Titik NOL, Sebuah Noktah Peradaban

Akhirnya, aku kembali berdiri di sini. Sebuah titik yang memiliki kekuatan magis, mampu memagnet semua wisatawan untuk menikmati pesonanya. Sekali singgah, titik ini seakan menjelma noktah yang menetes dengan sendirinya –dari masa ke masa, hingga membuat ketagihan.

Mungkin pula, candu itu bukan disengaja, tapi cintalah yang membuat betah; cinta dari wisatawan sendiri. Seiring waktu, betah menyublim jadi rindu. Rindu pun hanya terobati bila kembali bertemu. Nyatanya, jejakku sudah lima kali tertinggal di sini.

Bosan? Tidak. Adakah yang membosankan dari sebuah noktah yang dilingkari sumbu seni? Seni budaya, seni sejarah, seni ekonomi, seni imajinasi, seni kreasi, seni komunikasi, seni hiburan, dan seluruh seni lain yang membentuk peradaban.

Lihat saja, kompas ke arah barat daya menunjuk bangunan tinggi bertuliskan BNI. Geser sedikit ke sisi tenggara, ada gedung besar terbaca Kantor Pos dan Bank Indonesia. Jarum kompas di timur laut mengarah sebuah monumen yang juga saksi perjuangan pahlawan, ‘Serangan Umum 1 Maret’. Di barat laut, pernah menjadi Istana Kepresidenan ketika kota ini menjabat sebagai Ibu Kota Republik Indonesia, Gedung Agung namanya.

Belum lengkap. Aku berjalan sekira 100 meter dari Noktah ke arah selatan, tegak berdiri bangunan yang selalu memikat hati. Lengkap dengan pria-wanita berpakaian adat Jawa, khas nada seperangkat gamelan mengudara. Tentu, sebelum memasuki kawasan yang juga didiami penguasa kota ini, ada Alun-Alun Lor (utara) yang harus kulewati. Bangunan itu akrab disapa Kraton Yogyakarta.

Kembali ke noktah, berjalan lagi 100 meter ke arah sebaliknya. Terbentang kawasan yang namanya diambil dari bahasa Sansekerta, Malioboro. Dinamai dengan arti ‘karangan bunga’ karena zaman dulu, ketika Kraton menggelar acara, kawasan sepanjang 1 KM ini dipenuhi karangan bunga.

Meski zaman berubah, Malioboro sebagai tempat berlangsungnya aneka kirab dan karnaval tidak berubah. Beragam karnaval kini masih digelar: Jogja Java Carnival, Pekan Budaya Tionghoa, Festival Kesenian Jogja, Karnaval Malioboro, dan masih banyak lagi.

Kawasan ini terbentang dari Jalan Pangeran Mangkubumi hingga poros garis imajiner Kraton Yogyakarta -Jalan Jend. Ahmad Yani. Keduanya berubah menjadi Jalan Margoutomo dan Jalan Margomulyo pada 2013 lalu. Kedua jalan itu juga bisa ditandai dengan jarak antara Tugu Pahlawan sampai Perempatan Kantor Pos -posisi dimana noktah berada.

Jika ditelusuri, kawasan ‘karangan bunga’ itu kaya akan seni sejarah yang tampak pada Tugu Pahlawan, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Benteng Vredeburg. Tampak pula Monumen Serangan Umum 1 Maret, dan tentu saja, sebuah tempat yang juga menjadi bukti naik daunnya seni ekonomi, Pasar Beringharjo.

Bermula dari Pasar Beringharjo inilah, Malioboro mengepakkan sayap. Didongkrak kelihaian etnis Tionghoa -yang bermukim di kawasan Malioboro, perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan meluas hingga Stasiun Tugu. Tidaklah konyol jika kemudian Malioboro diplesetkan dengan gaya baby talk, “mari yok borong”. Mulai batik klasik, pernik cantik, cinderamata unik, barang klenik, emas, permata, sampai perlengkapan rumah tangga.

Sebagai bagian dari sumbu imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Kraton Yogyagarta, dan Gunung Merapi ini, Malioboro pernah menjadi sarang pertunjukan (sekaligus surga fantasi) para seniman. Digawangi Umbu Landu Paranggi, nama lengkap pemilik label Presiden Malioboro, mengakarlah budaya duduk lesehan menikmati eksotisnya malam. Berkahnya, pedagang Angkringan yang menjaja kopi dan mendoan.

Hari ini, lesehan sudah melebar hingga menutupi noktah yang kian senja (usia). Kumpulan seniman pecinta sastra, musik, lukis, happening art, dan pantomim, dikerubuti pengunjung terutama saat malam Minggu berkunjung. Bahkan komunitas performance art yang mengamen dengan kostum hantu: pocong, kuntilanak, dan gendruwo, tak pernah kehabisan pose foto di bawah patung Akar Pohon -sisi noktah.

Siapa tak suka menikmati semua sumbu seni yang berporos di titik ini?  Titik yang tak berbilang. Justru membentuk lingkaran sempurna, tanpa sudut tanpa batas. Namun agaknya, dari sanalah semua bermula, juga berakhir. Lantaran titik yang dikenal sebagai Titik Nol itu, bisa jadi sama dengan titik akhir peradaban di Jawa.***

Tulisan ini dimuat di Suaka, edisi September 2014.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*