Ritual Penyesalan

Manusia, seringkali menyalahkan keadaan dan ketidakmampuan sebagai alasan untuk mengesahkan penyesalan. Lalu (dengan wajah tanpa dosa), memohon pada Penulis Skenario agar bisa kembali ke masa itu -untuk memperbaiki apa yang ia sesali. Terutama ketika ia sadar bahwa, bukan dia di samping orang yang paling berharga dalam hidupnya; di pelaminan.

Sayang, waktu sudah memastikan kedatangan ‘penyesalan’. Ia ditakdirkan untuk ‘terlambat’. Ketika ia tiba, manusia segera bisa tahu kalau satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan hanyalah ‘waktu’.

Kebimbangan yang muncul kemudian, “Apa gerangan yang bisa memastikan keberadaan waktu?”. Jawabnya hanya: sekarang! Bukan esok, lusa, nanti, masa depan, atau kapan pun manusia (merasa berhak dan mampu) berencana. Sekarang-lah yang bisa membuktikan eksistensi waktu. Sekarang pula kesempatan manusia untuk bernegosiasi dengan penyesalan.

Sekali manusia gagal menyusupi ‘sekarang’, jangan tanya apa yang akan terjadi satu detik kemudian. Tak ada yang kuasa atas hal itu kecuali Sang Penulis Skenario (Kehidupan). Termasuk kesempatan untuk sekadar mengatakan betapa ia amat, sangat, mencintai seseorang yang bersanding di pelaminan (bersama orang lain).

Dan, penyesalan siap hinggap dalam sekejap ucap, “Andai aku bisa merebut hatinya lebih dulu, akankah aku yang duduk di pelaminan itu? Ah.. Paling tidak, dia tahu bahwa aku, orang yang selalu dekat dengannya, sangat ingin membuat dia bahagia.”

Satu detik kemudian, hatinya basah. Seraya merutuki: “Bodoh, bodoh, bodoh! Aku bodoh! Andai bisa memutar waktu.. Sehariiiiii saja sebelum pernikahan ini. Pasti pemandangan menyakitkan ini tak kan tergelar. Bodoh! Aku bodoh!!!”

Padahal, jangankan sehari, ratusan bahkan mungkin ribuan hari sebelum pernikahan itu terjadi, dia selalu berjalan beriringan dengannya. Dia punya buaaanyak sekali kesempatan untuk sekadar mengakui isi hati. Apa yang terjadi menjadi bukti bahwa, pedang penyesalan hanya akan menghunus manusia yang selalu menganggap “masih ada waktu”.

Seperti hari ini. Hari aku mendapati kata yang paling kubenci, “Nanti”. Bukan hanya karena kata itu memurkai waktu, tapi karena kau yang melafalkannya. Iya, kau. Bahkan demi mendengar kata itu aku harus menghitung 3600 detik dikali hampir 100.

Kau tahu bagaimana perasaanku selama menekuk jari satu per satu sejumlah itu? Seluruh sel otakku dipenuhi tanda tanya: ada apa denganmu? Seluruh syaraf bibirku berkomat-kamit: semoga kau baik-baik saja. Setiap helai bulu mata ini berkompromi untuk membuat mata tetap terjaga: barangkali satu detik lagi kau menjawab kecemasanku.

Ternyata, nihil. Kenihilan yang membuatku tampak lebih bodoh dari semua penyesalan masa itu. Masa dimana hanya hatiku yang mampu berteriak dan menangis, saat tahu bukan aku yang duduk di sampingmu, di pelaminan.

Serangkaian penyesalan kembali menembus jantung.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*