Titik itu,

Angin, ijinkan aku bercengkrama denganmu selagi senja masih menyisakan tawa. Tak perlu, kau tak perlu bicara apa-apa. Adakalanya moment ‘didengarkan’ menjadi hal paling berharga.

Kau lihat sekelilingku, Angin? Tentu. Semua manusia sedang bergerak menuju satu titik. Jika kau sorot dari ketinggian yang memperlihatkan seluruh penghuni bumi, barangkali ada berjuta, bermilyar, bahkan bertrilyun titik yang dituju.

Titik itu, berusaha diraih manusia dengan berbagai cara. Cara yang terwujud dalam segala aktivitas manusia. Agaknya kau lebih mampu melihat ketimbang aku, Angin. Saat ini, ada penulis yang asik bercinta dengan kata. Ada petani yang sigap dengan cangkulnya, sopir terjaga dengan setirnya. Pun guru, dokter, polisi, direktur, presiden, pengamen, hingga pengemis.

Semua melakoni kegiatan yang berbeda dari kemarin, juga mungkin akan beda dengan esok dan lusa. Kegiatan yang, tentu saja dikira akan mengantar mereka pada satu titik -tujuan itu.

Namun, titik manakah yang mereka perjuangkan sedemikian dahsyatnya? Satu titik itu, apakah sama antara satu dan lainnya? Hasrat, impian, cita-cita, kebahagiaan, kekuasaan, keabadian, manakah titik yang mereka kejar?

Padahal, Angin, bukankah kita tak lebih dari sesuatu yang bergerak karena ada yang menggerakkan? Sepadan dengan sesuatu yang tercipta karena ada yang menciptakan. Sesuatu yang hidup karena ada yang menghidupkan.

Maka Dia, yang dari-Nya semua bermula, kepada-Nya semua kan kembali; ialah satu-satunya titik yang sejati. Ilahi Robbi.

Kalau begitu, sudah benarkah jalan yang kita pilih? Sudah sesuaikah titik yang kita tuju?

Ah, Angin.. sejujurnya aku iri padamu. Dalam setiap hembusanmu selalu tersebut nama titik itu. Tiap arahmu tak lain menuju pada titik itu. Bahkan tak satu detik pun kau lewatkan kecuali mengagungkan titik itu. Begitu pun semesta seisinya, semua tercipta hanya untuk menyembah Dia.

Tapi, aku?

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*