Tumbuh

Hai, diriku yang sering kulalaikan. Apa kabar? Semoga kamu masih selalu –dan akan terus begitu, memaafkan sebagian dari dirimu yang seringkali banyak alibi untuk menyempatkan menyapa. Meskipun aku tahu, setiap kamu memaafkanku berarti ada tambahan daftar kesalahan yang lagi-lagi kulakukan.

“Bukankah justru karena itu manusia diciptakan? Untuk berbuat salah.” aku tahu kamu akan menyahut begitu.

Benar. Bahkan Tuhan sendiri ‘mengklaim’, manusia memang tempatnya salah dan lupa. Barangkali itulah megapa tak ada manusia sempurna. Tuhan pun tak pernah menuntut kita untuk tidak berbuat salah. Malah Tuhan seolah memberi kita ‘panggung’ untuk mementaskan kesalahan kita, sekaligus ‘backstage’ untuk merenungi apa yang telah kita lakukan.

Dan, angin yang menyelinap dari luar jendela kamar malam ini, membawaku menjelajah waktu. Tepatnya satu tahun terakhir sebelum 2021. Tahun yang terasa penuh sesak oleh kesalahan. Tahun yang sepertinya paling banyak dirutuki umat manusia di seluruh penjuru bumi. Tapi pada saat yang sama, juga mungkin paling banyak disyukuri dan dipanjati doa.

Karena ada sangat banyak di antara kita yang kehilangan: nyawa, harta, pekerjaan, kesempatan, bahkan diri sendiri. Namun dalam kurun tahun itu pula, ada banyak di antara kita yang justru menemukan hal paling berharga dalam hidup: napas, waktu, dan Tuhan.

Ada yang diam-diam me-redefinisi kebahagiaan dengan membalikkan logika: bukan karena ada apa-apa maka kita bahagia, tapi justru karena kita bahagia maka apa-apa akan datang menghampiri kita; bukan karena bahagia maka kita bersyukur, tapi justru karena kita bersyukur maka kita bahagia.

Hal-hal yang kita genggam erat dan kita perjuangkan dengan penuh peluh, bisa dengan sangat mudah lepas dan pergi begitu saja. Tapi begitu hati ikhlas menerima, Tuhan ganti dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan hadir dengan cara yang tak pernah terduga.

Sesuatu yang terasa amat berat hingga seringkali terpaksa kita sembunyikan air mata, mungkin masih tersisa hingga sekarang. Tapi begitulah Tuhan mengingatkan, agar kita selalu menyempatkan diri untuk sejenak menepi. Jalan terjal itu, tak perlu ditaklukkan dalam satu waktu. Pelan-pelan saja. Toh, kita tidak sendirian. Ada mereka –orang-orang yang mencinta kita, dan Tuhan.

Untuk sebagian dari diriku, ayo dilanjutkan langkahnya. Di dunia ini ada terlalu banyak hal yang harus ‘di-gapapa-in’. Termasuk kesalahanmu, kesalahanku, kesalahan kita, selama 2020. Tugas kita hanya memaafkan dan memperbaikinya.

Bukankah Tuhan hanya menyuruh kita untuk tidak berhenti berjuang? Bukan menjadi pemenang, karena hidup ini memang bukan balapan.

Damae Wardani

Read Previous

Berkawan dengan Kehilangan, Ketidakbahagiaan, dan Keikhlasan

Facebook Comments

Disqus Comments

damae