Solaria Selenia

Semilir angin malam di kota yang kata sebagian orang “romantis” ini, menyibak-nyibakan jilbab lebar Trian. Wajah polos dan lucunya terlihat pas dengan tinggi badan yang tak sampai 150 cm. Kerlingan mata bulat, senyum manis, dan polahnya yang menggemaskan, membuat semua orang sepakat bahwa keluguan Trian itu menyenangkan. Terlebih pose-posenya yang justru dibanggakannya saat orang lain menyebut alay. Cocok sekali dengan kekonyolan gadis keturunan Purwokerto ini saat baru pertama kali memegang DSLR.

“Loh, ini kok gini… mas Sufyan, mas Sufyan, ini gimana?”, teriaknya panik saat hasil jepretannya tidak memuaskan. Khas logat Jawanya sangat kental. Kebanyakan orang menyebutnya dengan istilah medok.

IMG_5498Sufyan, salah satu tetua pasukan Selenia, begitu anggota komunitas Sandal Selen -blogger santri community- akrab disapa, dengan sabar mengajari Trian. Senyum manis bercampur peluh keringat Jogja membuat Sufyan tampak tetap semangat. Meski sesekali ia bergumam, “Kangen ngumpul bareng…” dengan tatapan kosong. Berharap Faroby -lurah Sandal Selen- dan paman gembul (julukan akrab untuk Novy Setyarso, founder Salan Selen) hadir di tengah kehangatan jalanan yang selalu dipadati pengunjung kota ini: Malioboro. Tapi apalah daya, gumamnya perlahan melebur dan terbang bersama angin malam.

Ini pemandangan yang sangat kompleks. Saking kompleksnya sampai mata tak bisa fokus sekadar memandang 1 orang. Apalagi menghayati barang 1 percakapan. Semua memaksa terterka bola mata. Semua seolah bilang: mau tak mau ya harus dipandang. Maka tak heran jika setiap komunitas hanya diberi waktu 2-3 jam untuk berpuas ria di selasar ini. Bahkan mungkin, bagi sebagian orang, setengah jam saja berdiri disini sudah cukup membuat bintang-bintang di atas kepala berputar-putar. Pusing, rungsing, dan bising. Tapi justru ini yang membuat Malioboro senantiasa dirindukan pengagumnya.

IMG_5517Posisi Selenia persis di depan area Pasar Sore Malioboro. Diapit jalan raya Malioboro dan trotoar yang setengah badan jalannya dipadati pedagang asongan. Kata orang arsitek, tempat para Selenia bercengkrama ini disebut plaza. Di plaza inilah terdapat deretan tempat duduk paten yang terbuat dari bahan bangunan. Tampaknya menyerupai bangku antrian bersambung dengan bentuk setengah lingkaran. Seolah sengaja dibuat untuk menyambut kehadiran Sandal Selen ke sini, nyatanya jumlah tempat duduk ini pas: 8 Selenia.

Gelak tawa dan canda para Selenia membuat bisingnya deru motor dan sahutan klakson di jalan raya kabur. Sembari menikmati makan malam yang meski hanya 5 ribu perak, rasanya lebih dahsyat dari restoran bintang 5. Ada yang pesan sate pincuk, berisi 4 tusuk sate dan beberapa potong lontong lengkap dengan bumbu kacangnya. Sebagiannya lagi memilih bakso dan nasi kucing di deretan trotoar depan pedagang sate. Minumnya, tak perlu jauh-jauh. Hampir di semua tempat duduk sudah dibacking penjual es teh. Cukup 2 ribu per gelas plastik. Barangkali benar kata orang bijak, yang membuat nikmat memang bukan makanannya. Tapi rasa syukur dan kebersamaan saat makan. Itulah yang kini dirasakan Selenia.

Kesempatan berkumpul semacam ini bukan semata tanpa rencana. Selenia nebeng Kopdar (kopi darat, pertemuan; red) Blogger Nusantara yang menjadikan Jogja sebagai tuan rumah. Acara tahunan yang mempertemukan blogger seluruh Indonesia ini dimanfaatkan Selenia untuk tak sekadar berkumpul. Tapi juga menduniakan blogger santri yang notabenenya katro dan ndeso, agar tak lagi seperti katak dalam tempurung.

IMG_5942Kopdar ini bukan yang pertama, dan tentu saja berharap bisa terus lolos perijinan pesantren untuk ikut event berikutnya. Seperti keberhasilan Sandal Selen di tahun-tahun lalu, beberapa perwakilan bergantian dikirim ke event serupa tapi tak sama. Sebutlah Kopdar ASEAN Blogger di Solo, Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo (dan sekarang di Jogja), Diskusi Blogger di Kantor Google Singapura, Pesta Blogger di Jakarta, Ngopi Kere di Purworejo, Festival TIK di Bandung, Wisata Blogger di Wonosobo, Juguran Blogger Banyumas di Purwokerto, Ultah Blogger Ponorogo, Ultah Blogger Bengawan di Solo, hingga Ultah Blogger TPC di Surabaya.

Semua tercatat sejarah lengkap dengan perjuangannya yang berdarah-darah. Karena bagi pesantren yang digadang-gadang terbesar se-Jawa Tegah ini, internet menjamah ‘penjara suci’ adalah hal yang (kala itu) masih tabu. Apalagi santri keluar pondok selain untuk ibadah (solat Jumat dan pengajian sentral), jelas ada tahapan yang tak sepele untuk dihadapi. Itulah mengapa, bila Sandal Selen berhasil mengikuti sebuah event di luar pesantren terlebih di luar kota, ialah prestasi yang sangat luar biasa.

“Semua sudah kumpul?”, tanya Damae, dedengkot Sandal Selen yang juga eks-ambasador M2Net, muncul dengan suara paraunya dari arah pusat Malioboro. Sontak dijawab Trian sembari mengipasi celengan yang masih basah, “Bentar, nunggu Hilda, mbak.”, seperti biasa, pipi bulatnya tetap menggemaskan.

“Emang Hilda kemana?”

“Beli celengan kayak gini, mbak. Tadi dia udah balik kesini, tapi pas liat celenganku ini jadi pingin beli deh.”, sahutnya lagi. Lama-lama jadi mirip Dora.

“Ya ampuuun… bener deh. Pantesan kalian masih SMA. Celengan gambar kodok, tas gambar kodok, pensil unyil. Duh.. Duh..”, Damae geleng kepala memerhati satu per satu belanjaan mereka. Speechless sebenarnya, tapi keunikan-keunikan inilah yang membuatnya betah berlama-lama bersama mereka. Betah untuk cerewet kalau mereka lelet. Betah untuk ngomel kalau mereka bawel. Betah untuk marah kalau mereka membuatnya resah. Barangkali, itulah mengapa ia lebih sering disapa bunda.

IMG_5500“Hahahaha….”, tawa riang Trian diikuti para Selenia yang juga sudah kembali dari kelana mereka di Malioboro. Meski guratan mata dan wajah sangat jelas menyiratkan keletihan, tapi kehangatan ini mampu membuat letih mengumpat. Terbenam dalam bahagianya perjumpaan. Bahkan mungkin, pesan terdalam dari adegan ini mengungkapkan ‘kebahagiaan kopdar Sandal Selen, melebihi kebahagiaan kopdar Blogger Nusantara’.

Terbukti keletihan itu tak mampu membuat langkah meraka gontai untuk menyusuri Malioboro hingga Ngabean, tempat mobil jemputan mangkal. Siapa bisa sangka, di balik jilbab besar Trian, Vivi, dan Hilda, tersimpan power yang melebihi kapasitas normal. Di sisi lain kelembutan Sufyan, kekekaran Fajrul, ketampanan Munif, dan keluguan Roy, terpancar kebesaran tekad dan mimpi tinggi untuk mengukir karya yang tak sederhana.

Itu baru sebagian. Di balik layar Sandal Selen yang kini terkembang di bumi Jogja, ada invisible dan visible hand yang turut berperan.

Maka, menyebut Selenia, Sandal Selen, dan M2Net, berarti menyebut partikel-partikel peradaban baru di dunia pesantren. Peradaban era digital yang sudah dinikmati hampir seluruh manusia di penjuru bumi, tapi baru mengidap sekelompok kecil penghuni planet pesantren. Peradaban yang tak pernah dikira bakal sejauh ini perjalanannya. Peradaban yang, bila dikisahkan bisa menghabiskan sehutan pohon untuk membuat kertasnya.

Lalu, peradaban seperti apakah?

…..to be continue…. w/ jalandamai.com

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Ini Dia Oleh-Oleh ‘Nova Inspiring Day 2013’

Read Next

Ruang Kosong

Facebook Comments

Disqus Comments

damae