Sekuntum Mawar di Tepi Jurang

Sudah tiga hari kamu tersungkur begini. Mengunci kamar. Bukankah lebih baik kamu menguras saldomu untuk beli tiket, beli makanan, beli make up, beli baju, atau mentraktir teman-temanmu?

Ayolah….

Setidaknya usap dulu air matamu. Mandilah, dan turun ambil makan. Kamu butuh tenaga untuk terus memeras tangismu.

Hm. Kamu bilang sendiri kalau masih ada banyak hal yang harus kamu lakukan. Kenapa malah membiarkan tubuhmu tak berdaya begini? Kalau bukan dirimu sendiri yang mencoba bangkit, siapa lagi yang bisa membuatmu bertahan hidup?

Aku tahu itu tidak gampang. Mengamputasi perasaan yang terlanjur tumbuh, sama seperti mencabut pohon sampai ke akarnya, secara paksa. Ada lubang tanah bekas akar yang menganga di sana, ibarat luka yang masih basah dan perih. Tapi bukankah kamu sendiri yang selalu bilang kalau tidak ada hal yang kamu miliki di dunia ini, kecuali keyakinan? Kenapa kamu tidak yakin kalau lubang tanah itu akan tertutup, entah oleh debu yang dibawa angin pelan-pelan, bencana longsor yang mampu mengurug sekaligus, atau seseorang akan datang membawakan sebongkah tanah dan menutupkannya ke dalam lubang akar itu sembari menumbuhkan benih baru. Percayalah, luka itu akan mengering, perih itu akan berhenti, dan bekas luka pun akan menghilang.

Jadi, untuk apa kamu mengorbankan diri seperti ini? Toh, dia tidak akan pernah melihat pengorbananmu, kesakitanmu. Dia bahkan tidak peduli lagi dengan hidupmu. Sadarlah kalau semua ini sia-sia. Harus sekasar apa lagi kalimatku untuk membuatmu bangun?

Aku tahu, Angin. Kamu tidak perlu meneriakiku begitu.

Huhft.. Terus aku harus bagaimana agar kamu bisa bangkit dari tempat tidur ini?

Aku hanya butuh waktu, Angin. Semua ini berjalan terlalu cepat. Aku masih merasa berat, sangat sulit menerimanya.

Hm.. Puk puk puk..

Semua perkataanmu benar. Aku pun yakin kalau aku mampu melewati ini. Tapi sekarang masih terasa sangat berat. Kamu bisa bayangkan, di saat aku mendaki gunung dan mengira satu langkah lagi akan tiba di puncak, tiba-tiba kakiku terpeleset dan aku terperosok ke jurang yang sangat dalam, sendirian. Berkali-kali aku mencoba keluar dari jurang itu, aku menambatkan tangan ke tepian, mencoba mendaki lagi, tapi kubangan lumpur tempat kakiku berpijak terasa sangat licin, jemariku pun sangat lemah untuk menopang tubuh. Setapak naik, dua tapak turun. Begitu seterusnya. Itulah kenapa aku memilih sejenak diam di tempat. Bernapas, mengumpulkan sisa energiku, mencoba memikirkan rencana, sembari terus meyakinkan diriku kalau aku bisa keluar dari jurang itu.

Andai aku bisa mengulurkan tanganku untuk kau genggam, aku akan mengangkatmu dari dasar jurang itu.

Sayangnya, wujudmu saja tidak mampu kulihat, bagaimana aku bisa menggenggammu, Angin?

Itulah. Makannya kubilang “andai”.

Kau tahu, ini mengingatkanku pada dongengnya tentang sekuntum mawar di tepi jurang. Dia bilang, jika perempuan diibaratkan mawar di tepi jurang, pria yang akan memetiknya harus siap menanggung risiko kalau mungkin ia terpeleset dan terjatuh ke dalam jurang. Karenanya, pria itu harus punya nyali yang kuat dan keberanian yang besar. Sayangnya, di dalam kisahku, ketika pria itu hampir selesai memetik sang mawar, sedikit lagi tangkai mawar patah dan ia bisa mengambilnya, ternyata pria itu justru melihat bunga yang tampak jauh lebih indah dari sang mawar, ia berpindah untuk mengambil bunga itu dan meninggalkan mawar. Pada saat yang sama, tangkai mawar benar-benar patah lalu jatuh ke jurang. Dan, mawar itu adalah aku, Angin.

Oh my God! Jadi sejak awal dia sudah tahu kalau kisah ini bakal sad ending?

Tentu saja tidak. Dia hanya mendongeng soal keberian yang harus dimiliki si pria jika ingin memetik sang mawar di tepi jurang. Sisanya, analogiku saja.

Huhft.. tragis. Kalau begitu, biarkan aku membawa mawar itu ke tepian jurang, semoga ada seseorang yang akan menemukan dan mengambilnya nanti.

Tidak perlu, Angin. Sebelum ada yang menemukan, mungkin mawar itu sudah lebih dulu layu dan mengering. Lagi pula, aku tidak mau menjadi barang pungutan.

Lalu bagaimana nasib sang mawar?

Bukankah yang dipetik hanya sekuntum bunga mawar? Itu berarti pohonnya masih tegak berdiri di tepi jurang. Biarkan sekuntum mawar itu menyatu dengan jurang, tapi aku harus jadi pohon mawar yang kokoh, tak mati diterjang angin, hujan, badai, dan panas tanpa pelindung. Hingga kelak pohon ini akan berbunga lagi, sekuntum mawar yang cantik, bahkan bisa jadi lebih cantik dari mawar yang jatuh sebelumnya. Tapi aku harus memastikan, pria yang akan memetiknya suatu saat nanti, adalah pria yang benar-benar hanya mencintai mawar, setulus hati. Tak peduli sebanyak apa pun bunga lain yang lebih menarik di sekitarnya, ia hanya tertuju pada satu mawar itu.

Pasti. Kelak, pria itu benar-benar akan datang. Sekarang, anggap saja kamu sedang membayar harga yang sangat mahal untuk mendapatkan kedewasaan dan kebijaksanaan ini. Bersabarlah. Mari terus percaya kalau di depan sana akan ada kisah yang happy ending, meski entah kapan.

Iya. Selalu. Yakin saja dulu. Percaya saja dulu. Sisanya, dijalani, dinikmati, disyukuri.

Nyaman sekali di telinga. Jadi, mau mandi sekarang?

Sebentar lagi. Tolong beri aku waktu sebentar lagi.

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Pemberhentian

Facebook Comments

Disqus Comments

damae