Simfoni Abah Masruri #3

Kucari jawabanya dengan menelusuri jejak Abah Masrur, sapaan akrabnya, di jalan yang biasa Ia lalui. Jalan menuju masjid, GOR, sekolah, hingga radio. Kalau diitari, kawasan sekira 10 hektar ini cukup bikin kaki pegal. Tapi aku mengerem langkah tepat di samping radio. Rumah salah satu putra yang sempat menemani Abah di detik-detik terakhir (masa hidupnya). Gus Itmam.

Beberapa cangkir teh dan aneka kue tampak tersisa di atas karpet yang tergelar di teras rumah. Pertanda beberapa tamu baru saja pergi. Sebelumnya kulihat parasmanan di garasi sepi. Tadi pagi memang terdengar pengumuman alumni dipersilahkan sarapan di sini. “Ee.. Damae.. Damae.. Sini-sini duduk, Mae.”, sapaan ramah Gus Itmam melebarkan senyumku.

Ini kesempatan emas untuk berkisah empat mata. Tak peduli sesedikit apa waktu yang kupunya sebelum tamu kembali membanjiri. Informasi dari abdi ndalem (santri yang juga menjadi asisten rumah tangga, pen), rombongan alumni dari Jakarta akan segera tiba.

“Gus, apa sebenarnya makna haul itu?”, kumulai bertanya.

“Haul asal katanya kan ‘tahun’, pengulangan tahun, atau peringatan tahun”, ia berbicara dengan duduk bersila. Menurutnya, haul ini bagian dari tadzkiroh lil maut, mengingatkan akan datangnya kematian. Dengan mengingat wafatnya Abah, paling tidak mengingatkan pula pada sosok dan kebaikan Abah. Tentu tujuan akhirnya agar kebaikan itu bisa ditiru dan diamalkan.

Saat ditanya apa yang paling berkesan dari sosoknya, Gus Itmam menahan sembab di mata. “Banyak sekali.”, ia menghela napas. “Saya ingat waktu Abah di rumah Syekh Ahmad, abah di suruh di depan. Kata abah: saya itu apa, saya nggak pantes di depan. Disini saja lagi mengabdi. Orang-orang yang di depan itu kan.. nah itulah abah sangat rendah hati.”

Ia melanjutkan cerita. “Sebelum beliau masuk rumah sakit, malam Jumat, saya ngomong jadwal abah sowan ke guru saya nanti malam Sabtu. Ternyata malam Jumatnya abah masuk rumah sakit. Hari Minggu abah sudah..”, ini cukup menjadi bukti bahwa abah punya semangat yang sangat tinggi untuk mendatangi orang berilmu, bahkan hingga akhir hayatnya.

Selama ia menjadi putra abah, pernah dengar abah berkata sakit itu hanya sekali. Ketika perjalanan dari Mekah menuju Madinah. Abah solat dzuhur sambil menunggu Gus Itmam. Setelah sampai di Madinah dan bertemu dengan Gus Itmam, barulah abah bilang kalau selama menunggu tadi dadanya terasa sesak sekali.

Jawaban abah saat Gus Itmam bertanya mengapa tidak memberitahu sejak tadi, “Aku dikasih sakit paling cuma seminggu. Dikasih sehat sudah bertahun-tahun.”. Gus Itmam melafalkan itu seolah-olah abah benar-benar di hadapannya.

Satu pesan terakhir abah yang selalu Gus Itmam ingat, “Aku titip iman ning atimu (aku titip iman di hatimu, pen)”. Iman di hati itu, lanjutnya, maknanya dalam dan luas sekali.

Meski banyak kisah yang masih ingin kudengar, aku terpaksa pamit saat beberapa tamu melewati tangga depan rumahnya. Gus Itmam pun buru-buru mengangkat buah hati yang sedari beberapa menit lalu tertidur di pangkuan, lalu memindahkannya ke dalam rumah.

Aku kembali berjalan. Tanah yang dulu hijau dipenuhi semak ilalang, hari ini sudah disulap jadi gedung-gedung menjulang. Hampir tak tersisa. Menapaki setiap jengkal bumi Al Hikmah ini, kembali terngiang penjelasan Gus Itmam. Bagaimana abah bisa membangun pesantren sebesar ini?

“Berangkat dari realita dan ingin menyelesaikan masalah lewat media pendidikan.”, kata Gus Itmam. Seperti abah mendirikan Akademi Perawat (Akper), tuturnya, lantaran melihat sebuah kenyataan di rumah sakit. “Perawat kok tidak ada yang bisa men-talqin mayit.”, keluh abah.

Tidak beda dengan rencana abah membangun SMP dan SMA. Abah mengkhawatirkan bagaimana nasib pendidikan di masa depan jika dipegang orang non-muslim semua. Meski sempat ditentang keluarga dan banyak pihak, abah tidak gentar. Nyatanya, hari ini sekolah bisa berjalan siang hari, malamnya bisa dipakai pembelajaran pesantren. Itu bukti bahwa, “Abah sekarang berbicara tapi terjadi 10 tahun yang akan datang.”

Lalu bagaimana abah mengatasi pertentangan dengan orang lain? “Dengan sabar dan tawakal, tentu setelah kerja keras.”, jawab Gus Itmam.

Terlebih, abah mencontohkan dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan) itu dengan merangkul semua kalangan. Tidak membeda-bedakan, semua diperlakukan sama. Itulah yang membuat abah sangat dekat keluarga, santri, lingkungan, bahkan orang yang belum kenal pun merasa nyaman bersamanya.

Ketika ditentang atau pun dicela orang, abah tidak pernah marah apalagi membalas. Abah cukup memahami bahwa “Ketika dicela orang, itu hakikatnya diri kita yang dikoreksi lewat orang lain oleh Allah.”, terang Gus Itmam. “Pantas saja kami semua begitu mengagungkan sosok Abah”, gumamku.

Hal ini selaras dengan penjelasan Habib Umar, penceramah dari Semarang yang sengaja diundang dalam haul kali ini, “Saluran air tidak dapat lancar kalau ada kotoran. Makannya kotorannya harus diangkat agar salurannya bisa lancar lagi. Kotoran itu dosa. Makannya istighfar”.

Hakikatnya, semua masalah itu terjadi karena manusia punya banyak kotoran. Istighfar, memohon ampun pada Allah, adalah cara terbaik untuk mengangkak kotoran itu. Masuk akal kiranya jika abah menganggap pertentangan dan celaan orang sebagai koreksi dari Allah.

Pas sekali. Moment haul ini bertepatan dengan tahun baru Islam. Pergantian tahun yang menandakan tutup buku amal manusia, diganti buku baru untuk satu tahun ke depan. Saat yang tepat untuk memohon ampunan pada Allah dan meminta keberkahan hidup di tahun berikutnya.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*