Sesingkat Jalan yang Tersesat

Mulai besok, tak usah lagi ada sapaan Papa. Panggil saja namaku, Rangga.

Hanya sesungging senyum pahit yang bisa terbaca dari wajahku saat permintaan itu terlontar. Sungguh, itulah kalimat yang selama ini kutunggu. Kau yang meminta sapaan Papa-Mama      diikrarkan, kini kau pula yang mencabutnya.

Adakah hal yang disembunyikan? Sekecil apa pun itu, tolong sampaikan jika kejujuran itu titik akhir perbincangan kita selamanya. Papa tak kan marah, hanya saja ingin menutup obrolan itu di hari ini. Tak kan lagi perbincangan mengenai hal itu terdengar di telinga. Salahkah kalau papa meminta sebuah penjelasan?

Semakin sesak saja rongga dada ini. Kembang kempis paru-paru seolah mempercepat tarikan napas, tanpa basa-basi dulu sebelumnya. Perlahan kuhirup, kutahan, dan kuhembuskan lagi udara yang sejatinya tak lagi murni. Sangat terasa, bukan oksigen yang akan berproses di badan, melainkan racun pembunuh yang terampuh.

Kenapa mama diam? Tak bisa menjawab pertanyaan papa? Atau sedang berpikir alasan apalagi yang akan mama pakai?

Duh, Gusti     Hukum aku seberat kesalahan dan kekhilafan ini. Pandai sekali Kau ciptakan makhluk, terutama makhluk yang paling cerdas mengoyak hati seseorang, hingga sakit hati orang lain itu seolah langganan akibat pertemanan, pun persahabatan.

Asal mama jujur, papa juga tidak akan marah. Percuma marah juga. Tak mungkin lebih dari tiga hari pula. Papa hanya kecewa, ma. Kecewa sekali melihat kenyataan itu. Dan mama tentu tahu kalau kekecewaan yang pernah menggores luka dihati itu membekas selamanya, ma. Itu yang papa rasakan

PYARRRRR!!! SHIIIIIITTTTTTT!!! BREUGGGGG!!!! PRANGGGGGGGG!!!!

Remuknya hati ini jauh lebih sakit dari hancurnya mobil detik itu juga. Alam seolah tahu dan sangat paham gejolak jiwa setiap manusia. Tak kumengerti mengapa peristiwa maut itu terjadi saat rasa terpahit sedang mencekik kerongkongan. Yang kutahu, pastinya, aku tak lagi sealam dengan manusia biasa.

###

Hapus air matamu, sayang. Ibu teramat memahami apa yang Dinda rasakan. Tapi basahnya pipi manismu justru menjadi kesedihan yang tak terupiahkan jumlahnya, untuk Rangga. Ikhlaskan, sayang. Mohon ikhlaskan. Relakan dia beristirahat dengan raut senyum bahagia dari palung hatimu. Ingatlah, Allah pasti memiliki rencana terindah untuk kalian berdua

HANCUR    

Tiada kata yang lebih tepat untukku saat ini, kecuali HANCUR. Langit seakan runtuh, bumi seolah membabi buta dengan isi perutnya. Kutub utara mencair, membanjiri seantero dunia. Tak berani lagi mentari tersenyum, yang ada hanyalah air mata langit terderas sepanjang usia. Penyesalan yang teramat dalam, bahkan kelumpuhan yang kini kuderita pun belum cukup menebus dosa untuk ketulusan dan kesucian cintanya.

Hebat sekali skenario hidup ini ya, bu. Belum genap tiga bulan Dinda mengenal Mas Rangga, tapi alur kisah bersamanya seolah telah terukir jauh sebelum Dinda lahir. Luar biasa.

Hiks..hiks..

Sayang, dengarkan ibu, nak. Ikhlaskan semua peristiwa ini, mohon ikhlaskan.

Bagaimana cara Dinda mengikhlaskan, bu? Bagaimana caranya?

Hiks..hiks..

Duhai Pemilik Hati, mohon beri petunjuk hati yang tak lagi suci ini..

Kenapa, Ya Allah..

Kenapa Kau ambil dia dengan membawa segumpal kecewa? Kenapa Kau tak beri aku kesempatan terakhir tuk menjelaskan? Kenapa, Ya      Allah    ?

Mas Rangga, meski sejuta maaf Dinda ucap sekarang, memang tak lagi ada artinya. Bahkan segudang penjelaskan yang telah Dinda siapkan pun tak kan berguna lagi. Kecewa yang teramat dalam itu, benar katamu, Mas, akan terbawa hingga maut memisahkan kita.

Sebelum Dinda pergi dari rumah terakhirmu ini, tolong izinkan Dinda memenuhi permintaan terakhir Mas Rangga untuk menjelaskan semua itu.      Tak perlu berurai panjang,      Dinda hanya ingin berkata bahwa pertemuan dan perpisahan kita yang belum genap seperempat tahun ini seperti mimpi yang hingga kini belum Dinda pahami apa maksudnya. Satu hal yang Dinda yakini, Dinda salah jalan untuk mengantar kesembuhanmu. Dinda salah cara untuk mengantarmu menikmati kebahagiaan sejati. Ya, Dinda salah. Tapi perlu Mas camkan, tak setitik nila pun yang merusak ketulusan hati ini untuk menyayangimu. Meski itu semua bukanlah cinta yang Kau damba. Maafkan Dinda..

DARRRRRR!!

Guntur kian menggelegar. Tetes demi tetes air mata langit turun perlahan. Alam benar-benar mengerti isi hati ini. Tak peduli cacat seumur hidup seolah mencekik masa depan dan segudang impian. Selagi alam masih bersahabat, cukuplah indahnya pelangi membelaiku selepas hujan nanti berhenti.

width=169

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Apa Kabar, Pelangi?

Read Next

Pinta Intan

Facebook Comments

Disqus Comments

damae