Rumah Masa Depan

Hei, banguun..
Aargghh.. Masih ngantuuk..
Haduuh.. sudah 10 jam, mau tidur berapa lama lagi?
Satu jam lagi..
Bukankah kamu ada janji 5 menit lagi?
What???
Nah! Akhirnya bangun juga!
Aaa.. Angiiiiin.. Nyebelin!!!
Biarin yang penting kamu bangun!
Bangun, bangun, bangun! Iya ini aku bangun! Emang ada apa sih? Tumben banget kamu ngotot bikin aku bangun?
Eum.. Tentang acara pernikahan itu..
Kenapa dengan acara itu?
Kamu belum cerita!
Ya ampun, tanpa cerita pun kamu sudah tahu..
Tapi pertanyaanku belum dijawab!
Pertanyaan apa?
Kalau kamu menikah, ingin seperti apa konsep resepsinya?
#mikir
Jangan kelamaan mikir, keburu matahari tenggelam!
Ingin membuka “Rumah Masa Depan”
Maksudnya?
Rumah yang memberikan bekal untuk manusia-manusia yang, keberadaannya dianggap tidak ada. Masih mending kalau mereka punya rumah dan keluarga, kebanyakan justru sebatangkara dan..
Apa yang akan kamu berikan di rumahmu itu?
Tempat tinggal, makan, dan pengasahan ketrampilan mereka. Sampai mereka bisa melanjutkan hidup dengan kedua tangan dan kaki yang berkarya, aku ingin rumahku menjadi saksinya.
Pengasahan ketrampilan?
Yup. Aku yakin setiap manusia dibekali ketrampilan yang berbeda. Ada yang trampil memasak, menjahit, melukis, mengajar, menulis, bernyanyi, berbahasa, berdagang, bahkan berbicara.
Apa kamu bisa mengajari itu semua?
Tentu tidak. Aku hanya bisa merencanakan.
Lalu?
Jalan satu-satunya ya memanggil tutor. Dibuat semacam kursusan.
Kenapa tidak memilih sekolah?
Sekolah butuh waktu lama, dana banyak, dan belum tentu manusia lain mau menganggap manusia-manusia itu ada. Hasilnya juga tidak menjamin. Aku ingin membantu mereka untuk menemukan bakat, ketrampilan, skill, atau apa yang bisa mereka lakukan dengan tangan, kaki, dan otak. Bukan mencetak manusia yang “disamaratakan” dengan nilai di atas kertas.
Hmm.. Aku paham. Terus dananya?
Ya dari mas kawin dan pengalihan biaya resepsi pernikahan.
Lho? Kalau kamu menikah dengan pria yang tidak kaya?
Ya jangan berharap bisa membuat pesta resepsi yang “wow”. Cukup ijab qobul saja.
Belum paham.. 🙁
Dari awal kan kamu tanya: ingin konsep resepsi pernikahan seperti apa?
Iya
Aku jawab: membuka Rumah Masa Depan.
Iya
Ya itu maksudku.
Hiks.. Masih belum paham 🙁
Haduh. Begini, Angin. Namanya konsep resepsi pernikahan, berarti ada dana yang tidak sedikit untuk mewujudkannya. Mana mungkin orang yang tidak punya banyak uang berani membuat konsep pernikahan. Bisa buat syukuran dan ijab qobul saja sudah alhamdulillah. Iya kan?
Iya
Nah, kalau aku berandai bikin konsep resepsi, berarti aku berandai mendapat suami yang kaya kan? Ngapain aku berandai bikin konsep kalau sudah jelas calon suami nanti bukan orang kaya. Iya, kan?
Iya
Kalau aku berandai dapat suami orang kaya, berarti aku bisa berandai jumlah dana untuk konsep resepsinya. Iya kan?
Iya
Kalau begitu, dana dari pengandaian resepsi itu tidak ingin kugunakan untuk pesta. Melainkan untuk membangun Rumah Masa Depan.
Ooo… bulet.
Misal ada dana 100 juta untuk 1 pernikahan, cukup untuk membangun 1 rumah dengan 5 kursus ketrampilan, dan dihuni oleh 10 orang dengan masa kursus 1 bulan full. Kalau ada orang kaya lain yang menikah dengan dana yang sama dan dananya dihibahkan untuk Rumah Masa Depan, berarti ada 20 orang yang akan mengubah nasibnya kan?
Kalau dalam sebulan ada 30 orang di seluruh negeri, berarti ada 3 milyar yang cukup untuk mengentaskan 300 orang?
Dan 300 orang itu bisa menyalurkan apa yang dia bisa ke ratusan orang lain.
Wuaaw.. Keren! Tapi bagaimana kalau mereka lebih memilih pesta resepsi pernikahan yang mewah daripada Rumah Masa Depan?
Ya sudah, jangan dipaksakan.
Lalu bagaimana kalau kamu menikah dengan orang yang tidak menyetujui konsep Rumah Masa Depan?
Ya sudah, aku tidak memaksa.
Nah, kalau kamu tidak menikah dengan pria kaya?
Ya sudah, jangan berandai tentang konsep pernikahan.
Hmm, oke. Perbincangan selesai.
Sudah boleh tidur lagi?
What?? Tidur lagi??

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Diary Manusia

Read Next

Getar Hati

Facebook Comments

Disqus Comments

damae