Semua ranah itu dikelola oleh anggota M2Net yang kini duduk di bangku kelas 2 dan 3 Malhikdua. Tanpa gaji sepeser pun, bahkan kerap kali mereka merogoh kocek untuk menutup pengeluaran yang memang tak jelas pemasukannya.
Sejenak menyaksikan perjuangan mereka, agaknya mengharukan. Namun, itu semua tidak lebih tragis dari sebuah keadaan yang layak disebut miris. Ialah terputusnya koneksi internet di basecamp tempat mereka berkarya. Tempat mereka mengunggah informasi dari TKP ke website. Tempat mereka memperluas network via sosial media. Tempat mereka memperkenalkan pesantren dan sekolah islami ke seluruh penjuru bumi. Hingga seringkali banyak berita terbengkalai, menge-down-kan semangat, bahkan tak sedikit yang akhirnya memilih keluar dari M2Net hanya karena letih menanti perhatian sekolah yang tak kunjung sampai. Meski sekolah tahu bahwa setiap jengkal perjuangan mereka tak lain untuk sekolah, untuk pesantren.
—–
Santri
Menyoal koneksi internet di pesantren, agaknya lagu lama yang hingga kini belum bertemu solusi. Bermula pada 2003 silam, dial-up telkomnet@instan mengawali denyut kehidupan internet di pesantren yang konon terbesar se-Jawa Tengah ini. Pun baru Malhikdua yang menggagas. Dua tahun berkembang, seorang volunteer asal Surabaya, Novy Setyarso, membangun networking untuk berbagi ilmu yang terpublish di situs resmi sekolah (http://malhikdua.sch.id).
Dibawah tekad From Kali Onje, Flows to The World, M2Net berdiri. Cak Novy, sapaan akrabnya, mengaryakan Crew-Child (Krucil, red) untuk mengelola produk M2Net. Sembari terus berinovasi, ada saja batu kerikil yang menyandung dan memaksa M2Net jatuh hingga terpuruk. Berkali-kali hancur, berkali-kali pula volunteer itu hadir, mempertahankan, dan membangkitkan kembali. Meski ia tidak digaji, ia juga bukan keluarga Malhikdua, tapi kecintaannya pada karya telah mengalahkan segenap rintangan. Hingga tak heran bisa lebih dari 3 kali dalam sebulan, ia bolak-balik Surabaya-Brebes hanya untuk menjenguk binaannya.
Krucil tak mampu bertahan pada periode 2009. Keadaan ini memaksa Cak Novy memindah-tangankan pengelolaan M2Net ke siswa (santri, red), demi menyelamatkan nasib lembaga informasi yang belum legal ini. Inilah awal perjuangan berat yang dihadapi. Bukan hanya koneksi internet, nasib santri yang terancam kenyamanannya lantaran gesekan peraturan pesantren juga menjadi pe-er yang tak ringan baginya. Belum lagi kecaman demi kecaman yang terus bergulir dari lingkungan sekitar, selalu menyudutkan M2Net sebelah mata bahkan membencinya.
Launching Riuh resah penonton, sementara panitia sibuk cari alasan gara2 vcd Laskar Pelangi yang mau disetel ternyata cuma berisi lagu. (ditipu pedagang vcd tanah abang ceritanya 🙂 )
Sebutlah satu kasus yang amat mempermalukan T-Ger.net. Kegagalan launching komunitas blogger Malhikdua pada 2010 lalu, bukan hanya realita yang tak terlupa. Lebih dari itu, kisah buruk ini seolah menjadi momok yang membuat trauma pejuang M2Net jika mengingatnya. Masih di tahun yang sama, Internet dilarang masuk pesantren tak kalah menggemparkan bumi Al Hikmah. Perhelatan dahsyat pejuang Santri Journalism benar-benar mati kutu dan sempat vakum berbulan-bulan lantaran informasi tak dapat ter-update. Belum lagi dilema penta’ziran bermomok menjatuhkan reputasi yang harus ditanggung para jurnalis, setiap cuil kesalahan mereka lakukan.
Beberapa bulan ke belakang, kisah perjuangan M2Net yang terangkum dalam video berdurasi 4 menit berjudul Action Expression, sempat masuk sidang pengurus pesantren. Hingga tercuim detik.com, video yang menyabet juara 3 Lomba Internet Sehat Video ini juga, sekali lagi, menggoyahkan kekuatan pejuang M2Net yang memang sedang tidak kondusif.
Agaknya tak kan cukup trilogi novel untuk mengisahkan perjuangan Santri Journalism. Beruntung, cak Novy bukan tipe orang yang mudah menyerah. Hingga detik ini M2Net masih bernapas, meski sesekali tersengal, terbatuk, pinsan, hingga koma. Masih tetap ia dampingi dengan setia, tanpa pamrih sedikit pun.
—-
Kiranya tak berlebihan jika M2Net dijuluki pejuang tertangguh. Demi menjadi jurnalis, untuk sebuah cita mulia: menyebarkan informasi bersih, orisinil, dan mengusung kearifan lokal untuk menyapu sampah informasi bak debu tebal di dunia maya. Dan kini, pejuang tertangguh yang tinggal hitungan jari, harus terus hidup dalam keadaan apa pun. Beruntung Internet Sehat (http://ictwatch.org) dan Komunitas Blogger Banyumas (http://bloggerbanyumas.net) masih setia membimbing. Besar harapan M2Net bisa diterima dengan baik oleh semua kalangan di pesantren. Dengan begitu, jantung Santri Journalism akan tetap berdetak, karena M2Net ada dari dan oleh Malhikdua, untuk dunia.
(Damae Wardani, ex-pemred M2Net 2010).
Glosary:

  • Katro = Ndeso = Jumud : ketinggalan jaman
  • Sok ‘alim : sok pintar
  • Alim : tidak mau (bahasa Sunda)
  • Kuru : Kurus
  • Bustelan : dijenguk oleh orang tua ke pesantren
  • Dita’zir : dihukum atau dikenai sanksi
  • Krucil : asisten guru Malhikdua yang diangkat dari alumni Malhikdua
  • Cuil : kecil
  • Video Action Expression bisa dilihat disini     http://youtu.be/NzXQgbIr_p

Tulisan ini saya dedikasikan untuk bahan proposal     cerita M2Net oleh Pojok Pradna     kepada ibu Mardiyah dan buku Antologi Mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung 2012, dengan tema Menjadi Jurnalis. Serta berpartisipasi dalam Workshop Jurnalistik Republika Online Goes to Campus UIN Bandung 2012.     *Kepake’ alhamdulillah, nggak kepake juga gak masalah. 🙂 #Happy-Writing

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

JuFair 2012 UIN Sunan Gunung Djati Bandung: Be A True Journalist!

Read Next

Menanti Terobosan PLN untuk Penghuni Kosan

Facebook Comments

Disqus Comments

damae