Sisi Lain Juguran Blogger Banyumas 2012

Gokil. Satu kata yang paling pas untuk mengenang unforgatable moment Juguran Blogger Banyumas (JBB), 31 Juni-1 Juli 2012 lalu. Betapa tidak, tak sengaja menemukan foto-foto ‘menggemaskan’ yang ‘dicuri diam-diam’ oleh fotografer, terselip diantara dokumentasi Damae Traveling. Tak berniat mengulas kembali, karena postingan sebelumnya sudah merekap kumpulan reportase mereka. Tapi bayangan wajah blogger yang berpartisipasi dalam acara itu, memaksa jemari saya menari untuk mengisahkan ‘sisi lain’ dari serangakaian kolaborasi agenda perdana Blogger Banyumas dan Gerakan Desa Membangun (GDM) itu. Kiranya ada keunikan yang belum terkisahkan, mari kita simak.

***

width=222Traveling, memang salah satu daftar impian yang masih terus saya geluti. Lengkapnya: Traveling Keliling Dunia. Maka menjadi biasa jika saya kerap bepergian seorang diri untuk membingkai setiap jengkal keindahan dimana pun kaki berpijak. Tapi jika jam 7 malam hingga 2 pagi menaiki bus jurusan Bandung-Wonosobo seorang diri, itu baru perdana.

Hanya demi Juguran Blogger Banyumas, saya rela melakukannya. Keadaan memaksa saya harus berangkat dengan kedua kaki, menempuh 8 jam perjalanan menuju desa Kedung Banteng, Banyumas, Jawa Tengah. Setelah panjang lebar berdebat dengan orang tua terkait perizinan, akhirnya bisa lepas landas bermodal jaminan jemputan panitia di perempatan Tanjung, Purwokerto.

Agaknya perjuangan itu belum sebanding dengan blogger DotSemarang (lirik Asmarie). Mereka rela ngeblonek dengan sepeda motor untuk menaklukan Semarang-Banyumas, berbekal puluhan ribu yang habis sebelum perjalanan usai. Belum lagi berbagai rintangan yang membuat mereka berpikir ulang: melanjutkan perjalanan atau memutar haluan (kisah lengkapnya silahkan baca disini).

Tak kalah seru, celoteh keenam pasukan Plat M yang menahan geliat pantat selama 14 jam di bus. Madura-Banyumas memang tidak dekat, terlebih perjalanan selama itu baru mereka alami.      Tapi sekali lagi, demi bisa mensukseskan agenda JBB, mereka antusias dan melakukannya dengan gembira.

Tawa Tawa keluarga blogger sandal selen

Satu perjuangan yang pantas mendapat dua jempol, meski semuanya memang pantas diacungi jempol, ialah semangat blogger santri yang digawangi Komunitas Sandal Selen. Dua perwakilan yang hadir tidak hanya mati-matian memperjuangkan perizinan keluar pondok (diluar masa liburan), mereka juga memfix-kan stamina yang baru saja digempur selama School Outing Program di Jogjakarta, beberapa hari sebelumnya. Meski perjalanan Brebes-Banyumas tidaklah lama, tapi bisa dipercaya untuk keluar pesantren dan mengikuti acara semacam ini merupakan kebanggaan tersendiri. *Jamannya saya jadi santri, boro-boro berani keluar pondok kecuali masa libur lebaran.

Blogger Ngalam,pegiat      J-Goes (Jogja Goes Open Source), Wong Kito Palembang, dan segenap blogger undangan yang hadir dalam acara itu, kiranya tak cukup jika kisah heroik mereka terurai satu persatu disini. Satu hal yang pasti, kawan. Kesempatan bertemu mereka, keluarga besar Blogger Banyumas dan GDM, merupakan kebahagiaan yang tak bisa dirajut dengan kata. Apalagi dilihat dan disentuh.      Ia hanya bisa dirasa dengan hati, dengan nurani.

***

Sebagaimana direportasekan rekan-rekan blogger yang      terkumpul disini, memang boleh dikata sudah terkupas tuntas. Bahkan tulisan tuan rumah yang diposting pada halaman utama situs resmi Blogger Banyumas, sudah menceritakan detail sejak pemasangan banner hingga mengantar peserta kembali ke terminal.

Menyambangi Kedung Banteng yang terkenal dengan Watu Jaranya. Desa Dawuhan Wetan yang kaya akan bibit tanaman juga makanan khas Banyumas-an. Menikmati wifi di desa kerajinan tangan, Karangnangka, yang juga berpotensi untuk peternakan kambing dan sapi perah. Hingga menyinggahi desa minapolitan yang pernah mendapat award tingkat nasional atas usaha pembenihan ikan, yakni Beji. Ialah sebuah gagasan kopdar blogger yang pantas untuk diapresiasi. Kreatif.

Wisata Wisata desa Dawuhan Wetan

Wisata desa ini tak hanya telah membuka mata saya bahwa Indonesia memang      Atlantis. Tapi sekelumit kegiatan diatas juga memberi warna baru pada dunia perbloggeran. Lantaran moment blogger (nasional) yang mayoritas notabenenya berkecimpung di dunia IT ini malah harus melewati jalan desa dan turun ke sawah, melintasi area pembibitan tanaman dan pembenihan ikan, malu-malu kucing saat minum air kelapa tanpa sedotan, keliling desa dengan berdiri di mobil open cab, hingga mengendus bau khas sapi dan kambing di peternakan. Barangkali hal ini hanya terjadi di Juguran Blogger Banyumas 2012.

***

Satu hal yang teramat saya sayangkan: Saresehan di aula UPK Pendidikan Kedungbanteng, terlewatkan.Bukan disengaja sebenarnya, hanya berniat istirahat sejenak di penginapan sebelum acara itu dimulai. Tapi ternyata kebablasan hingga acara selesai.

Kenapa saya sayangkan? Karena hanya disaresehan inilah pakdhe Sawali, akademisi dan blogger kreatif hadir. Saya kehilangan kesempatan menyimak pemaparan pakdhe yang khas dengan senyum manisnya. Juga kesempatan berdiskusi langsung dengan para pakar GDM, perwakilan Gapoktan, serta Pandi yang ikut serta menjadi pemateri. Meski di detik terakhir saresehan masih sempat foto bersama, rasanya tulisan ini tetap kurang sempurna tanpa ulasan agenda itu.

para para pemain kenthongan unyu-unyu

Beruntung malam harinya dihibur oleh penampilan apik adik-adik SD Kedungbanteng. Kesenian Kenthongan, demikian pertunjukan itu disebut. Siswa-siswi yang masih belajar di bangku kelas 3-5 ini tampak semangat dan penuh percaya diri. Puluhan personil lengkap dengan seperangkat alatnya, ditabuh selaras dengan gemulai penari cilik nan cantik dan menggemaskan.

Pak Blontank Poer yang belum lama tiba pun turut merekam pertunjukan di depan gedung serbaguna, kecamatan Kedungbanteng ini. Tak ketinggalan, warga sekitar beramai-ramai melingkari para pemain, demi bisa menyaksikan dari dekat.

Satu ketidaksengajaan yang mungkin tak pantas disebut kebetulan, kostum yang kenakan ketiga penari cilik berwarna sama dengan baju saya malam itu: pink. Hingga beberapa rekan blogger memojokkan saya untuk ikut menari. Overall, kesenian Kenthongan yang baru pertama kali saya lihat langsung menarik simpati. Ya, saya jatuh hati.

***

Agenda paling berkesan bagi saya, ialah mengunjungi situs cagar budaya dan lokawisata Batur Agung. Pernah mendengar istilah Batur Agung dua tahun lalu, namun tak tahu jelas apa maknanya. Hingga rasa penasaran ingin berpijak kesana muncul, saat membaca papan iklan Batur Agung ini banyak terpasang di sepanjang jalan Purwokerto. Terbayarlah penasaran itu berkat agenda JBB.

Situs cagar budaya,      sekilas tampak angker. Memang sejuk dan rindang. Juru kuncinya pun ramah. Tapi hawa benda-benda kuno yang abadi di dalamnya, seolah memberi sinyal aneh yang tak saya mengerti.

melihat melihat benda-benda bersejarah

Tak mau ambil pusing dengan bisikan yang tak jelas, perjalanan berlanjut ke kolam renang Batur Agung. Kecil, memang. Tapi panorama khas desa masih sangat alami. Semua berbicara apa padanya. Sayang sekali aliran sungai Logawa yang menjadi wahana Arung Jeram sedang surut. Meski hal in tak mengurangi nimatnya wisata air yang mengalir langsung dari kaki gunung Slamet. Terbukti, hampir semua blogger pria menceburkan diri ke kolam dan berpuas ria bermain di waterpark ini.

Sempat tertawa menyaksikan mereka meluncur ke air dengan menutup hidung. Juga aksi gokil tangan-tangan usil yang menceburkan Estiko ke kolam, sebagai surprize hari jadinya. Unforgettable moment, kawan.

Sebelum acara diakhiri, sempat terbentuk forum curhat #bloggerjujur sembari menikmati Mendoan dan santap siang. Rupanya, salah satu blogger ada yang sedang mencari pendamping hidup bernotabene santri. Hingga tercetus sebuah ide untuk mengadakan juguran di Pesantren Al Hikmah 2 Brebes, yang digawangi Komunitas Sandal Selen. Dan perkembangan info yang saya terima, ide ini akan direalisasikan pada akhir tahun 2012 ini.

***

Celoteh pun berlanjut dalam perjalanan kembali ke gedung serbaguna. Ada yang masih asyik berkicau, tertawa, bermain gadget, bahkan jeprat-jepret pemandangan sekeliling yang amat memesona.

belalai belalai gajah nyangkut

Namun kisah gokil belum berhenti sampai disini, kawan. Karena telalai mobil animal berbentuk gajah yang mengantar jemput peserta, tersangkut atap Tratag di tengah jalan. Terpaksa semua harus turun dan jalan kaki beberapa ratus meter, mobil animal pun putar arah agar tetap bisa kembali mengantar peserta. Jadilah barisan pasukan blogger dominasi berkaos putih lengkap dengan tulisan Juguran Blogger Banyumas ini mencuri perhatian warga. Benar-benar gokil.

***

Hingga saya berkesimpulan, bukan JBB namanya kalau tidak gokil. Semoga masih akan ada lagi perjumpaan bersama rekan-rekan blogger Banyumas, Plat M, Ngalam, Wong Kito, J-GOS, dkk di kesempatan mendatang.

Salam Blogger, Salam Damai.

Galeri foto-foto seru:

*Foto bersumber dari jepretan teman2. Demi ‘kenyamanan’ Damae kasih watermark pribadi. Bagi yang menginginkan versi ori setiap foto silakan hubungi Damae untuk diteruskan ke pemilik foto. Terima kasih.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

11 Comments

  1. Baca dan tersenyum lagi.

    Selain kehadiran, tulisan-tulisan seperti ini yang membuat kami yang berada di tempat yang harus didatangi dengan perjuangan, tetap tersenyum dan semangat.

    Terima kasih 🙂

    Juga jadi tetep punya alasan buat promo JBB biar gak pada lupa ;D

  2. Hai mbak Wardani… mengunjungi pemilik nama yg mirip diakhirnya…
    Ternyata blogger Banyumas banyak dan seru2 yaaa…
    Saya dulu kuliah di Unsoed. Jadi kangen sama banyumas dan purwokerto.

    1. hai juga mbak Wardhani, hehehe.. iya ko bisa gini ya. 🙂

      makasih kunjungannya.

      iya, banyumas dan purwokerto belum puas diubek2 saya, 🙂

    1. sore, pakdhe sohibul hajat. hehe.. terima kasih kunjungangannya. wah senang sekali bisa kenal dg orang surabaya lagi. surabaynya mana pakdhe?
      hatur nuhun sudah diundang. insyaallah semoga bisa ikut. 🙂

      salam dingin dari bandung, #eh

  3. dari sekoan foto yang ada, fotoku kok ndak ada satu pun, ya, damae, hehe …. sebenarnya saya pingin banget ikutan travelingnya. sayangnya saya tak berdaya utk bisa mengelola waktu dengan baik.

    1. nah itulah dia pakdhe, diatas sudah damae jelaskan kalo damae sangat menyesal tidak bisa ikut saresehan bersama pakdhe. maaf banget ya pakdhe. hehe..
      hayu atuh, kapan kita mau jalan berdua, pakdhe?
      #lho

      🙂

      nuhun kunjungannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *