Please..Bantuan Endorsment Buku Damae

Dear, pembaca setia Garuda with White Rose yang budiman. Sempat beberapa kali mendapat teguran, kenapa postingan hingga kini tak ada tambahan sama sekali. Beberapa comment juga ter-delay untuk di-approve, sedang yang sudah direfresh pada halaman utama pun jarang yang ditanggapi lagi. Tak hanya di rumah Garuda sebenarnya. Blog yang turut tergabung di rumah tulis dan wardani.info juga tak jauh beda. Semuanya sepi. Sepi tulisan, sepi pembaca, hambar pula halaman utamanya.

Lantaran hal itulah, saya mohon maaf dengan segala kerendahan hati.      Bukan karena kesengajaan untuk menelantarkan, namun karena sesuatu hal yang      harus diselesaikan dalam batas waktu singkat.      Maklum, masih masa transisi sebagai mahasiswi baru. Terkadang ide numpuk di kepala tak sempat dituangkan sama sekali, hingga satu per satu luntur seiring banyaknya urusan lain yang menggusur.

Sebut saja tugas pembuatan buku autobiografi yang satu ini. Cukup menguras beberapa kesempatan mengerjakan hal lain. Cukup menggilas waktu, tenaga, dan pikiran yang semuanya tercurah demi sempurnanya satu buku ini. Meski bukan keinginan pribadi, mau tak mau saya harus memenuhinya sebagai salah satu persyaratan mengikuti UAS bulan Desember ini.

Ya, bisa Anda bayangkan betapa rumitnya menggarap tugas berformat buku. Mulai dari isi hingga kemasan harus sempurna adanya. Alhamdulillah, hingga postingan ini terbit sudah 90% kelar. Untuk itu, sudilah kiranya pembaca memberikan tentang isi buku yang sedang saya garap ini. Cukup dengan berkomentar di bawah ini.     Bagi komentar yang menarik akan saya cantumkan sebagai endorsmen buku. Meski tak ada sebungkus permen pun yang dapat saya berikan sebagai imbalan, semoga ucapan terima kasih dari lubuk hati cukup kiranya membalas kebaikan dan keikhlasan hati pembaca untuk berpartisipasi dalam proses penyusunan buku ini.

Berikut saya sertakan satu judul dari bagian buku ini. Selengkapnya silahkan di download dan dibaca dalam bentuk PDF, dengan hati damai tentunya. Meski selengkapnya, tentu saja itu belum 100% sempurna, karena 10% lagi masih dalam garapan dan proses pengeditan.

Baiklah, sangat dinantikan komentar-komentar menarik dan membangun demi perbaikan buku ini, juga untuk memenuhi endorsmen yang akan saya sisipkan. Mengingat saya masih pemula, alangkah baiknya komentar anda berisi kritikan-kritikan. Pedas dan sadispun tetap saya terima, malah itu lebih berpeluang masuk dalam endorsmen.

Berhubung waktunya mepet dengan pengumpulan, saya tunggu sebelum tanggal 13 secepepatnya Desember bulan ini. Maaf..

Terimakasih. Jazakumullah ahsanal jaza.

DOWNLOAD DRAFT BUKU BIOGRAFI

Sepenggal dua penggal isi buku :

DAFTAR ISI
[spoiler effect=simple show=Isi daftar isi]
SALAM PENULIS
SISTEMATIKA BUKU
UCAPAN TERIMA KASIH
PENGANTAR EDITOR
BAGIAN I PROLOG : SURAT SAHABAT
BAGIAN II KECIL-KECIL CABE RAWIT
Kelahiran Serba Ganjil
Desaku Cisumur, Desaku Makmur
Ulang Tahun Pertamaku
Lagi, Ma! Lagi, lagi!
Si Rambut Mie
Buku, Sahabat Sejatiku
Sang Pemecah Rekor
BAGIAN III – RIAK-RIAK KECIL DALAM GEJOLAK OMBAK
Demi Spensa, Aku Rela Melakukannya
Apa Salahku?
Aa Ba Ta Tsa Jim Kha
Orang Gila Aja Jatuh Cinta
Dari 150 menjadi 2
Orientasi Lomba, Bukanlah Uang Saku Apalagi Gelar Juara Semata
Dilema Vokalis Karbitan
D           Broadcaster
Selain 1 itu Bukan Juara
BAGIAN IV – MEWUJUDKAN TITIK-TITIK MIMPI
MEWUJUDKAN TITIK-TITIK MIMPI
Welcome to Alhikmah Planet
Andai Aku di Kamar Itu
Go Blog! Terobosan Baru IT Santri
Kombinasi Warna yang Tak Indah
Siapa Bilang Anak IPS itu Buangan?
IPS [Bukan] Anak Buangan!
Hatiku Masih Hidup, Tau!
Berani Gagal
BAGIAN V NYANYIAN PELANGI
Ciluk    Ba!!!!! Ayo, M2Net, Bangkitlah!!!!
Meski Hanya Dua Pejuang, M2Net Tetap Bertahan
Pondok Grebeg Warnet, Gencet Nyawa M2Net
Generasi II Bubar,      Sakit Hati Menyebar
Kapok Deh!!! Cukup Sekali Saja!
Fasilitas Kacau, Pejuang Balau
Perang Berita, M2Net Sandang Pencemar Nama
Untuk Kesekian Kalinya, M2Net Dikambinghitamkan
Diancam Tidak Naik Kelas, Pemred Undur Diri
Perjuangan Gerilya Dibawah Cahaya Temaram
Berjuanglah, Tripel Super Girls!
Dua Kemenangan Berturut dalam Sebulan
M2Net, Sungguh Beruntung
Sekali di Udara tetap di Udara
Tangis Bahagia di Hari Jadi
Tenang! Belajar Tetap No. 1 Bagiku
Mimpi yang Berbicara
Santri Al Hikmah 2 Juara Penulisan
Gadis Cerdas, Yo Pasti Siti     donk    
Kalah di Elearning, Malhikdua Harus Puas Juara 2
Akhirnya Rebut Juara 1
Enam Buku Sebulan
Menjadi MC Terbaik di Pon.Pes Terbesar Se-Jateng
Lilin pun Mulai Redup
Menuju Pintu Keluar Planet
Selamat Tinggal, Al Hikmah Tercinta
BAGIAN VI – MAU JADI APA AKU INI?
Pulang untuk Berperang
Pare, I           m Coming
Buku-bukuan yang Mengharukan
Hidup Memang Sebuah Pilihan
Jurnalistik, Nu Aing!
BAGIAN VII – MAU JADI APA AKU INI?
Appendiks
Foto-foto
[/spoiler]

BAGIAN I

[spoiler effect=simple show=Salah satu judul Bagian I – G.A.G.A.L]

GAGAL. Satu kata yang sangat ganas, sadis, dan ampuh untuk mengaduk-aduk emosi seseorang. Ketika gagal menghampiri, bisa fatal dampaknya bagi mereka yang      tidak siap menerima. Sudah menjadi hal yang umum bila kita mendengar orang yang hendak bunuh diri hanya karena frustasi. Orang kaya menjadi gila saat bangkrut melanda. Siswa cerdas hampir mengakhiri hidupnya saat dinyatakan gagal dalam ujian. Gadis cantik rela memutus urat nadi saat pertunangan dibatalkan. Bahkan sederet kasus lain yang cukup membuat miris dan patut menjadi renungan.

Sejenak merefleksi satu kata nan tajam itu, masih banyak hal positif yang bisa kita manfaatkan sebenarnya. Ya, bila sisi positif yang kita ambil, GAGAL justru menjadi peluang yang amat strategis dalam proses mendekatkan diri dengan kebalikan kata itu. Sebut saja salah satu pengarang buku Best Seller yang berhasil menggulingkan ke-GAGAL-annya menjadi sebuah anugrah luar biasa. Dialah Billi PS. Lim. Seorang interpreneur yang penah terpuruk dan kembali menjadi milioner dengan jalan membeberkan kegagalannya, hingga menjadi sebuah pembelajaran berharga bagi mereka yang mengalami hal sama.

Keberanian terbesar di dunia, adalah berani gagal.          Begitu kata bijak yang saya temukan dalam buku Berani Gagal karangan Billi. Jelas tertutur dengan segenap jiwa, bagaiamana Billi mendongkrak gerbang keterpurukan dan menyulapnya menjadi sebuah kesuksesan sejati. Ia menjadikan kata yang acap kali dianggap menakutkan oleh kebanyakan orang, menjadi sebuah garis hidup yang indah nan istimewa. Menjadi ujung tombak kebahagiaan yang benar-benar terasa nikmat dan mengharukan.

Belajar dari kegagalan adalah cara meraih kesuksesan. Tidak pernah gagal berarti tidak pernah menang. Jika Anda tidak mengalami kegagalan, Anda tidak dapat manisnya kesuksesan    . Inilah pesan Yang Dipertuan Agung, Dr. K. Sri Dhammananda Nayake Maha Thera, J.S.M., Ph.Litt.

Tak hanya Billi, nampaknya tak kan habis dikupas satu buku bila menjabarkan satu per satu orang-orang sukses yang merangkak dari kegagalan mereka. Tokoh-tokoh masyhur yang sudah sangat dekat dengan kita pun sejatinya sama. Einsten, salah satunya. Atau Jacky Chan, bintang film ternama di Hong Kong yang berkali-kali gagal dalam prosesnya, kini bisa tersenyum melihat hasil karyanya. Michael Jackson,      perilis album terlaris sepanjang sejarah musik yang juga berangkat dari segala kegagalannya. Termasuk manusia terbaik, insan teladan, pembawa risalah yang senantiasa dinantikan syafa           atnya oleh umat Islam diseluruh penjuru dunia, ialah Nabi Agung Muhammad SAW. juga      menjadi besar berkat kegagalan.

Sahabat, jika mereka mampu menyulap kegagalan menjadi sesuatu yang manis, indah, dan sangat nikmat dirasakan, kenapa harus memilih jalan yang hanya menambah keterpurukan dan semakin menjebloskan kita ke lubang kehancuran?

[/spoiler]
BAGIAN II
[spoiler effect=simple show=Salah satu judul Bagian II- KELAHIRAN SERBA GANJIL]

Ganjil. Bagi sebagian orang, kata ini seolah berbau mistis yang acap kali disangkut-pautkan dengan mitos. Entah dari mana asal usul asumsi-asumsi itu, yang pasti bagi umat muslim, angka ganjil memang angka yang disukai Allah SWT. Mulai hitungan 1, sebagaimana ditafsirkan bahwa Allah itu Maha Esa, Maha Tunggal. Dalam QS. Al Ikhlas ayat pertama disuratkan, qulhualloh huahad. Dilanjut angka 3, 5, 7, 9, 11, 13, hingga hitungan tak berbatas, yang konon masing-masing angka memiliki filosofi sendiri-sendiri. Barangkali seperti halnya angka 19 yang menjadi jumlah huruf dalam lafadz basmalah, pun memiliki makna yang begitu dalam bila diuraikan.

Lantas, apa hubungannya angka-angka ganjil itu dengan kelahiran saya? Tentu saja Anda akan temukan jawabannya disini.

Barulah genap 9 _angka ganjil pertama_ bulan kandungan itu, perut ibu seolah diserang tendangan yang tak pasti dari segala sisi. Sekuat tenaga menahan tanpa perlawanan, sejurus dengan laju mobil ke sebuah rumah sakit yang lumayan dikenal kala itu, RS. Hasan Sadikin Bandung. Disaksikan terik mentari yang cukup menghitamkan kulit bila Anda berjemur dengan jarak 150 juta KM dibawahnya. Diantara hiruk pikuk mudik lebaran yang mulai memadati sejumlah ruas jalan. Ditengah benteng pertahanan dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan, menahan serunya musik keroncong yang berirama tak beraturan pertanda lapar dan dahaga mulai menyerang.

Ditangani 3 _angka ganjil kedua_ dokter spesialis kandungan dan 5 _angka ganjil ketiga_      suster yang turut menyertai. Ibu mengerang, menjerit, mencengkeram kuat-kuat tepi ranjang tidur, menarik dan menghembuskan napas sesuai tuntunan sang dokter. Itulah hari pertarungan nyawa bagi ibu. Menahan sakit yang teramat sangat. Berteriak sejadi-jadinya. Mengerahkan segala tenaga agar si jabang bayi bisa keluar dengan sempurna. Keringat panas dingin bercucuran. Hembusan napas keluar masuk diatur oleh dokter. Sesekali tersengal. Air mata pun mulai membasahi wajah bersihnya. Serasa akan dicabut nyawa. Sakitnya bukan kepalang. Meski beberapa keluarga hadir menyaksikan, ibu tetap merasa sendirian. Ya, ibu berjuang sendirian lantaran ayah masih di perantauan.

Akhirnya, semua perjuangan itu tidaklah sia-sia. Hari dimana seorang calon generasi penerus bangsa yang _dido           akan_ handal dan cakap lahir ke dunia. Hari yang menjadi saksi dimulainya napas pertama bocah mungil nan antik. Hari teramat sangat membahagiakan bagi seorang wanita yang baru akan disebut ibu. Terlebih bagi sebuah keluarga sederhana yang hidupnya merantau dari satu kota ke kota lain. Sekaligus hari yang cukup memilukan, mendapati buah hatinya terlahir berberat badan kurang sempurna.

Tepat pukul 11.55 WIB _angka ganjil keempat    ­_tangisan bayi pertama terdengar di sebuah ruang bersalin, Sabtu, 13 Maret 1993 _angka ganjil kelima_ itulah hari pertama saya bersuara. Detik pertama saya bernapas sempurna. Kerlipan bola mata ini menangkap tajam apa saja yang bisa saya lihat. Disela jeritan dan tangis, terlihat semacam kalung usus melingkari tubuh mungil yang jauh lebih kecil dari mungilnya bantal guling bayi. Bersimbah darah dari rahim ibu, saya langsung ditimbang oleh gadis-gadis cantik berseragam putih-putih. Suster, kata ibu.

    Antara haru, sakit, dan bahagia, ibu berusaha tersenyum sembari mengucap syukur mendengar oe-oe dari kedua bibir merah saya. Tak peduli rasa sakit yang masih tertahan. Darah bercucuran karena belum dibersihkan. Satu hal yang spontan terucap adalah menanyakan bagaimana keadaan putri pertamanya. Selamat ya, Bu. Putri ibu kalung usus    , sorak bahagia para suster yang sedari awal prosesi persalinan itu mendampingi ibu.

Ibu langsung menggendong dan mencium saya. Diperiksanya kesepuluh jemari mungil ini. Sempurna. Hanya saja berat badan saya jauh dari normal. Bahkan disandingkan dengan bantal guling bayi pun jauh dari sepantaran. Mungil sekali. Seperti botol Aqua katanya. Ya, bisa dibayangkan bagaimana kecilnya. Jarum dalam timbangan bayi menunjuk angka 19 ons, angka ganjil keenam. Meski begitu, ibu tetap tersenyum melihat saya. Ibu belai lembut rambut saya yang tumbuhnya bisa dihitung jari. Persis seperti profesor, botak, demikian kata ibu. Sama sekali tak terbesit kekhawatiran di paras cantiknya, karena sebelumnya memang sudah ada pertanda akan ketidaksempurnaan kelahiran ini.

Selama sembilan bulan, tak pernah ada sesuap nasi pun yang masuk dengan sempurna ke dalam pencernaan ibu. Bahkan hanya mencium aroma makanan atau apa pun yang sedikit menyengat; deterjen, daun cakra-cikri, durian, dkk; pasti langsung memaksanya untuk mengeluarkan seisi perut. Muntah. Itulah yang disebut ngidam. Tak terbayang bagaimana perjuangan ibu mempertahankan saya dalam kandungan. Terlebih satu rahim ibu telah diangkat jauh sebelum melahirkan saya. Lantaran kanker rahim itulah, dokter mengatakan kemungkinan besar ibu hanya bisa punya anak maksimal dua.

Jika memang benar, betapa bersyukurnya saya yang berhasil mengalahkan ribuan sel dalam sperma. Saya diberi kesempatan untuk lahir lebih dulu. Sebagai anak pertama, _angka ganjil ketujuh_, secara tidak langsung saya diamanati untuk menjadi seorang kakak bila ibu masih diberi kesempatan melahirkan lagi.

    Sehari setelah saya berhijrah dari alam kandungan ke dunia nan fana ini, ayah baru bisa memeluk dan mencium pipi merah merona yang satu tahun lagi mungkin bisa memanggilnya, a-yah. Sepulang dari rantau, Jakarta, ayah langsung menjenguk di rumah sakit. Itulah dekapan pertama yang saya rasakan. Betapa bersyukurnya saya bisa mendengar detak jantung ayah. Diluar sana ribuan bahkan jutaan anak yatim berserakan dimana-mana. Bahkan mungkin sama sekali tak tersentuh kasih sayang orang tua. Meski ada sebagian yang justru sukses dibalik keprihatinan. Berdiri diatas kaki sendiri menerjang kerasnya hidup. Tak ubahnya dengan ayah yang ketika buku ini ditulis pun sudah tak memiliki orang tua kandung lagi.

Ketidaksempurnaan kelahiran saya memaksa tubuh ringkih ini masuk ke dalam inkubator agar bisa bertahan dan sedikit menormalkan berat badan. Sudah bisa dipastikan daya tahan tubuh saya sangat lemah sehingga memerlukan perawatan intensif. Terlebih kunjungan keluarga ke rumah sakit kebayakan perokok berat. Jadilah saya korban asap dan secara tak sengaja menjadi perokok pasif sebelum keadaan saya normal. Hal ini berimbas pada kesehatan saya yang semakin menurun dan mudah terserang penyakit.

Hanya asi dan beberapa asupan anjuran dokter yang masuk ke dalam tubuh ini. Pernah menjadi bayi percobaan Vitamin A yang merupakan luncuran produk pertama di rumah sakit. Lupa apa namanya. Pun tak ada keterangan jelas yang bisa saya dapat kenapa pihak rumah sakit melakukan itu.

Suatu ketika hampir saja saya tertukar dengan bayi lain. Ibu berniat menggendong dan memberi saya asi. Datanglah ia mencari kotak tempat tidur saya diantara deret kotak yang      juga sama berisi bayi prematur dan bernasib seperti saya. Merasa gelang yang dipakai ibu itu sama dengan si jabang bayi, tanpa memastikan lebih lama, ibu langsung mengambil dan mencoba memberinya asi. Hampir tiga puluh menit ibu berusaha, tapi si jabang bayi tetap menolak. Untungnya, ada putranya budhe (sebutan untuk kakaknya ibu dalam bahasa Jawa) yang tak sengaja lewat di depan ruang rawat ibu. Spontan mengetuk kaca jendela sembari memberi kode kalau bayi yang sedang digendongnya bukanlah saya. Bagaimana mungkin itu wanita kalau memiliki alat kelamin laki-laki. Ibu pun ber-ooo panjang dan baru menyadari kenapa si bayi tidak mau diberi asi oleh ibu. Bila benar sampai tertukar, entah menjadi anak siapa saya ini.

Sebelas hari di rawat inap, _angka ganjil kedelapan_kantong ayah sudah tidak sanggup lagi menanggung biaya sebesar Rp11.000 per hari, _angka ganjil kesembilan_. Mungkin kalau dirupiahkan sekarang sekitar diatas 300 ribu. Ditambah lagi lusa adalah hari raya umat Islam yang sangat kental tradisi mudiknya, Idul Fitri. Ya, sejatinya hari lahir saya bertepatan dengan tanggal 18 Ramadhan 1413 _angka ganjil kesepuluh_. Jadilah diputuskan untuk membawa saya pulang ke kampung halaman, Cilacap, Jawa tengah. Disanalah ayah dan ibu tinggal. Meski ayah asli Kebumen, sedang ibu asli Purbalingga, yang keduanya sama-sama Jateng. Namun keluarga besar banyak tinggal di desa Cisumur, kecamatan Gandrungmangu, kabupaten Cilacap.

Sebelum berpamitan dengan pihak rumah sakit, suster kembali menilik berat badan saya. Sedikit perkembangan, berat badan menjadi 25 ons, _angka ganjil kesebelas_. Dengan berat hati para dokter yang merawat saya mengijinkan pulang, karena sejatinya saya masih harus diinkubator. Tak lupa dokter berpesan ini dan itu pada Ibu. Bahkan ada seorang dokter yang dengan tegas mengatakan agar ibu tidak mengikuti apa pun saran orang tua dalam merawat anak. Nampaknya dokter itu khawatir dengan pola merawat bayi ala ibu-ibu kampung yang masih sangat dikaitkan dengan mitos-mitos jaman baheula. Merawat bayi prematur itu susah. Makannya ikuti saran saya, jangan ikuti saran mertua    . Demikian tegasnya. Hal ini pula yang membuat ibu begitu memperhatikan setiap suapan yang masuk ke mulut saya. Salah satunya jaminan steril untuk semua perkakas makan, pakaian, dan apa pun yang berhubungan dengan saya. Hal itu pula yang terkadang _sadar atau tidak_ telah memaksa ibu untuk over protective terhadap semua yang saya lakukan.

[/spoiler]
BAGIAN III
[spoiler effect=simple show=Salah satu judul Bagian III- DILEMA VOKALIS KARBITAN]

Kian hari, kian berwarna saja sejarah hidup manusia. Beraneka pula macam peristiwa yang terjadi disepanjang hitungan jam yang tak pernah letih tuk berputar. Sayang, seribu sayang saya katakan. Tak mampu rasanya jemari ini mengcover semuanya. Andai bisa, barangkali alunan kata yang terangkai bisa melebihi jutaan ribu kata. Entah sampai kapan pula saya akan selesai menggarapnya. Pun, entah akan setebal apa buku yang tercetak nanti.

Berlanjut saja ke kisah pilihan berikutnya. Kali ini sedikit menyentil dunia seni. Dunia yang sebenarnya sangat kaku untuk saya jamahi. Dunia yang sebenarnya tak pernah terbesit dalam benak saya sedikit pun. Dunia yang asing, dunia yang belum pernah sukses membuat saya tak bergeming. Terlebih dunia tarik suara yang memang kurang disukai ayah, kecuali untuk Tilawatil Qur           an dan Shalawat.

Saya sendiri merasa seperti mimpi. Hingga detik ini, saya masih tak percaya kalau saya pernah menjadi vokalis band dan penyiar radio. Memang bukan kesengajaan. Bukan pula suatu rencana yang masuk dalam daftar impian sebelumnya. Semua sejarah itu seolah mengalir saja tanpa diminta. Bahkan dipikir dengan logika pun kadang tak masuk. Hanya satu hal yang pasti, saya percaya bahwa semua itu sudah menjadi rencana-Nya, jauh sebelum saya ada di dunia.

Ya, masa-masa kelas akhir di Spensa Gama, ialah masa paling mengesankan, masa paling mengenaskan, juga masa paling membahagiakan kala itu. Ditengah kesibukan mempersiapkan Ujian Nasional, mengikuti bimbel, jam pelajaran tambahan, dan fokus belajar di rumah, saya direkrut sebuah band sekolah untuk menjadi vokalis guna persiapan mengikuti Festival Band dalam rangka ulang tahun sekolah yang ke-25. Entah atas dasar apa mereka memilih saya. Satu hal yang pasti, saya yang masih sangat awam dengan dunia musik, hanya merasa senang dan sama sekali tidak berpikir untuk menolaknya.

Dibela mengikuti latihan ke beberapa studio musik, bahkan sampai mendatangi guru les musik yang jaraknya tidak kurang dari 20 KM, ditempuh dengan kayuhan sepeda pula. Bisa Anda bayangkan betapa pegel dan tiyel-nya kaki yang diputar      terus seharian diatas ontelan. Tidak hanya keluar banyak energi, waktu, pikiran, juga biaya, tapi juga mental yang siap tempur pantang mundur.

Namun, selama 2 minggu masa persiapan mati-matian, digempur oleh satu keputusan yang amat sangat tidak bijak. Keputusan yang sangat menyakitkan, bahkan sampai detik ini masih sangat terasa sakitnya. Meski saya sama sekali tidak menyimpan dendam, tapi kecewa itu tetap belum terhapus dari palung hati yang terdalam. Masih tercatat lekat dalam ingatan. Masih sangat jelas terekam dalam memori yang tak termakan usia.

Betapa tidak. Disaat pengorbanan dan perjuangan sudah mencapai puncaknya, dengan seenaknya leader dari band itu mengeluarkan kebijakan bahwa saya dikeluarkan dari keanggotaan band Virgin    , begitu nama band yang semua personilnya terdiri dari kaum hawa. Lebih parahnya lagi, keputusan itu keluar persis H-2 dari perayaan Festival Band yang sudah direncanakan. Bagaimana perasaan Anda dan apa yang akan Anda lakukan bila Anda berada di posisi saya?

Sebagai anggota yang hanya direkrut, baru pula, saya seolah tak memiliki banyak suara untuk berargumen dan menuntut perlakuan mereka yang seolah sangat semena-mena. Mau-maunya saya dibodohi, hanya bisa bergumam demikian. Untungnya, Allah masih sangat sayang kala itu (hingga sekarang). Saya masih diberi pikiran yang terang untuk memaafkan mereka. Masih diberi kelapangan dada untuk membiarkan semua itu berlalu dan tak perlu diperpanjang lagi. Masih diberi keikhlasan hati yang bisa dengan mudahnya menerima perlakuan mereka tanpa perlawanan sedikit pun. Keyakinan saya, Allah Mahabaik, dan pasti akan memberikan yang terbaik.

Sekalipun, saya menyadari sesadar-sadarnya, terkadang apa yang terbaik buat saya bukanlah yang terbaik dimata Allah. Terkadang yang menyakitkan bagi saya bukanlah sesuatu yang memang menyakitkan saya disisi-Nya. Terkadang apa yang saya impikan belum tentu juga memang saya butuhkan dalam pandangan-Nya. Bahkan belum tentu juga kebahagiaan yang saya dapatkan di dunia ialah kebahagiaan sejati dalam anggapan Allah yang sesungguhnya. Karenanya, sangat bodoh rasanya bila saya hanya berkutat pada kata        “menyesal            dan tak mau menatap ke depan.

Nikmatnya, Allah menguji kekuatan hati saya dalam hal ini dua kali. Tak lama setelah dikeluarkan dari Virgin, saya direkrut kembali oleh band lain di sekolah. Juga untuk menjadi vokalis yang akan menyanyikan 3 lagu untuk ditampilkan saat perpisahan sekolah tiba. Bing Me to Life, salah satunya. Cukup susah dan menantang. Apalagi adanya sekat yang sedikit membuat saya kurang nyaman, karena semua personil ialah pria kecuali saya sendiri, menjadi salah satu penghalang lancarnya proses latihan.

Untuk band yang satu ini, mereka lebih terbuka dan lebih solid satu sama lain. Bukan hanya karena mereka memang sudah bersahabat lama, tapi juga karena pria umumnya lebih bisa menahan ego dengan teman sebaya dibanding wanita. Alasan mereka merekrut saya pun sangat sederhana. Hanya mengatakan bahwa mereka salut atas penampilan saya pada saat ujian praktik menyanyi, karena ternyata nama saya mendapat point terbaik diantara 240 siswa yang ada. Lantaran itulah, saya dipercaya mereka untuk menjadi vokalis yang berkarakter suara tinggi yang dirasa cocok menyanyikan lagu pilihan dalam perpisahan.

Tak jauh beda persiapannya dengan band Virgin yang telah saya uraikan. Hampir setiap pembelajaran formal selesai, saya langsung meluncur ke studio musik untuk latihan. Tak pandang letih, pun kocek yang kian ringkih. Bahkan tak sekali dua kali saya membobol tabungan agar tak minta uang orang tua. Demi satu tujuan yang saya niatkan untuk menoreh sejarah terakhir disana. Demi sebuah agenda besar yang sudah diitikad-baikkan oleh panitia. Pun demi menukil sakil hati yang sudah kian mencokol, mengeras dan terbungkus rapi dalam sebuah relung, jauh di dasar jiwa.

Namun, sekali lagi, inilah kenyataan pahit yang harus saya terima. Tak usah saya perpanjang kali lebar dan tinggi. Sehari sebelum penampilan di perpisahan sebagaimana semula digembor-gemborkan, saya dipecat tanpa alasan yang tepat dan dengan santainya digantikan oleh vokalis lain. Masihkah saya bertahan untuk sabar?

[/spoiler]
BAGIAN IV
[spoiler effect=simple show=Salah satu judul Bagian IV- KISAH TRAGIS ORGANISASI PERDANA]

Hmm.. Dimulai dari mana dulu, ya? Kisah Tragis Organisasi Perdana: PANMOS (baca: Panitia Masa Orientasi Siswa). Menguak masa lalu yang sangat suram, sebenarnya. Meski berat saya mengupasnya, tapi sudah kadung janji. So, mau tidak mau ya harus mau. Kalau tidak mau ya jangan di M-A-U (Canda      Pak Mahbub begitu).

Inilah kisah organisasi yang pertama kali saya ikuti dai Malhikdua.

PANMOS. Bukan organisasi yang asing lagi bagi kalangan siswa. Tak perlu tegang begitu membacanya. Rileks, saja. Toh ini hanya sekedar sejarah. Bila pun diceritakan paling banter bikin bulu kuduk Anda      berdiri. Tapi tak perlu takut, karena sampai detik ini belum ada berita yang melaporkan bahwa ada orang mati ditelan cerita. Iya, kan?

Opz! Kok jadi nglantur. Ok. Berbicara tentang PANMOS, akan saya      ceritakan detail dari segala sudut pandang. Diakui atau pun tidak, saya bersyukur karena pernah masuk ke organisasi itu. Sejatinya PANMOS memang sangat berjasa pada saya. Ya, walau pun kenyataan yang ada itu hanya menguras air mata. Tapi, berawal dari PANMOS-lah, riwayat organisasi saya dimulai.

Saya mengenal PANMOS dari selembar pengumuman yang ditempel dibeberapa tembok sisi tangga Malhikdua. Dalam kertas itu tertulis bahwa OSIS membuka lowongan Panitia Masa Orientasi Siswa Baru (PANMOS)     untuk semua siswa kelas 1 MAU yang berminat berkecimpung di dunia organisasi. Dijelaskan pula tata cara pendaftaran dan sederet persyaratan serta jadwal seleksi.

Awalnya sedikit canggung, karena saya belum punya link yang bisa dipercaya setidaknya sekedar memberi pengarahan. Ditambah lagi, semasa SMP saya bukanlah siswi yang aktiv dalam kancah organisasi sekolah. Tapi dengan Bismillah, saya tegakkan langkah dan siap menghadapi apa pun yang terjadi. Ya, saya siap menjadi PANMOS.

Persyaratan saya lengkapi. Tahapan demi tahapan seleksi pun saya ikuti. Sampai detik terakhir tes wawancara dimana saya dipermalukan bak tak punya harga diri. Saya disuruh acting marah padahal marah adalah hal yang paling susah untuk saya lakukan. Selama ini wujud kemarahan saya adalah diam. Diseasion inilah saya kalah. Saya gagal menjadi ketua hingga menjebloskan diri ini      ke Dept. Acara.

Bertabrakan dengan jadwal Pelantikan PANMOS, Ibu saya datang. Dengan berat hati saya tidak mengikuti acara pelantikan yang digabung dengan pembagian Job Description itu. Saya pun baru mengenal siapa saja partner juga seluruh anggota PANMOS pada saat rapat ke-2. Sekitar dua jam lamanya rapat itu berlangsung, namun tak menghasilkan apa-apa. Apalagi departemen saya      yang hanya tunggu-tungguan ide untuk menyusun acara selama 2 hari lengkap dengan SC, Tutor, Jadwal, Tempat, dan Properti.

Tak puas dengan hasil rapat kedua, saya      berinisiatif untuk mencoba menyusun acara itu sendiri. Masih terekam jelas dalam memori, persis setelah pengajian sentral selesai, saya mengajak salah satu partner      satu departemen untuk mendiskusikannya. Dengan tujuan agar hasil nihil tidak terulang kembali di rapat ketiga nanti.        “Setidaknya kalau sudah ada bahan kan tinggal diolah           , begitu      pikir saya. Tapi, tak disangka dia malah menjawab, Ah, males ah. Aku capek. Dah damae aja yang nyusun. Kita percaya kok, Damae pasti bisa. Aku mau tidur dulu, ya. Ngantuk    .

Apa yang Anda rasakan kalau mendapat respon seperti itu?

Untung saja, Allah tidak lantas menyurutkan semangat saya.      Saya      tetap mencoba meski tidak yakin akan hasilnya. Setidaknya itu lebih baik dari pada tidak sama sekali, bukan? Sendirian, saya mengutak-atik otak      hingga lembur semalaman. Al hasil, ide-ide saya menelurkan susunan acara lengkap dengan gono gini yang saya      ceritakan tadi. Bisa kamu bayangkan betapa ngantuknya saya?

Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Apakah mereka (anggota PANMOS) bersuka cita karena tak perlu lagi repot-repot menyusun acara yang acap kali menjadi beban paling berat?

Tidak. Tebakan Anda salah. Susunan Acara yang saya garap semalaman, ditolak mentah-mentah oleh semua anggota PANMOS yang hadir pada rapat ketiga. Mereka hanya menertawakan presentasi saya hingga memaksa hati nurani mangatakan AKU HARUS KELUAR DARI PANMOS. Bahkan, partner2 saya di Dept. Acara yang semula menyetujui semua susunan saya berubah 180 derajat dihadapan semuanya. Munafik sekali, bukan?

Dan tahukah Anda, apa yang terjadi setelah itu?

Saya langsung disidang oleh OSIS dan Ketua PANMOS. Mereka semua keberatan dengan Pengunduran diri saya yang dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan juga tanpa alasan yang jelas. Padahal sudah jelas sekali permasalahnnya, bukan? Kukuhnya keputusan untuk tetap keluar, membuat salah satu partner saya mengecap dengan kepalan tangan yang dipukulkan ke lantai, sesaat setelah sidang itu, seraya berteriak HATI KAMU EMANG UDAH MATI, MAE.

Kecaman itulah yang sampai kapan pun akan tetap membekas dalam hati saya. Kata-kata itu pula yang telah membuat saya menangis semalam suntuk dipojok masjid      tanpa seorang pun iba . Hal itu masih kuat      saya tahan. Tapi hal yang paling menghancurkan adalah sikap semua orang berubah dan menjauhi saya satu per satu, karena keluarnya saya      dari PANMOS langsung menjadi berita terhangat yang dengan cepat merambah ke seluruh penjuru Al Hikmah.

Satu hal yang paling menusuk hati yakni diadopsinya (secara diam-diam) semua susunan acara buatan saya yang sebelumnya ditolak mentah-mentah bahkan berhasil membunuh saya dari kancah organisasi sekolah.

Siapa yang tidak sakit hati diperlakukan seperti itu? Apa yang akan Anda lakukan jika Anda berada di posisi saya? Sekali lagi, saya      tidak berhenti pada keluhan yang hanya akan membuang waktu. Saya bersyukur, Allah Maha      Adil. Tamparan yang menyakitkan itu berbuah manis sekali. Bahkan lebih manis dari wajah Anda. He..

Ya, karena dari situlah saya bangkit. Jatuhnya harga diri, reputasi, juga image saya, mendongkrak semangat yang belum pernah saya miliki sebelumnya. Saya bertekad membalikkan apa yang telah mereka lakukan pada saya      dengan cara jantan. Ternyata Allah mengabulkan do           a saya.

Beberapa bulan pasca tragedi PANMOS berakhir, saya diangkat menjadi Pemimpin Redaksi SCH yang menjadi titik balik sejarah organisasi saya. Justru lepasnya diri ini dari PANMOS memberi saya kesempatan untuk mengepakkan sayap.

Saya tak perlu bersusah payah mendaftarkan diri diorganisasi lain, justru surat pengangkatan datang satu per satu hingga lebih dari 5 organisasi yang      saya jabat.      Anehnya, SCH yang dipimpin oleh mantan anggota PANMOS yang gagal justru menjadi organisasi terbaik dengan 2 sandang juara di detik terakhir kepemimpinan saya. Sebaliknya, tahun itu juga, untuk pertama kalinya OSIS MALHIKDUA PECAH JADI TIGA. Apa maksud Allah mengalurkan kisah demikian?

    Wallohu           alam. Allah memang Maha Adil.

[/spoiler]
BAGIAN V
[spoiler effect=simple show=Salah satu judul Bagian V- PERJUANGAN GERILYA DI BAWAH CAHAYA TEMARAM ]

Meski dua riwayat pembubaran dan sisa pejuang M2Net seperti memiliki ikatan batin yang kuat _karena peristiwanya hampir sama_, namun tetap ada perbedaan diantara selipan kisah dua generasi ini. Kalau seusai pengangkatan pemred dan ketor (ketua organisasi) baru pada masa generasi dua langsung ditelantarkan begitu saja, lain hal dengan cerita generasi 3.

Mbak Mawar, kami memang masih sanggup bertahan. Tapi     rasanya kami belum mampu berjalan sendiri. Mbak tahu kan, selama ini kita hanya menjadi ekor. Kita baru bergerak kalau mbak sudah memberikan perintah dan menjelaskan apa yang harus kami lakukan. Kami juga belum pernah menangani segala sesuatunya sendiri. Kami selalu bergantung pada Mbak.

Dan sekarang, kami diserahi amanat yang sangat besar. Sungguh, Mbak, kami tidak akan mampu melakukan semua ini kalau Mbak tidak mendampingi kami    , kata Melati disuatu sore yang indah, persis ditepi kolam ikan belakang gedung Senja, perbincangan dari hati ke hati ini berlangsung.

Bukan hanya itu, Mbak. Saya sendiri mengakui, saya belum bisa apa-apa. Jangankan soal website, posting berita saja masih sering salah. Tulisan saya masih acak-acakan. Saya masih perlu banyak belajar, Mbak. Nanti kalau Mbak tidak disini lagi, siapa yang akan mengoreksi kesalahan-kesalahan saya?

Siapa yang akan memberi semangat kala kami down. Siapa yang akan marah-marah kalau ruangan berantakan? Padahal kalau belum dimarahi kami belum sadar untuk membereskan. Siapa juga yang akan mengajari kami mengatur sagala acara, mulai dari perekrutan, pelatihan, pembagian tugas, sampai aktivitas keseharian M2Net? Siapa lagi selain Mbak Mawar yang bisa melakukannya? Hiks    hiks        , mata Bougenvil mulai memerah. Pertanda ia serius dengan kata-katanya.

Bougenvil benar, Mbak. Apa yang harus kami kami lakukan? Hiks     , Melati melanjutkan.

Hening. Hanya timbul tenggelamnya beberapa ternak ikan dikolam yang jadi pemandangan. Melati dan Bougenvil harap-harap cemas menanti kata-kata yang akan Mawar ucapkan. Semilir angin yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, seolah tak peduli dengan apa yang terjadi. Ia hanya berlalu lalang dan datang-pergi tanpa permisi. Puluhan siswa yang mondar-mandir ke belakang pun hanya melirik heran.

Mawar yang menunduk sejak awal perbincangan, agaknya menghela napas panjang untuk mulai berbicara.

Melati, Bougenvil, apa kalian akan percaya pada kata-kataku?    , Mawar mengawali.

Ya, kami akan percaya    , Keduanya menjawab hampir bersamaan.

Sekarang, apa yang sedang kalian lihat?    .

Kolam ikan yang airnya keruh    , Melati menjawab.

Ya, itu karena kalian menunduk. Coba lihat ke depan! Angkat muka kalian!    , Melati dan Bougenvil pun melakukan apa yang Mawar minta.

Sekarang, masihkah kalian melihat air yang keruh?    

Tidak. Di depan kami ada panorama yang sangat indah. Hamparan sawah dengan padi menguning luas terbentang. Nun jauh disana, terlihat gunung Slamet mengepul. Kalau tangan ini diluruskan, seolah kami bisa menyentuh puncaknya. Benar-benar indah        , Bougenvil menguraikan.

Ya, kau benar. Apa kalian tahu, sesungguhnya kalian bisa menciptakan hal yang lebih indah dari apa yang kalian lihat sekarang?    

Maksud, Mbak?    

Bougenvil, Melati, ketika kalian melihat kebawah, kalian menemukan air yang keruh. Namun ketika kalian mengangkat wajah dan melihat ke depan, kalian mendapati pemandangan yang begitu indah.

Bila diumpamakan dengan apa yang sekarang kalian alami, bukankah itu sama? Ketika kalian hanya menunduk dan mengeluh, kalian hanya akan membuang waktu dan energi untuk menangis. Tapi andai kalian mengangkat wajah, menatap ke depan, dan menggunakan akal sehat kalian, kalian akan menemukan berjuta-juta solusi untuk menghadapi masalah kalian sekarang.

Kenapa? Pasti hati kalian bertanya-tanya.

Saya tidak akan memberitahukan sekarang. Biarlah kalian mencari sendiri jawabannya. Oya, nanti malam saya tunggu di lantai 3 atas asrama kita. Ada yang harus kalian dapatkan disana.    

APA?    , lagi-lagi keduanya menjawab kompak.

Sesuai instruksi Mawar, keduanya mendatangi suatu kelas yang jauh dari kebisingan, jauh dari jangkauan pengurus Al Hikmah 2. Tepat jam 10 malam, seusai pengajian sentral. Rasa ngantuk dan letih yang mengganduli seolah tak berhasil membuat mereka gentar.

Bagus, kalian memang anak-anak yang baik. Aku salut dengan keberanian dan kemauan kalian. Sebagai gantinya, malam ini dan seterusnya, dengan waktu dan tempat yang sama, aku akan mengajarkan segala yang aku bisa pada kalian. Terutama keredaksian dan organisasi M2Net. Meski mulai dari 0, semoga kalian sabar mempelajarinya.    , ucap Mawar yang baru datang dan langsung mengambil posisi diantara keduanya.

Benarkah? Jadi Mbak mau mengajari kami?    , sergap Melati tak percaya.

Mbak, Mawar, bolehkah saya ikut?    , tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu. Spontan semua mata menoleh pada sumber suara khas dan imut itu.

Terlihat sosok gadis berkacamata pink dengan sebuah buku dan pena ditangannya. Tubuhnya yang besar semula dikira pengurus. Namun didengar dari suara khasnya, Mawar bisa menebak siapa dia.

Matahari? Sedang apa kamu disitu? Ayo, masuk! Tapi     bagaimana kamu bisa tahu kalau Mbak ada disini?    , taya Mawar.

Maaf, Mbak. Tanpa sengaja Matahari mendengar perbincangan Mbak di tepi kolam tadi siang. Makannya Matahari kesini. Mbak, boleh ya! Matahari Cuma pingin belajar bareng Mbak. Mumpung Mbak masih disini. Mbak tahu kan menjadi penulis adalah impianku sejak kecil. Ayolah, Mbak! Please        , dengan wajah polos dan memelasnya, Matahari meminta.

Baiklah     Aku tidak keberatan kalau kau ikut. Tapi dengan satu syarat    .

Apa?    , tanyanya dengan antusias.

Kau harus berani menanggung apa pun risiko yang terjadi. Karena kau masih anak baru disini. Kau belum tahu banyak tentang kami dan bagaimana lika-liku perjalanan kami disini. Jadi, aku harap kau mematuhi semua kata-kataku jika kau ingin aman. Kau percaya kan dengan strategiku?    ,

Siap, bozzzz!!!    , dengan mengangkat tangan ke kepala, persis seperti penghormatan pada sang saka Merah-Putih saat upacara bendera, Matahari menyatakan kesanggupannya.

Ok. Melati, Bougenvil, perkenalkan, ini Matahari. Dia siswi Senja kelas satu, satu kamar denganku.    , Mawar mengenalkan.

Hello        , sapa Melati dan Bougenvil.

Hai     senang bertemu Mbak    , balas Matahari.

Baiklah. Sekarang kita mulai saja belajarnya. Sebelum malam terlalu larut    , lanjut Mawar. Tiba-tiba    

Aaaaaaaaaaaggggghhhhhhhhhhh                     MATI LAMPU    , teriak mereka serempak.

Tenang, aku bawa lilin    , kata Matahari sambil mengambil lilin dari kantongnya dan menyalakan perlahan.

Jadilah mereka belajar dibawah cahaya temaram sang lilin. Meski sebenarnya mereka tahu, bahwa itu bukanlah mati lampu. Tapi setiap jam sebelas malam keatas, listrik di Al Hikmah 2 memang sengaja dimatikan. Hal ini dilakukan agar tidak ada lagi aktivitas yang berlangsung diatas jam sebelas. Karena biasanya banyak santri kesiangan kalau tidur larut malam.

Lain soal bagi pemikiran seorang Mawar. Ia justru sengaja memilih tempat yang jauh dari jangkauan pengurus agar aktivitasnya tidak digrebeg dan dibubarkan. Tak peduli cahaya lilin atau listrik, yang penting anak-anaknya _Melati, Bougenvil, dan Matahari_ bisa mendapat bekal sebelum ia benar-benar pergi dari kehidupan M2Net.

Ia terpaksa memilih cara ini, karena tidak ada jalan lain. Hanya diatas jam 10 malamlah, mereka memiliki waktu untuk berkumpul. Karena disiang hari, semua sibuk dengan rutinitas masing-masing. Beruntung, anak-anaknya mengerti dengan strategi Mawar.

Sobat, masihkah Anda disana? Apa yang Anda pikirkan setelah membaca kisah diatas? Masihkah Anda seperti orang-orang awam yang hanya bisa ber-negative thinking pada M2Net?

[/spoiler]

BAGIAN VI
[spoiler effect=simple show=Salah satu judul Bagian VI- SEKALI DI UDARA TETAP DI UDARA ]

Sebuah kesempatan yang terbilang langka. Sebuah keberuntungan yang tak ternilai dengan harta. Sebuah tantangan baru yang akan mendobrak kembali nama Damae Wardani. Sebuah moment yang kan mencetak sejarah baru dalam putaran roda kehidupan. Terlebih, sebuah bukti man jadda wajada     yang pernah saya singgung sebelumnya. Itulah, kembali mengudaranya nama        “Damae Wardani.

Dari Graha Media Pon. Pes Al Hikmah 2, 101.8 Tsania FM

Satu Suara, Milik Bersama

Assalamu           alaikum warohmatulloh wabarokatuh,

Salam Damae, salam sejahtera

Selamat sore sahabat Tsania

Senang sekali, sore hari ini Damae bisa kembali mengudara diruang dengar Sahabat semua di edisi 11 November 2010, dalam acara yang sangat ditunggu-tunggu tentunya, apalagi kalau bukan                                         Pesan-Tren    . Pesan Ngetren yang selalu ter-up date tiap hari Jum           at ini. Yup, selama      satu jam ke depan, Damae akan menemani sahabat beraktivitas sore sambil berbagi pesan-pesan spesial kiriman terbaik dari sahabat-sahabat setia Tsania tentunya. So, jangan beranjak dari channel ini, karena setelah tembang yang satu ini Damae akan kembali lagi.

Yuk, kita dengarkan sejenak senandung Opick ft. Amanda dalam album Semesta Bertasbih, dengan salah satu lagu andalannya        “Satu Rindu           . Damae, will be back.

Demikian salah satu ocehan saya bila sudah masuk ruang siaran. Tak ada lagi rasa nervous atau pun takut salah. Tak ada darah penyiar memang yang mengalir dalam tubuh saya, tapi belajar secara otodidak dan berbekal sedikit pengalaman semasa di Garuda, cukup bagi saya untuk memantapkan langkah menjadi seorang penyiar. Kesempatan kali ini lumayan lama. Satu tahun kurang lebihnya saya disana. Selama itu pula saya berkesempatan memperoleh pelatihan broadcasting langsung di sebuah radio Islami yang berstudio di dalam menara Asmaul Husna, Masjid Agung Semarang. Berkesempatan memiliki banyak followers dan fans yang satu per satunya bahkan saya tak tahu persis siapa dan dari mana mereka berasal. Berkesempatan dikenal oleh orang-orang besar yang sama sekali tak pernah ada dalam lintas pikiran. Abah Masruri (Pengasuh pesantren), Abah Mukhlas (Pejabat Struktural Pesantren), juga keluarga besar Pemilik Pesantren yang tak semua santri bisa dengan mudah dikenali. Tak hanya itu, saya bahkan berkesempatan menjadi announcer dalam event-event spesial yang disajikan dalam format        “Bincang-Bincang Eksklusif Tsania           . Bintang tamu yang dihadirkan pun tak tanggung-tanggung, dari kalangan ulama, menteri dan sederet pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat lainnya yang benar-benar memegang peranan saat itu. Sebut saja Prof. Dr. H. M. Nuh, Mendiknas yang masih menjabat hingga detik ini. Atau Ketua GP Anshor Indonesia yang dua tahun lalu baru terpilih dalam sebuah kongres GP Anshor di Surabaya. Juga ketua Badan Pengembangan dan penelitian pesantren se-Indonesia, Wakil Gubernur Semarang, Bupati Brebes, Ketua SMA se-Brebes, dan sederet pakar kesehatan setempat yang diundang dalam season bincang-bincang kesehatan.

Berikut saya sertakan petikan postingan seorang teman yang meliput salah satu acara Bincang-Bincang Eksklusif Tsania FM    .

Event besar terakhir sebelum saya keluar dari sana, ialah Central Java Radio Network Soft Launching    . Gabungan 6 radio besar dari 6 kota yang berbeda, meniti langkah awal untuk membangun kerjasama dan membangun ukhuwah dalam dunia broadcasting. Digawangi oleh Tsania FM sebagai tuan rumah, launching ini diselenggarakan oleh Mata Air FM Semarang, OZ Radio Bandung, GAUL FM Semarang, Yogyakarta FM, Fast FM Magelang, dan GESMA FM Solo. Tercatat hadir saat itu, wakil Gubernur Semarang, Ibu Rustriningsing. Ya, moment 1 Mei 2011 itulah detik penghujung kiprah saya di Tsania. Bukan karena dikeluarkan, melainkan kepindahan saya setelah menyelesaikan study disanalah yang memaksa saya untuk berhenti menyandang label Penyiar Tsania FM.

Aneka kenangan di radio yang tak kan pernah terlupa, salah satunya ialah surprise guyuran air comberan plus cat hijau, ditabur tepung diaduk dengan telur, kumplit dan persis seperti adonan roti yang siap dipanggang. Kapan lagi kalau bukan moment ulang tahun terakhir saya disana. Ulang tahun yang jatuh pada tanggal 13 bulan 3 tahun 2011 lalu, hitungan ke-18, kado spesial dari segenap kru benar-benar saya abadikan di palung hati yang terdalam. Ini dia cuplikan bukti otentik yang bisa Anda temukan dalam blog saya.

[/spoiler]
BAGIAN VI
[spoiler effect=simple show=Salah satu judul Bagian VI- JURNALISTIK NU AING ]

Jurnalistiiiikkk!!

NU AING!!!

JURNALISTIIIKKKK!!!

NU AING!!!

Begitulah sekelumit potret semangat maba (baca: mahasiswa baru) jurusan jurnalistik yang bernanung dibawah fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gudung Djati Bandung, dalam prosesi OPAK 2011.

Sempat tersentak dan sedikit shock melihat antusias dan kekompakan alumnus juga para pembesar Junrnalistik yang terkenal mental supernya.

Super ramai, super heboh, super kocak, super pede, super solid, super tangkas, super berani, super sabar, super jeli, dan super-super lain yang mengakar dari turunan pertama generasi mereka.

Ok. Perkenalkan ini alumnus dan mahasiswa jurnal dari angkatan 2006 sampai sekarang hadir menyambut kalian. Mari kita salami mereka dengan kode berikut. Kalau urang bilang Jurnalistik!     sok barudak (kawan; bahasa Sunda) jawab Nu Aing!     Ok?

Yuk, kita coba ya! Jurnalistikkkk!    

NU AING!

Heboh panitia OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik) saat Pengenalan Fakultas di kampus utama, Cibiru.

Sejenak tertegun sembari mendekap kedua kaki dengan kedua tangan mungilku. Merapatkannya ke dada, seperti orang menggigil. Posisi duduk tanpa kursi. Beralaskan karpet hijau ciri khas warna bangunan UIN.

Meski mata tak berpaling dari panggung utama, memperhatikan setiap gerik dan patah kata yang terucap dari para senior. Tapi pikiran menerawang jauh menembus pengapnya ruangan dan gaduhnya suasana.

Berada ditengah-tengah mereka bagaikan mimpi disiang bolong. Kiri kanan saya orang asli Sunda yang bahasanya bak planet Mars, masih sangat sulit saya pahami. Adapun yang luar daerah mungkin bisa dihitung jari. Termasuk diri ini yang berkampung halaman nun jauh diseberang pantai Cilacap, Jawa Tengah.

Tak heran jika banyak yang bertanya, Cilacap itu Jawa apa?    . Terkadang juga timbul tenggelam perasaan minder, canggung, dan pede yang bersemayam.Kikuk sekali. Saya ini siapa?

Tak pernah terbayang akhirnya bisa kuliah. Meski tak berhasil masuk PTN favorit, meski banyak guru yang kecewa dengan jalan saya sekarang, meski keluarga tak begitu lega mendengar saya disini, bahkan meski kawan seperjuangan pun shock karena menyayangkan saya terperosok. Tapi bagi saya ini adalah anugrah.

Ya, sepanjang riwayat keturunan keluarga, baru saya yang berhasil tembus PTN. Tanpa bermaksud sombong, karena memang tak ada yang bisa saya sombongkan. Hanya ingin melegakan hati. Mensyukuri apa yang saya genggam sekarang. Membesarkan jiwa dengan belajar menerima keputusan-Nya. Sembari terus berusaha untuk memberi yang terbaik bagi mereka.

Sekarang bukan saatnya saya menyesali apa yang terjadi. Sudah saya ikrarkan, dimana pun kaki saya berpijak, disanalah saya akan berjuang hingga titik darah penghabisan. Tak peduli orang berkata A-Z      tentang konyolnya pilihan saya. Karena apa jadinya saya itu ada ditangan saya sendiri.

Cukuplah mereka melihat dan berkomentar. Semoga saya bisa membalas dengan memberikan secercah senyum dan wujud mimpi yang sedang saya tempuh jalannya.

Ya, harusnya saya bangga. Sejatinya, jurnalistik memang pilihan saya.

JURNALISTIK!!!

NU AING!!!!

***

Begitulah, kira-kira. Hingga buku ini tercetak, saya baru memasuki semester satu. Masih beradaptasi dengan segala hal yang serba baru dalam hidup saya. Termasuk merilis buku ini. Buku yang cukup menguras pikiran, tenaga, waktu, juga materi, demi menyempurnakan sebuah tugas yang berjargon        “berbagi kebahagiaan            dari dosen bahasa Indonesia dalam materi Academic Writing.

    Memang belum sempurna secara keseluruhan. Semoga ketidaksempurnaan ini senantiasa membangkitkan semangat saya untuk terus mencetak jejak-jejak baru dalam lintasan sejarah kehidupan. Mencetak kegagalan-kegagalan lain dalam bereksperimen, demi sebuah perbaikan dan keberhasilan di masa mendatang. Mencetak kepedihan-kepedihan lagi dalam merajut perjuangan yang hingga kini belum bisa dikategorikan        “berarti           . Juga mendaur ulang kefatalan di masa-masa silam, menjadi sebuah kesempatan untuk introspeksi dan lahan pembenahan diri.

Ya, semoga kesempatan itu masih berpihak pada saya.

[/spoiler]
BAGIAN VII
[spoiler effect=simple show=Salah satu judul Bagian VII- MEREKA BERANI MELAKUKAN]

Yang punya satu impian.. ialah Martin Luther King Junior, yang berprinsip Kita tidak boleh dibedakan berdasarkan warna kulit atau panjang rambut. Kita hanya boleh dibedakan berdasarkan isi otak    .

Yang dibilang gila     ialah orang termashur di dunia, Christoper Colombus. Penemu benua Eropa yang kaya sumber daya alamnya, namun beru diketahui setelah dia meninggal.

Yang disebut-sebut sebagai orang biadab     Marco Polo, namun bukunya tentang pengembaraan telah membuka pikiran orang Eropa terhadap peradaban Timur Jauh.

Yang dilecehkan dengan perkataan Hanya burung saja yang bisa terbang         Si Kakak beradik Wright, pemakai onderdil sepeda untuk membuat kapal terbang pertama.

Yang selalu disuruh menyerah     Sir Edmund Hillary, pendaki gunung everest yang pertama kali mencapai puncaknya di ketinggian 9579 meter.

Yang selalu dihasut bahwa manusia tak bisa hidup tanpa jantung     Christian N. Barnand, menjadi orang pertama yang berhasil mencangkok jantung manusia.

Yang selalu dibilang itu mustahil     Neil Alden Amstrong, menjadi orang pertama yang berjalan di bulan.

Yang selalu ditertawakan     Billi PS. Lim, buku yang mengupas kegagalannya berjudul Berani Gagal     kini terjual satu juta eksemplar dan diterjemahkan dalam tujuh bahasa.

Malu rasanya bila perjuangan saya yang sama sekali baru dimulai      terhenti sampai disini. Apa yang tergores dalam buku ini hanyalah sekelumit cerita yang belum ada endingnya. Ya, riwayat saya belum berakhir. Meski tak seorang pun bisa menebak sepanjang apa garis kehidupan yang Allah SWT takdirkan untuk saya, tidak salah rasanya bila saya mengurai semburat mimpi yang akan      mengawali kemantapan langkah dalam tekad bulat dalam sanubari.

Sahabat, saya bercermin dari mereka    

[/spoiler]
width=169

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Investasi Leher ke Atas

Read Next

Indahnya Berbagi Tanpa Tendensi

Facebook Comments

Disqus Comments

damae