Tulus

tulus
Source: Here

Sudah berapa jam kau menatap dan mengaduk kopi itu? Sepertinya kalau diminum sudah bukan rasa kopi.
Lebih lama dari yang kau kira. Aku sudah duduk disini jauh sebelum kau melihatku.
Hmm. Apa yang membawamu kesini? Bukankah mendengar omongan mereka itu menyakitkan? Kanan kiri mengumpatimu seakan kau ini…
Sampah?
Aku tidak berucap begitu…
Bisa jadi mereka benar. Bagi mereka bisa jadi aku memang tidak ada artinya.
Hadue.. Tidak usah didramatisir. Bikin risih dengarnya.
Orang yang duduk disamping kita, belum tentu sepenuhnya ingin menyapa. Orang yang duduk satu kelas di sekolah kita, belum tentu sepenuhnya menganggap kita teman. Orang yang tinggal di samping rumah kita, belum tentu sepenuhnya ingin bertetangga. Orang yang bekerja satu kantor dengan kita, belum tentu dia memperlakukan kita seperti rekan kerja.
Bahkan, orang yang sudah bertunangan atau menikah dengan kita, belum tentu mencintai kita sepenuhnya. Begitu juga orang yang tinggal serumah dengan kita, tak ada yang tahu apakah dia benar-benar melindungi kita dengan segenap jiwa.
Tapi bukan berarti orang yang tidak pernah kenal dengan kita, sepenuhnya tidak punya rasa. Adakalanya orang yang tidak kita anggap teman, sahabat, atau keluarga itu, justru menjadi orang terbaik buat kita.
Apa yang kau bicarakan?
Kau lihat supir taxi di luar itu? Tak ada yang tahu kalau seluruh waktunya habis untuk menyetrika jalan. Tak ada yang tahu kalau sepanjang hidupnya hanya punya beberapa kosa kata. Tak ada yang tahu betapa sulitnya menjalani hari tanpa ada seorang pun yang bisa mendengar jeritan hatinya. Juga tak ada yang tahu kalau sisa umurnya tinggal hitungan hari.
Apa?
Juga nenek penjual jamu keliling itu, punggungnya sampai melengkung karena menanggung beban gendongan jamu, setengah abad lamanya. Subuh sudah bangun mengupas kunyit. Lalu mulai berkeliling dengan kedua kakinya saat mentari sepenggal naik. Nanti pulang kalau malam sudah menjelang. Bertahun-tahun ia menikmatinya, hanya demi cucu semata wayang bisa sekolah.
Bagaimana kau bisa tahu itu?
Itu. Lihat bocah cilik kumal di bawah lampu merah. Setiap jam 3 pagi dia sudah berkemas dengan segepok koran di tangan mungilnya. Menyusuri pintu demi pintu untuk mengantar koran ke pelanggan. Hingga aktivitas jalan raya mulai ramai, ia menjaga lampu merah sambil menjajakan sisa koran.
Jika hari ini kau bisa tidur nyenyak dan makan enak, bersyukurlah. Bocah penjual koran itu, tentu bersama ribuan anak jalanan lain, boro-boro merasakan tidur nyenyak atau makan enak. Untuk dapat bernapas lega saja mereka harus jadi budak. Upah keringat mereka selalu disetorkan ke preman yang seakan menjadi Tuhan kedua. Bisa kau bayangkan betapa menderitanya?
Aku mengerti. Tapi.. Apa maksud semua ceritamu itu?
Ketiga orang yang kusebut tadi, semuanya bukanlah orang tersohor. Bahkan mungkin tak dipandang oleh masyarakat. Tapi ketika aku mendapat kesulitan di sisi mereka, ketiganya benar-benar menolong dengan tulus.
Menolong? Kamu pernah ditolong oleh mereka?
Benar. Aku tidak jadi ketabrak mobil karena bocah cilik itu menyeretku ke tepi, sedetik sebelum mobil menyambar. Nenek tukang jamu itu pernah memberiku minum saat aku hampir pinsan di jalan, sebulan lalu. Dan supir taxi itu, ketika aku tersedu sepanjang jalan karena kecopetan tengah malam, ia mengantarku sampai depan rumah, tanpa dibayar sepeser pun.
Wuaa.. Kamu serius?
Ketiganya melakukan hal yang belum pernah dilakukan orang yang mengaku sahabat, teman, atau kerabatku. Kau lihat sendiri kan, setiap kami tak sengaja berpapasan di jalan atau bertemu di suatu tempat, perbincangan pertama tidak lebih dari kata: sibuk apa sekarang? Sebulan terakhir aku sengaja memasang wajah murung, adakah dari mereka yang mau duduk semeja dan menyediakan waktu untuk menjadi pendengarku?
Kau juga lihat bagaimana perubahan sikap teman-teman yang dulu menyanjung dan selalu membanggakanku. Setelah aku mundur dari semua kegiatan di luar kelas, bahkan aku menurunkan peringkatku di dalam kelas, adakah dari mereka yang masih mau duduk bersamaku? Dan masih banyak fakta yang kau tahu, rasanya terlalu hina untuk kuulas.
Hingga hari ini kau mendengar suaraku, tak ada satu pun dari mereka yang tersisa. Tampaknya hal ini menjadi cukup bukti bahwa “ketulusan” dalam kehidupan menjadi hal yang amat mahal. Saking mahalnya, sampai berapa pun kau punya uang, aku yakin tidak akan bisa membeli yang namanya ketulusan. Karena memang satu kata itu tidak bisa diperjualbelikan.
Aku.. Aku benar-benar minta maaf..
Tak ada yang perlu dimaafkan karena memang tak ada yang salah. Hanya saja, diamku selama ini membuat aku sadar, barangkali aku sudah hidup dengan cara yang salah. Aku tak tahu apa saja yang kulakukan selama ini, hingga menemukan seorang teman yang tulus saja tak bisa.
Aku juga tak mengerti apakah selama ini aku sudah menjadi orang yang tulus, dalam hal apa pun. Aku tak tahu apakah tulus memerlukan alasan, ataukah alasan yang justru menjadikan tidak tulus. Aku hanya tahu kalau ada yang tidak beres dengan hidupku, mungkin juga hidup orang-orang di sekelilingku.
Jadi ini alasan mengapa kau mengahancurkan prestasi dan kariermu?
Tidak menghancurkan. Aku hanya berhenti sejenak untuk melihat lebih dalam tentang kehidupan sekitarku. Jika aku jalan terus, mungkin aku tidak pernah tahu ada apa dan bagaimana kehidupan di belakang langkahku. Jika aku tak menoleh ke kanan, mungkin aku tak pernah tahu bahwa orang yang selama ini mengaku teman, ternyata diam-diam membenciku. Begitu juga kalau aku tidak menengok ke kiri, mungkin aku tidak akan pernah tahu siapa diriku di mata orang lain.
Lalu, apa rencanamu setelah mengetahui semua itu?
Tidak ada. Aku hanya belum menemukan jawaban, sebenarnya dilihat dari kacamata apa sajakah tulus itu? Dan bagaimana caraku mengetahuinya?***

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Press Rilis: Malhikdua Gelar Ekspo Kampus 2014 dari 5 Negara

Read Next

Baru Mau

Facebook Comments

Disqus Comments

damae