Tentang Logika

Duggg!!! Awww!!!

Nah, kan. Kejedug juga akhirnya.

Angiiin. Ada orang kejedug pintu malah disyukurin.

Ya, bagus, dong. Lumayan bikin benjol jidatmu yang over penat.

Oo.. jadi kamu bahagia lihat jidatku benjol segede ini?

Apa pun asal bikin kamu berhenti bekerja, aku bahagia.

Berhenti bekerja?

Kamu nggak sadar ini di luar lagi hujan lebat dan petir menyambar dari tadi?

Sadar, lah.

Terus ngapain kamu nyuci sebanyak ini?

Apa urusannya hujan sama nyuci? Toh, nanti kering sendiri.

Apa hubungannya nyuci sama luka di hatimu itu? Emang bakal nyembuhin?

Setidaknya aku mencoba bergerak. Membersihkan hati.

Termasuk pesan tiket tanpa milih kursi, bikin kopi sampai tumpah, nyuci piring sampai pecah, bersih-bersih sampai kuku-kuku patah, dan tangan kamu lecet di mana-mana? Termasuk nggak mau makan berhari-hari dan nggak mau tidur semalaman?

Bukan nggak mau, tapi nggak bisa. Kamu lihat sendiri, aku sudah berusaha. Lagian, yang lain-lain tadi itu ketidaksengajaan. Mana mungkin aku sengaja bikin tanganku terluka.

Terus untuk apa semua itu? Kenapa kamu harus bersikap begitu?

Terus kamu ingin aku bersikap apa? Diam? Marah? Nangis? Kabur? Atau tetap tenang dan pura-pura baik-baik saja?

Aku cuma nggak mau kamu menyiksa dirimu sendiri. Cukuplah hatimu yang sakit, badanmu jangan. Kamu butuh tenaga untuk bertahan. Kecuali kamu kamu mau dianggap mayat hidup.

Kadang-kadang, kamu memang suka sok tahu.

Lho, kamu ragu kalau aku benar-benar tahu?

Kamu tahu apa, Angin? Remuknya hatiku saat ini, apa iya bisa kamu rasa?

Jangan dikira hanya karena aku bukan manusia, aku nggak bisa merasakan apa yang kamu rasa dan nggak tahu apa yang ada di benakmu. Aku bahkan jauh lebih paham, kalau..

Kalau apa?

Kalau kamu bisa teriak, kamu bakal memaki-maki dia dengan sangat fasih: kenapa di titik awal dia yang berlari ke arahmu, tapi akhirnya kamu yang tertolak. Kenapa dia yang sempat kamu obati sisa-sisa lukanya dari masa lalu –ketika dia nggak direstui oleh orang tua dari kekasihnya, kini justru dia yang membuatmu terluka karena pilihan orang tuanya. Kenapa dia harus merisaukan masalah ekonomi, sosial, dan geografis, padahal pendapatanmu satu bulan bisa membersamai dia di sana lima bulan, kamu juga sudah menekuni bidang ilmu sosial selama 12 tahun, dan dia bahkan mengakui sendiri kalau saat ini jarak bisa “dilipat”. Kenapa dia yang sejak awal begitu meyakinkan bahwa dia akan memperjuangkanmu, tiba-tiba menjadi pengecut dan membuangmu begitu saja, sama sekali tidak mau mencoba untuk tertatih, berjalan, berlari, atau berjuang bersamamu. Sampai di titik keputusan final, kenapa dia hanya mengirim sebaris pesan singkat kepadamu, sementara dia berencana bertemu langsung dengan wanita lain –mentang-mentang itu akan menjadi kabar paling bahagia untuknya. Dan, kenapa dia..

Cukup, Angin. Kamu tidak berhak membaca pikiranku.

Tapi benar, kan? Kenapa harus memendamnya? Kamu takut dia terluka kalau sampai dia dengar semua kemarahanmu?

Sudah lah, Angin.. Tolong jangan dilanjutkan. Aku hanya merasa tidak cukup baik untuk dia perjuangkan dan tidak cukup hebat untuk berjuang bersamanya.

Selalu, kamu selalu merendahkan dirimu.

Tapi benar, kan? Aku bukan siapa-siapa. Orang tua ku pun bukan siapa-siapa. Diriku dan hatiku itu nggak cukup untuk dia. Cintaku bahkan nggak mampu bikin dia bertahan lebih lama sedikit lagi, meskipun tinggal satu langkah dia berjalan menujuku, Angin. Apa yang harus dibanggakan dari diriku?

Kamu memang bukan siapa-siapa, tapi tidak dengan ketulusanmu. Tanpa ketulusan, mungkin semua yang diperjuangkan hanya berujung “hitung-hitungan”. Dan, ketulusanmu jauh lebih agung dari seisi dunia yang bisa dia miliki dengan memilih wanita lain. Hatimu nggak sebanding dengan apa pun, karena memang hati itu nggak bisa “di-angka-kan” dan nggak bisa dibandingkan.

Sayangnya hatiku sama sekali nggak cukup berharga di matanya.

Karenanya dia berhutang itu padamu. Hutang yang bahkan nggak bisa dia lunasi seumur hidup. Kelak, atau sejak hari pertama kisahnya resmi dimulai dengan wanita pilihannya dan pilihan orang tuanya, setiap dia merasakan kebahagiaan, semoga dia ingat kalau ada seseorang yang merelakan mereka bersatu, ada hati yang terluka demi bahagianya mereka, ada ketulusan yang telah susah payah dibangun dan diruntuhkan dalam sekejap, juga ada do’a yang tak henti mengalir dari orang yang pernah disia-siakan.

Angin.. Cukup. Tolong tinggalkan aku sendiri dan hentikan semua celotehmu.

Satu hal lagi. Sangat nggak logis ketika dia nggak mau berjuang bersamamu dari nol, hanya karena kamu sebenarnya sudah mulai berjalan lebih dulu (dengan kedua kakimu sendiri, bahkan jauh sebelum bertemu dengannya), karena nalurinya sebagai pria yang seharusnya mendahuluimu itu akan sedikit terluka; tapi kenapa dia merasa baik-baik saja dengan wanita lain yang notabenenya justru “meminjam kaki orang tuanya”?

Angin, tolong pergi sekarang atau aku yang pergi.

Iya, iya. Aku pergi. Tapi ingat, jangan dihabiskan air matamu sekarang. Sisakan untuk besok biar aku bisa menjengukmu lagi.

Hm. Better you don’t come back.

But, i’ll be back. Soon.

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Pelan-Pelan

Read Next

Pemberhentian

Facebook Comments

Disqus Comments

damae