Simfoni Abah Masruri #4

Waktu terasa cepat sekali berputar. Baru kemarin sore kumasuki gerbang Al Hikmah, beberapa menit lagi aku akan melewatinya lagi. Pulang ke kota asal. Kutatap satu-satu wajah lelah anggota Tim Liputan yang menghambur ke pelukan. Seraya berjalan, satu dua alumni memanggil atau aku yang lebih dulu menyalami. Beberapa diantaranya pun tampak mulai meninggalkan pesantren.

Tapi, sungguh, hati ini berat untuk pergi karena belum sowan pada Abah Sholah, putra pertama sekaligus pengganti Abah Masrur. Dan, tentu saja, Abah Muhklas, sosok penuh wibawa yang mampu menghipnotis siapa pun kala menatap matanya. Aku selalu berdoa semoga keduanya senantiasa sehat dan diberi umur panjang.

Kuyakini, semoga memang demikian, ini bukan akhir kunjungan, bukan pula akhir kisahku dengan pesantren tercinta. “Orang yang menyangka sudah selesai, hakikatnya dia belum mulai.”, kata-kata Gus Itmam kusimpan dalam-dalam. Bangga dengan akhir, bisa jadi justru merusak permulaan.

“Waktu saya di Madinah, diwanti-wanti jangan nikah sebelum sandal dari besi karatan.”, kelakar Gus Itmam membuat langkahku mantap melewati gerbang. “Baik, Gus, aku tidak akan pernah merasa puas untuk belajar.”, ujarku di dalam hati, seraya menyapa para Satpam.

Kusemogakan pula, Al Hikmah tidak akan mati meski abah meninggalkan kami.***

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*