Sepasang Sepatu Usang

“Hiks..hiks..” sesudut suara lirih terdengar perih. Celingak-celinguk kepalaku mencari sumbernya. Aha! Itu dia. “Kita tidak berguna lagi” berat bibirnya perlahan berucap.
Lekuk wajahnya persis jemuran yang belum disetrika; muram. Seakan hembusan napas yang tersisa hanyalah sia-sia; suram. Derasnya air langit menjadikan mendung tak berpindah dari atas kepalanya, sama derasnya dengan air dari sebalik kelopak mata yang menyedihkan itu; kelam. Rona pipinya seketika menghilang bersama duka yang tak tahu jalan pulang; geram.
“Si.. siapa bilang kalian tidak berguna lagi?” aku tak yakin itu pernyataan atau pertanyaan.
Mereka bak pinang dibelah dua. Sepasang jumlahnya. Terongok menggigil di tepi tumpukan sampah. Terciprat kecipak hujan yang belum menyatu dengan tanah. Kusut, belel, penuh bekas jahitan di sekujur tubuhnya. Muka bawahnya agak menyembul keluar. Tempelan debunya sekira dua senti, menyusup ke pori-pori. Wajahnya sayu, kerutan pipi membuat kedua paras itu tak lagi ayu.
“Tuan kami.. Tuan kami..” jawab yang kanan terputus-putus. Meski keduanya benar-benar kembar, tampaknya si kanan ini agak lebih bersih dari yang kiri.
“Tuan kalian kenapa?” tanyaku lagi.
“Tuan kami.. Melempar kami kemari.. Hiks..hiks..” sahut si kiri. “Iya, kami sudah tidak bisa dipakai lagi. Kami jelek, rusak, dan tidak berguna lagi. Hiks..” yang kanan menambahi.
“Pasti sebentar lagi kami akan dipungut bersama sampah-sampah ini, atau dibakar, atau di.. Hua-aa-aa-aa..” tangis si kiri pecah diikuti si kanan. Mengeras, kian keras, kian deras.
Tak ada yang bisa kulakukan. Selain membungkukkan badan, merangkul mereka dan menarik plastik bekas sampah untuk memayungi mereka. Berkali-kali kuusap air mata, tetap saja tangis mereka tak reda. Diantara kebingungan apa yang harus kulakukan, beberapa pertanyaan lain mendadak mendesak ingin ditanyakan.
“Kalau boleh Angin tahu, siapa tuan kalian?” hati-hati sekali aku bicara. Takut membuat keduanya kian menderita bila mengingat pemiliknya.
“Tuan kami tidak punya nama.” jawab si kanan singkat. “Dia tidak bisa bicara, tidak juga mendengar. Tapi ia punya penglihatan dan penciuman tajam, serta bisa berlari secepat kilat.” si kiri mendeskripsikan.
“Benarkah?” aku sering menemukan manusia sesuai penjelasannya, tapi kalau tidak punya nama.. agak aneh.
“Orang-orang memanggilnya Si Copet.” si copet? “Ya dia memang tukang copet. Saban hari naik-turun bis dan metromini, kadang mangkal di pasar.” si kanan menjelaskan.
“Copet? Terus kenapa.. kalian menangis? Bukankah harusnya bersyukur kalau lepas dari jeratan pencopet?” aku masih belum mengerti.
“Justru di-kaki-nyalah kami merasa berguna.” si kiri menatapku tajam. “Maksudnya?” duh, tambah tidak paham.
“Berapa pun yang ia dapat dari mencopet, selalu ia berikan pada anak jalanan yang saban hari diperas para preman. Sebagian ia sisihkan untuk membeli buku dan mainan, agar anak jalanan bisa belajar disela kerja rodi.” lanjut kiri.
“Tak kenal panas maupun hujan. Tak tahu lelah, sakit, bahkan terluka. Ratusan kali dipukuli orang, tiga kali dipenjara, ribuan kali dicaci, dimaki, dihujat, diusir, bahkan menjadi buah bibir dimana pun ia singgah. Tetap tak melunturkan tekadnya untuk terus berbuat baik pada anak jalanan.” si kanan berbicara sembari menerawang gelap awan.
“Tapi.. Apa artinya berbuat baik kalau..” aku ragu hendak meneruskan. “Kalau uangnya diperoleh dari mencopet?” aish.. keduluan si kiri. “I..iya,” aku tidak ingin mereka marah.
“E..e..e.. Mau dibawa kemana ini? E..e.. Angiiiin, tolooonggg!” saking asiknya ngobrol, sampai tidak sadar kalau ada pemulung yang sudah mengangkut seisi tong sampah. Tak luput dari pandangnya meski sudah kututupi plastik, kedua sepatu itu pun disambar lalu dilempar ke gerobaknya. “Apa yang harus kulakukan?”
“Dia sudah ribuan kali cari kerja, tapi selalu ditolak sama manusia. Kalau dia tidak bergegas untuk mendapat banyak uang, bisa jadi puluhan anak jalanan jadi mayat saban malam. Jangan tanya soal ketrampilan apalagi pendidikan, seorang yatim piatu yang dibuang sejak lahir masih bernapas sampai detik ini saja sudah luar biasa.
Itulah kenapa kami ingin terus bersamanya. Mencopet memang tidak halal, tapi ketulusannya untuk terus berbagi, melindungi, dan bermanfaat untuk manusia yang membutuhkannya itu.. Yang kami tidak dapati dari tuan-tuan lain.”
Aku bengong mendengar teriakan si Kanan dari atas gerobak sampah. Perlahan kian samar, menjauh, hingga sayup tertelan jalan. Pemulung pun melaju lebih kencang. “Apa yang bisa kulakukan untuk sepasang sepatu itu?”.

Tulisan ini kudedikasikan untuk sepasang sepatu usang pemberian kakak. Terima kasih telah menemaniku sejak usia 13.

sepatu usang
Source: Here

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Tidak (Iya)

Read Next

Sempurna

Facebook Comments

Disqus Comments

damae