Sahabat-Sahabatku

Harusnya kutulis Senin kemarin. Sayang, begitu sampai kosan, drama sakit perut melumpuhkan tenaga. Bahkan esoknya aku bedrest seharian. Gara-garanya sepele, sob. Senin sore aku terlalu bahagia bersama keempat sahabat, sampai lupa kalau nafsu makan bakso bareng mereka sudah luber.
Bayangkan, sore itu kami menghabiskan dua panci (ukuran sedang) bakso dan mie kreasi Butet dan Umi. Baksonya sih, enak. Aku juga melahap tiga piring (berdua sama Chilo). Tapi mie dan cabainya itu mendadak bikin perut berontak. Parahnya lagi, sedari pagi aku belum ketemu nasi. Lambung jelas makin limbung begitu ditodong kuah panas pedas!
Eniwei, aku nggak nyerah, kok! Semenyiksa-menyiksanya sakit perut itu langsung tergilas bahagianya kumpul bareng sahabat. Aku jadi tahu kalau model potongan rambutku ternyata persis banget sama Wiwid. Aku jadi ngrasain sumpeknya kosan baru Butet yang sampahnya berserak di mana-mana, sampai butuh dua orang (aku dan Chilo) buat nyapu. Aku juga lihat video lucu keponakan Senja, sekaligus sadar kalau Senja udah pantes jadi ibu.
Dari semua nama itu, si Chilo yang paling dekat sama aku. Dia yang sering nginep di kosanku, sering ngerjain tugas bareng, kemana-mana bareng, makan-masak bareng, curhat bareng, nangis bareng, ketawa bareng. Mungkin karena banyak kesamaan antara aku dan Chilo, jadi kedekatan kita lebih dari yang lain.
Yang paling bikin heboh, aku nyaksiin aksi Si Butet masak bareng Si Umi. Hampir bikin dapur roboh. Apalagi kalau Butet disentil dikiiit aja, meledaklah emosinya! Di titik itu, aku, Chilo, Wiwid, dan Senja, justru ngakak dan makin jail. Cuma Umi yang anteng, sekalinya keluar kata, lebih puedesss dari sambel.
“Si Butet masih jadi mahasiswa aja segini joroknya. Gimana nanti kalo jadi ibu rumah tangga? Mending kalau punya pembantu, kalau suaminya cuma supir taxi?”
“Pagi-pagi suaminya berangkat kerja, Butet belum bangun. Siang ditelepon lagi nonton anime. Malemnya, suami pulang pengen istirahat, Butetnya asik donlot pilem.”
“Pas nikah tuh mas kawinnya kartu unlimited internet. Butet juga nggak minta nafkah yang banyak, asal suaminya nggak minta dimasakin”,
Kelakar itu terus berlanjut sampai perutku munyel-munyel. Ngakak sejadi-jadinya. Sambil ngebayangin apa yang bakal terjadi 5 tahun lagi sama 5 orang ini? Ngebayangin bisa kumpul lagi sambil gendong anak masing-masing. Ngebayangin siapa yang paling duluan nikah. Siapa yang hidupnya paling mapan. Sampai kaya apa wajah suami masing-masing?

Ingatanku langsung melesat ke sahabat-sahabatku dari SD sampai SMA. Apa kabarnya mereka hari ini? Di mana mereka sekarang? Lama sekali aku nggak kontak.
Jaman SD, aku punya Tiga Serangkai: Anisa (badannya lebih kecil dariku), Maryatun, dan Solihatun (dipanggil “Sol”). Mereka bertiga sudah seperti keluargaku sendiri. Tiga sahabat paling setia yang mau berteman sama aku, ngebela aku kalau aku diejek, dan mau ngebantu kalau aku kesusahan.
Rumah mereka lumayan jauh dari rumahku, apalagi dari sekolah. Kurang lebih 30 menit jalan kaki. Saban pagi mereka menyusuri jalan becek, sering sepatunya dilepas karena takut kotor, dari rumah sampai sekolah -pulang pergi. Tanpa sepeda, tanpa diantar. Selalu bertiga. Semuanya memang berasal dari keluarga sederhana. Tapi semangat belajar mereka, salut!
Kabar terakhir yang kudengar hampir setahun lalu, Sol sudah menikah dan punya anak. Maryatun jadi TKW di luar negeri. Anisah bekerja di toko, kalau tidak salah, sudah menikah beberapa bulan lalu. Aku? Ah, aku iri sama mereka, sob, masih jadi tanggungan orang tua. Yang jelas aku rindu sekali sama mereka.
Satu lagi sahabat yang masih kuingat, Nikmah namanya. Rumahnya jeda 2 rumah dari rumahku. Dekat sekali. Sayang, dia amat pemalu. Tapi dari semua kawan di SD, dia yang paling dalam ilmu agamanya. Tampaknya begitu. Jilbaber, santriwati, cantik pula. Meski sifat pemalu itu mengurungnya di rumah. Selepas SMA, dia tidak beraktivitas selain di rumah dan pesantren. Itulah kenapa kedekatan rumah kami tidak membuatku dan dia sedekat saat sekolah dulu.

Di SMP, ada satu orang yang selalu kurindukan. Dhery namanya. Cewek tomboy baik hati. Kulitnya sawo matang, rambut keriting tergerai, mata bulat, tubuh gempal (sekira 60 kg jaman SMP). Dia satu-satunya siswi yang mau berteman sama aku saat semua orang menjauhiku. Saat semua kawan cewek membenciku hanya karena aku disukai cowok paling cool di sekolah. Padahal aku malah nggak tahu apa-apa.
Dhery yang selalu baca puisi-puisiku. Dhery yang selalu nemenin aku duduk di bawah pohon depan kelas, baca buku di perpus, atau jajan di kantin; waktu istirahat. Dhery yang selalu nyemangatin aku buat tetep tegar. Nyuruh aku cuek sama siapa pun yang ngejek. Dan, jadi orang yang paling bahagia waktu aku jadi juara umum di sekolah.
Sayang, aku kehilangan kontaknya. Aku kehilangan jejaknya. Dengar dari beberapa kawan, dia jadi korban broken home dan merantau ke kota. Tapi entah kota yang mana.
Andai suatu hari nanti dia baca tulisan ini, aku ingin bilang kalau aku sayaaaaang banget sama dia. Aku mau jadi sahabatnya sampai kapan pun. Aku mau ngedengerin dia cerita, apa pun itu. Aku mau makan molen pisang sama dia lagi. Aku mau jajan es marimas sama dia lagi. Aku mau nraktir ngebakso. Pokoknya aku mau ngasih pundak buat dia, kalau memang dia butuh itu. Aku kangen Dhery.
(tear)

Nah, semasa SMA, ini lebih mewek lagi, sob. Kisahku lebih tragis di SMA. Dari semua ketragisan kisah, ada satu sahabat yang setiaaaaa banget sama aku. Kunzita Najwa. Kupanggil Zita. Badannya lebih kecil dariku. Suaranya unik, khas banget. Orangnya baiiiiik banget.
Kalau aku nangis, dia bisa ikut nangis sambil meluk aku. Kalau aku sakit, dia yang sibuk ngerawat aku dan ngebeliin makan. Kalau aku sibuk, dia yang selalu ngingetin buat tidur dan makan. Kalau aku difitnah, diejek, dijelek-jelekin, dia yang pertama bakal ngotot ngebela aku. Kalau aku dikucilin dan dijauhin, dia yang pertama ngeyakinin aku kalau suatu hari mereka itu bakal butuh aku dan bakal minta maaf.
Pokoknya Zita is the best!
Beberapa tahun lalu aku masih keep contact. Tapi sejak aku tutup semua akun sosmed, dia sepertinya kesulitan mencariku. Atau dia punya kesibukan lain yang bikin lupa sama aku. Cuma aku tetep yakin kalau dia nggak pernah berhenti nganggep aku sahabat. Aku juga yakin kalau dia nggak kasih kabar atau nggak balas kontak dariku itu bukan berarti dia memutus persahabatan. Aku percaya sama dia.

Wuah. Puanjang bener ini tulisan. Ngupas soal sabahat emang nggak bakal ada habisnya, sob. Paling nggak, orang-orang yang kusebut itu memang orang-orang berharga. Buatku. Mereka semua sahabat yang nggak bakal aku lupain. Aku cinta semua sahabatku.
Kamu juga mau jadi sahabatku kan, sob? Masa udah kupanggil sobat tapi nggak mau bersahabat. Heheh..***

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Opik #8: Permainan Masa Kecil yang Paling Kuingat itu….

Read Next

Diminta dan Dicancel Dadakan itu Nyebelin!

Facebook Comments

Disqus Comments

damae