Serpihan Kenangan

Akhirnya. Kini aku memiliki alasan untuk menghentikan air mata. Air mata yang genap 36 bulan ini, selalu tumpah untukmu.

Aku pun tahu akhirnya memang ada alasan darimu untuk pernah mencintaiku. Karena kini terucap dari bibir manismu, alasan untuk meninggalkanku. Kukira drama “aku tak punya alasan untuk mencintaimu, aku pun tak punya alasan untuk melepasmu” itu sudah tamat.

Tak apa kau sebut aku gadis bodoh. Tak apa kau bilang aku makhluk tak berotak. Toh, sepertinya memang aku selalu berpikir dengan hati. Aku selalu mengandalkan intuisi. Hingga teronggok di kubangan lumpur rasa yang menjijikkan pun, sering tak kusadari.

Gadis mana yang tak pantas disebut bodoh bila, sudah ribuan kali dicabik tapi tetap saja menyuburkan rindu. Gadis mana yang tak tolol jika, sudah jelas lelakinya menikahi gadis lain tapi tetap saja berharap dia kembali. Gadis mana yang tak goblog, bila sudah dikoyak, dihina, bahkan diusir perlahan sampai paksaan, tetap saja setia berdoa untuk kebahagiaannya. Gadis mana?

Itulah mengapa kubilang kau pantas merutukiku.

Asal kau tidak lupa. Asal kau tidak lupa kalau kisah kita mengajariku jadi gadis perkasa. Aku tidak mau bilang: akan tiba masa kau berlutut untuk menebus semua penghinaanmu; karena aku bukan penunggu masa. Tapi kutegaskan kalau aku sedang berusaha melunasi kebodohan, ketololan, kegoblogan, juga ketakberotakkanku mulai detik ini.

Aku sedang berusaha menguliti hati. Menyapu debu, menggosok kerak, juga mengelap keburaman yang menggelapkan hati. Aku sedang berusaha mengikis semua asa yang pernah melambungkan mimpi. Aku sedang berusaha membunuh rasa yang tak seharusnya ada. Aku sedang berusaha mengganti semua sparepart hati hingga tak ada lagi sisa derita yang menggurita.

Aku sedang berusaha.

Meski di setiap peluh yang kuusap di sela proses itu, kusadari kebodohanku yang paling bodoh: sungguh, betapa aku terlalu cinta. Untung kau, selalu meneriakiku lagi, bagimu namaku sudah ber-abu!

Dan, hari ini kuserpih semua kenangan yang terbingkai rapi di dasar hati. Serpihan yang menyakitkan. Kupotong seluruh bagian dengan pola memanjang. Lalu kubagi jadi kecil-kecil tak beraturan, hingga serbuknya menyerpih dan memberai. Setelah itu? Kutabur di bawah karnaval hujan.

Satu per satu potongannya basah. Berjalan mengikuti arah hilir genangan. Sampai selokan ia terparkir, dari belakang cepat menyusul potongan lain. Semua teronggok di sana: partikel wajah kita yang ternyata dipaksa sebingkai, meski keduanya jelas beda ruang dan waktu.

Aku membatin. Tak pernah kupinta tawa kita kan menyisakan luka. Tak pernah kusangka senyum kita kan terkulum hujan sayu. Tak pernah kuduga kan begini akhirnya.. Hatimu, cintamu, firasatmu, mimpimu, janjimu, impianmu.. Terang sudah. Bukan aku.

Selamat tinggal, serpihan kenangan.

beli otak

Thanks to Chilo.

Pictures were taken by Damae.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

1 Comment

  1. begitulah akhirnya…. penyeslan tiada guna,,, mulailah lmbran bru dn brhti2 lah mmlih psangan hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*