Perahu di Bulan Purnama

width=263Pertemuan dengan para seniman, rasanya sayang jika tak dimanfaatkan. Nah, sobat, berikut kiriman cerpen dari bang Alex, ketua umum Komunitas Masyarakat Lumpur yang mau berbagi banyak hal terkait seni selama perkenalan Jambore Sastra 2012 kemarin. Cerpen ini pernah dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik Se-Jawa Timur. Penasaran dengan indahnya guratan pena seniman yang juga jago melukis ini? Check this out!

Perahu di Bulan Purnama

by Anwar Sadat

Aku melihatnya !

Perahu kayu yang terkubur pasir dan berdiri di tepi pantai. Seperti bangkai ikan paus mati tergeletak begitu saja. Menyaksikan buih ombak, tega mengombang-ambing tak peduli. Orang-orang pesisir memungut besi tuanya. Hampir tiada bentuk kerangka yang terlihat.

Pada kesepianku, ini adalah pemandangan hidup sebagai nelayan yang hanya bisa mematar* jaring di tepian pantai saja. jarang ada ikan yang nyangkut atau terjebak di dalamnya. Hanya puing pasawat kabarnya sebulan lalu tenggelam di laut lepas. Tak lebih sampah berderet saat aku angkat jaring pelan-pelan.

Dari tepian pantai, saat tubuh setengah terkubur di laut. Kasim anakku memanggil. Anakku satu-satunya, dia hampir tidak pernah minta uang untuk jajan. Cukup ingus yang bergantung pelan di ujung lubang hidungnya yang ia jilati.

Untuk kesekian kali aku menyahut dan menghampirinya. Biarlah jaring terapung sendiri, menunggu pelayaran ikan-ikan di sela jerat talinya. Karena sebentar lagi akan kuangkat jaring itu.

Ada apa Cong*? aku menyapanya, dengan Bahasa Madura sedikit kaku anakku menjawab. Aku ingin naik perahu itu Pak!

Jangan, nanti kamu bisa dimarahi      pak Rosidin Nak!

Perahu besar yang berdiri di tepi pantai itu milik Pak Rosidin. Seorang nelayan yang terkenal kaya di daerah ini. Dua kapal besar yang dimilikinya bukan hanya saja untuk mencari ikan, kadang digunakan untuk berdagang ke pulau lain.

Setelah keputusan yang aku ucapakan kepada Kasim, sepertinya ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Tak hanya panas matahari yang menyentak. Anakku juga terasa pilu di hati ini. Ketika kupandangi sekuntum wajahnya kuncup, diam dan layu.

Cepat-cepat tangannya kuraih. Menuntun Kasim ketepian. Bernaung di teduhnya pohon waru. Nak, saat ini Bapak belum berani mengijinkanmu naik perahu itu !. dengan usaha dan alasan yang teduh aku berusaha melerai pertikaian hati sang anak.

Sepertinya dia tidak ingin mendengar kata-kataku. Matanya selalu menghayal di ujung perahu. Berdiri sebagai nahkoda kapal pembelah lautan. Kuajak ia pulang agar hayalan Kasim tak begitu membekas. Aku membela dengan harapan-harapan agar mereda tekuk wajahnya. Karena tidak hanya sekali dia meminta kepadaku untuk mengajaknya naik perahu besar itu. Dan tidak hanya sekali aku membuat dia kecewa. Aku merasakan meskipun tanpa dia bicara, atau menangis di hadapanku.

Sampai saat ini aku masih memikirkan setiap kata yang kulontarkan kepada anakku kemarin. Pagi-pagi buta, aku duduk dalam cemas di ujung telaga. Karena aku lebih suka melihat sinar matahari yang menyentuh bibir laut, dari pada menyaksikan senja sore yang hanya sebentar lalu tenggelam. Aku lebih suka memandangi matahari pagi, karena semakin lama lukisan langit semakin jelas dengan warna yang ada di bumi. Dari pada melihat bulan purnama yang hanya bersinar dalam kegelapan.

Kucuran waktu seolah sia-sia. Menjadi angin menjagai telinga. Meniupku untuk berdiri. Kerikil di genggaman tangan kulempar ketengah laut. Lepas dari pandanganku, lalu aku sudahi senggama ini dengan suara pantai. Akan kupandangi wajah Kasim lama-lama setelah perjalanan pulang ini, dan aku menyesal.

Usia anakku hampir sejajar dengan jaring yang sudah lapuk itu. Bulan yang akan datang usianya genap tujuh tahun. Anakku Kasim tidak sekolah seperti anak-anak yang lain. Siapa yang salah? pastinya aku. Seharusnya dia berangkat dari rumah bukan mencari kerang atau menumpuk batu karang kering. Seharusnya dia berangkat untuk memahat tulisan masa depan di atap kepalanya.

Apa yang dapat aku berikan kepada dia, yang terbaik untuk anakku. Sementara hari terus mengisi kepenatan. Menjejal kepala dengan pikiran-pikiran kosong. Aku putuskan tidak melaut saja. Lebih baik aku menghabiskan waktu untuk membuat perahu kecil dari kerocot* kelapa. Aku tidak boleh membiarkan anakku dalam kecewa berlarut-larut. Aku ingin dia bahagia, memaparkan tingkah selayaknya anak pantai. Memijakkan kaki di atas pasir dan berjanji tidak akan mengubah warna Negeri yang tercipta untuk dia arungi sendiri.

Bila air pasang, pertanda angin akan bertiup kencang. Panas matahari sedikit tak terasa menyengat. Kubawa Kasim menyisir garis pantai kearah timur, mencari pohon kelapa yang sekiranya bisa aku panjat. Dalam setengah perjalanan Kasim mengeluh lelah. Keringat di dahinya juga melambai. Dengan senang hati aku gendong di atas pundak sampai aku menemukan gundukan pasir yang ditumbuhi pohon kelapa.

Ini yang aku inginkan dari sekian pohon kelapa yang tumbuh, hanya satu pohon menaruh kerocot di tubuhnya. Mungkin Tuhan sedang mendengar pintaku.

Turunlah Nak, itu ada satu kerocot kelapa. Bapak akan memanjat pohon kelapa yang tinggi dan besar itu.

Biarlah aku bisa paksa diri walau angin terus menyambar tubuhku dan membawa aku hampir terpeleset dari atas pohon dan membuat tangan lecet. Di sini awal untuk memulai menanam bunga di hati Kasim. Meraut kerocot seperti menikmati wajah Kasim pelan-pelan, mencari bentuk perahu yang ada dalam pikiran anakku. Di samping kiri dia duduk, kasim tidak pernah melepaskan pandangan matanya. Seakan-akan dia Arsiteknya dan aku adalah kuli bangunan.

Tidak hanya sekali tanganku terluka. Teriris harapan di antara serat kerocot yang aku raut. Sampai beduk Ashar terdengar, senja mengambang. Hampir keseluruhan perahu kecil telah selesai, termasuk layar dan tiangnya. Kelihatan di wajahnya, anakku tidak sabar karena lama menunggu. Tapi tubuh Kasim terburu lelah dan akhirnya pelan-pelan dia tertidur.

Suntuk sudah tiba. Kugantung mata di sekitar rumah untuk melepas lelah, tapi tidak lama. Karena aku memang benar-benar tidak suka melihat senja sore. Dan aku juga enggan melihat luasnya tempat ini yang sudah tidak lagi tumbuh pohon cemara. Bahkan tanaman bakaupun tumbuh jarang-jarang. Hanya batu karang mati yang ditumpuk untuk dijadikan pagar pembatas perkarangan rumah oleh orang-orang sekitar kampung ini. Sebentar lagi perahu kecil akan selesai. Sampai larut malam aku masih ingin menikmati pemandangan perahu kecil yang akan mengantarkan masa depan Kasim.

Pagi-pagi biasanya aku terbangun awal subuh. Menata embun di telinga belantara laut. Mengisi ruang-ruang jiwaku yang kosong. Tapi sekarang bukan itu lagi. Anakkulah yang terlebih dulu mengisi kekosongan itu. Dia bangun dari tidurnya dengan wajah penuh bunga lebih dari belantara laut.

Anakku bersorak gembira. Mengangkat tinggi-tinggi kapal kecil yang telah aku ciptakan dalam suntuk malam. Kasim menyuarakan perkenalan bahagianya kepada laut.

Inilah kapalku yang akan mengarungi tubuhmu wahai laut..aku akan kalahkan ombakmu! teriak Kasim di tepi pantai. Melepaskan perahu kecil itu di bibir laut. Bila ada ombak yang datang, dengan sombong anakku menghalangi dengan tubuhnya. Agar perahu kecil miliknya tidak terhempas terlalu jauh. Kadang dia menyelam di bawahnya atau mengawasi dari belakang.

Sampai matahari siang meninggi. Kala itu pasti banyak ikan-ikan menepi. Kasim seperti tidak ingin perduli untuk menghitung waktu dengan semua yang ada di dekatnya. Dia terus berjalan menelusuri karang-karang mengikuti jejak perahu kecilnya. Senyuman dan tawa meluntah-luntah. Tiba-tiba Aduh seperti ada yang menancap di kaki kirinya. Semakin lama semakin terasa perih.

Wajahnya pucat melihat darah beterbangan di sela telapak kaki. Dia menginjak sesuatu yang berduri, karena dia kira itu batu karang. Ternyata bukan, itu mahluk laut berwarna hitam. Durinya panjang dan beracun. Perih menjalar dan menyerang seluruh tubuhnya, Kasim menangis, bibirnya gemetaran. Pucat wajahnya terpaku.

Apakah itu..aku tidak pernah melihat mahluk itu sebelumnya. Sepertinya aneh!. Bising ombak dan warna asin lautan menambah pedih luka yang tersayat. Bahkan dia tidak sempat memikirkan perahu kecilnya lepas terseret ombak. Lepas dari pijakan air laut beban kakinya terasa lebih berat. Kasim menyeret kaki dengan kedua tangannya, bergesek dengan lumpur dan meninggalkan bekas darah yang meresap di bulir-bulir pasir. Dia benar-benar tidak sempat memikirkan perahu kecilnya pergi entah kemana.

Angin bertiup semakin kencang, Kasim sudah tidak mampu menahan panas matahari menyengat di kepalanya. Perubahan angin mengarah keselatan. Pertanda pergantian ombak semakin besar. kasim masih mencoba berjalan menuju perahu besar yang terikat di tepi pantai itu dengan maksud berteduh di dalamnya.

Nafas yang tertahan sesak kini terurai pelan. Namun masih terasa sakit meskipun tubuhnya rebah bersandar di antara rangkaian kayu tua penyanggah dalam perahu. Dalam waktu yang tidak lama Kasim mendengar suara di luar sana. Kasim mendengar semakin dekat dan langkahnya semakin jelas.

Itu suara Pak Rosidin, pemilik perahu besar ini. Ketika anak itu melepaskan matanya yang pejam menahan sakit, Pak Rosidin sudah ada di depannya. Ia ternyata tidak sendirian, ia bertiga dengan teman-temannya yang hendak akan melaut. Kasim terkejut, badannya terasa dingin tiba-tiba.

Hei, kau ingin mencuri barang-barangku ? bentak Pak Rosidin, dan suara temannya yang lain mengikuti bentakan lebih besar. Suaranya keras dan terasa kasar. Mulut Kasim terbungkam oleh darahnya yang berhenti mengalir seketika memucuk di atas kepala.

Tak ada orang di sana, hanya mereka bertiga. Tanpa menjawab sepatah katapun dan seperti sambaran petir tamparan keras jatuh di pelataran pipinya. Tidak puas dengan satu tamparan saja, Pak Rosidin membekam tubuh ringan itu. Menyeret lalu melemparkan keluar. Tubuh Kasim terjungkal di atas pasir. Ini hal yang remeh bagi neleyan berkulit hitam itu. Tapi bagi Kasim ini beban berat, karena dia seoarang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Perahu kecilku hilang

Semua berlalu tanpa menghiraukan tetesan airmata terahir dari sekian ribu airmata yang terbuang sia-sia di mata Kasim. Perahu besar itu pergi, suara mesinnya terus memaki-maki dan akhirnya lenyap. Tapi begitu membekas di dalam hatinya. Hati Kasim.

Kesombongan waktu bahagia larut bersama perahu kecil yang telah hilang di telan kejahatan ombak yang tak berbisik. Merampas setiap detak ketulusan tanpa tawar menawar. Perbedaan bukan semata hak milik mereka yang telah pergi jauh menata kesombongan waktu itu sendiri.

Saat pulang tanpa perahu kecil. Kepala Kasim masih terasa pusing. Kakinya pincang dan memar di pipinya. Aku melihat kecemasan semakin mengambang, berdatangan pertanyaan-pertanyaan buruk berbahasa madura dari mulutku. Hampir semua tidak bisa diartikan. Tapi itu adalah kalimat pertanyaan yang semakin membentak. Agar Kasim satu-persatu menceritakan semua yang telah terjadi.

Pencarian pikiranku langsung saja mengarah ke pemilik perahu besar itu. Ternyata benar, Kasim bercerita ini ulahnya, ulah Rosidin. Kelihatan dari potongan rambutnya, keriting, panjang di belakang lehernya. Warna kulit hangus terbakar seram. Sangat benar sekali. Benar-benar jahat orang itu.

Bayang-bayang wajah Rosidin terkepung di keruh air ludah. Memaksa untuk membuka mulut dan lidah menghempaskannya muncrat keluar dari mulutku. Ludah tak berarti, kenapa masih muncul penuh dengan wajah itu lagi. Kali ini aku telan walaupun akan menjadi racun di perutku, menyebar keseluruh tubuh, menjadi kebencian yang tidak akan pernah sembuh dari kesadaranku.

Lima belas tahun yang lalu. Aku memang pura-pura tidak tahu permasalahan Rosidin dengan istriku. Diam-diam aku melihat dari celah bilik rumah. Dia mencumbui Istriku, sampai ahirnya sempat terjadi pertengkaran antara diriku dengan Rosidin.

Kala itu dia melawan. Emosinya melebihi rasa malu yang dia tanggung sendiri atas luka hati. Tak cukup matahari membakar kesabaranku. Aku berlari mengambil sebatang celurit yang saya selipkan di belakang kandang sapi. Karena aku sudah tidak tahan menyaksikan kelakuannya berkali-kali tanpa kuketahui. Melihat kemarahanku di ujung celurit ia lari dari ancaman beku di otak ini.

Tapi permasalahan itu hampir terlupa. Setelah kematian istriku yang terkena serangan jantung. Bukan maksud aku tidak benci melihat wajahnya. Tapi kenapa engkau lampiaskan dendam kepada anakku, anak semata wayang yang selalu kuhindarkan dari kata-kata kasar.

Satu minggu berlalu. Karena beban racun yang sudah menjalar di tubuhnya sampai saat ini anakku masih tekulai rapi di atas ranjang. Tubuhnya rata, mulutnya rapat, tidak ada selera makan di sana. Ia hanya minum tetes air mataku sepanjang malam. Ini kesedihanku yang paling mendalam.

Apakah harapan ini akan terpenggal dengan waktu yang tidak ingin mengalir. Atau akan terpajang menjadi bait puisi. Aku hanya bisa menahan tangis. Walaupun suara doa berbutir-butir. Tuhan mungkin lebih menginginkan      anakku menghembuskan udara segar dari mulutnya untuk yang terahir. Selamat tinggal anakku.

Hidup memang tidak pernah lepas dari permasalahan. Saling betumpang tindih harapan yang tak mungkin selamanya akan terwujud. Satu keinginan di antaranya pasti akan terpenggal sebagai wujud duka maupun duka.

Setelah kepergian anakku, wajahku terpasung di tepian telaga. Memaksa diri melihat bulan yang aku benci selama ini. Sampai akhir bulan purnama tenggelam di sela langit hitam, aku menatapnya dalam-dalam.

Kini, purnama itu ada dua.

Purnama Istriku dan purnama Anakku

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           (musim hujan)

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Bangkalan, 2008

Keterangan:

Mematar                : menjejer

Cong                : Bahasa Madura berarti panggilan untuk anak kecil

Kerocot                : Pelepah bunga pohon kelapa

Biodata penulis:

Anwar Sadat, lahir di Bangkalan, 18 juli 1982.

Alamat, jalan Airmata Pandiyan Arosbaya Bangkalan Madura. Saat ini masih aktif dalam menulis naskah drama, cerpen dan aktifitas kesenian di Bangkalan. Antologipuisi Sastrawan Mutahir Muda Jawa Timur Pasar Yang Terjadi Pada Malam Hari tahun 2008. Antologi bersama Nobel Buat Adinda tahun 2007. Antologi puisi Malsasa tahun 2007. Pameran duet Seni rupa dan instalasi Detak Pertama 2007. Menjabat sebagai Ketua umum di Komunitas Masyarakat Lumpur. Pembina teater Exatsa di SMA dan guru Kesenian di SMA.. karya yang lain diantaranya Film Puisi Manusia tahun 2007, Film Edukasi Derita Pak Tani tahun 2007. Film Edukasi menari di atas Pelangi tahun 2008.

No Hp: 085.645 311 768

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Jambore Sastra dan Komunitas Masyarakat Lumpur

Read Next

Tangkuban Perahu dan Cihampelas, The Untold Story

Facebook Comments

Disqus Comments

damae