Samudera Kata di Kereta

Seperti menyingkap tirai langit: menyemai senja, melarik malam, hingga bermanja dengan romansa pagi; lengkap tersaji di kereta ini.

Bila kebanyakan penulis memilih kafe bernuansa pitch, ditemani senandung artis manca papan atas. Agaknya seleraku sedikit berbeda. Entah karena aku belum layak disebut penulis, atau memang sesuatu yang nyleneh itu ‘aku banget’. Bagiku, tak ada yang lebih eksotis ketimbang menulis di dalam kereta.

Butuh alasan? Sebagai penguat logika, mungkin iya. Tapi soal ‘selera’ kadang justru buntu dari kata ‘mengapa’. Sama seperti saat ditanya: mengapa aku lebih suka sambal terasi ketimbang sambal tomat? Jabaran rumus masakan pun, endingnya merujuk ke ‘rasa’. Nah, anggap saja rasa = selera.

Tapi, tenang. Paling tidak aku punya mindmap yang bisa menjadi bahan pertimbangan. Pertama, sebelum naik kereta aku harus berkejaran dengan angkot, lampu merah, dan semua kendaraan yang memaceti badan jalan.

Ke dua, sampai di stasiun, aku harus mencetak tiket di ‘mesin kuning’, diperiksa petugas, dan tarik napas di ruang tunggu. Ke tiga, ketika ada pengumuman keretaku datang, aku bergegas tanya petugas: di sisi mana aku harus berdiri sesuai gerbong tempat dudukku? Aku ke situ.

Ke empat, antri memasuki kereta, lalu mencari nomor kursi sesuai keterangan di tiket. Durasi ini, hanya akan ada dua ekspresi. Sumringah dapat posisi tepi jendela, atau berusaha tetap sumringah meski duduk di batas sisi.

Ke lima, penasaran menanti siapa kawan seperjalanan yang duduk di sampingku, atau justru ber-puh panjang. Lantaran ternyata tadi sempat bertabrakan di puntu masuk stasiun dan tak sengaja duduk bersebelahan di ruang tunggu.

Ke tujuh, tarik napas lalu hembuskan, baca doa perjalanan, dan tersenyum menyambut putaran pertama roda kereta. Pastikan aku sudah berkenalan dengan kawan depan dan sebelahan.

Ke depalan, inilah awal petualangan: buka tablet, slurppp aroma toilet, nikmati backsound tuuut..jesss..triiit..gruuung..wuuung.., ditambah tangis bayi dan rumpian tetangga kursi. Satu lagi, tengok jendela kanan kiri; konsentrasi dan jemari siap menari.

Terbayang, kan? Seisi kereta menjelma samudera kata. Namanya samudera, adakah terdengar kering? Bahkan segala aliran sungai, pantai, dan laut bermuara di sana.

Itulah asiknya menulis di dalam kereta.

*Seperjalanan kereta Mutiara Selatan, Bandung-Surabaya.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*