Pemberhentian

Bagaimana rasanya menempuh 817 km dalam sepekan terakhir?

Menyenangkan.

Benarkah? Haruskah kucoba juga?

Coba saja.

Apa yang menyenangkan dari perjalanan itu?

Banyak. Kau bisa memaki-maki dirimu sendiri sepanjang jalan. Kau juga bisa menyicil untuk membuang kesedihan, kekecewaan, dan semua derita yang kau rasa, di setiap pemberhentian kereta dan bus yang kau naiki, agar semua kesakitan itu tidak menghantuimu lagi.

Yakin tidak ada yang memungutnya?

Aku melemparnya tepat ke dalam tong sampah. Bukan salahku jika ada yang mengais sampah itu, termasuk semua kesedihanku.

Jadi, kau sudah baik-baik saja sekarang?

Belum sepenuhnya. Tapi sudah tidak separah beberapa hari lalu.

Kau bilang, memaki-maki dirimu sendiri sepanjang jalan. Boleh kutahu alasannya?

Karena semakin kurenungi, semakin aku merasa jadi manusia paling bodoh dan paling hina.

Kok bisa?

Bodoh karena gagal mengenali ketidaktulusannya. Bodoh karena gagal mendeteksi semua kepalsuan perasaan yang dia berikan. Bodoh karena percaya dan mempercayakan hatiku pada seseorang yang sama sekali tidak layak menerimanya. Padahal selama ini aku berlagak seperti cenayang. Kamu tahu, Angin, menjadi seseorang yang paling tidak tahu apa-apa, mungkin terasa lebih baik ketimbang merasa tahu segalanya.

Bagaimana jika perasaannya memang benar dan dia tulus tentang itu?

Pria mana yang akan membiarkan wanitanya terluka, jika dia benar-benar mencintai wanitanya? Pria mana yang tega meninggalkan wanita yang dia cintai demi memilih wanita lain, hanya karena tidak ingin wanita lain itu terluka olehnya? Bahkan hewan jantan pun tahu kalau dia rela mengorbankan nyawanya demi betina yang ia kasihi, apalagi manusia yang mengaku sebagai pria.

Kamu benar. Jika dia serius mencitaimu, harusnya orang pertama yang dia lindungi itu dirimu, bukan wanita lain.

Itulah kenapa aku merutuki diriku sendiri. Andai aku tahu lebih awal kalau semua harapan dan cinta yang dia tawarkan itu tidak lebih dari kemunafikan, harusnya aku tidak membuka hati dan tidak terperosok sedalam ini.

Lalu kenapa kamu merasa paling hina? Harusnya dia yang jadi makhluk paling hina di matamu setelah semua yang dia lakukan.

Karena aku gagal menjaga harga diriku. Aku merasa sangat malu dengan semua kebodohanku dan itu melukai harga diriku.

Jadi selama ini kamu lebih banyak merutuki kesalahanmu ketimbang merutuki dia?

Campur-aduk, lebih tepatnya. Bahkan di antara semua rasa itu, aku menyadari ada rindu yang diam-diam menyelinap.

Rindu?

Iya, ada hari di mana aku sangat tersiksa karena merindukannya, Angin.

Wah, sekarang giliran aku yang gagal. Gagal paham sama perasaanmu.

Aku sendiri pun gagal paham.

Tapi apa yang kamu rindukan dari orang yang sudah mencabik hatimu? Apa?

Dirinya. Seutuhnya. Aku rindu suara lembutnya yang bisa membuatku tertidur dalam sekejap. Aku rindu dongeng-dongengnya yang bisa membuatku penasaran, bertanya lebih dalam, sesekali tertawa, tersipu, dan bahagia pada saat yang sama. Aku rindu bercengkrama dengannya di persimpangan zona waktu, membicarakan berbagai hal yang bukan tentang kami. Aku rindu melihat hasil masakannya, meskipun belum pernah satu kali pun aku mencicipi. Aku rindu cara dia menikmati buku-buku bacaan yang bisa ia kuliti sepanjang hari. Aku rindu kesabarannya mendengarkan keluh kesahku yang mungkin sesekali terdengar kekanak-kanakkan. Aku rindu pengertiannya, do’a-do’anya, senyumnya. Bahkan meskipun sekarang aku tahu kalau dia hanya pura-pura, aku rindu kalimatnya tentang bagaimana dia mencintaiku dan memperjuangkanku. Aku rindu semua itu, Angin.

Huhft.. Sudahlah.. Rindu itu tidak akan pernah terbalas. Kamu hanya akan semakin menyakiti diri sendiri.

Aku tahu. Tapi pada saat yang sama, di antara rasa sakit itu juga ada rasa bahagia. Aku bahkan sempat berpikir, bukan dirinya yang menghilang yang kutakutkan. Tapi cintanya. Aku lebih takut kehilangan cintanya ketimbang kehilangan dirinya.

Sekalipun cinta itu pada akhirnya hanyalah dusta?

Iya, biarkan aku mencintai caranya berdusta.

Hm. Kamu bilang sendiri di awal tadi kalau kamu sudah membuang semua perasaan itu di jalanan.

Setidaknya, ijinkan aku merindukan dia untuk terakhir kali.

Tapi itu terlalu dalam. Jangan-jangan, kalau dia tiba-tiba kembali, kamu akan dengan segenap lapang dada menerimanya lagi.

Mungkin.

Mungkin? Bukankah harusnya kamu berkata tidak?

Cintaku dan hatiku jauh lebih besar berkali-kali lipat daripada kesalahannya, Angin. Mungkin aku akan menerimanya sekali lagi, dengan catatan dia tulus meminta maaf dan tulus mencintaiku.

Hadeuh.. Aku benar-benar kehabisan kata-kata.

Bukankah setiap orang pernah berbuat salah? Dia dan aku pun juga.

Apa kesalahanmu?

Membuatnya telalu lama menunggu. Aku tahu hal itu juga membuat dia sedikit terluka. Meskipun aku sudah berkali-kali memintanya berjalan pelan-pelan.

Kan sudah kubilang, selama apa pun dia menunggu, kalau benar dia mencintaimu, dia tidak akan berpaling.

Aku tahu. Tapi itu tidak mengurangi rasa bersalahku. Karena aku yang bukan siapa-siapa, aku yang tidak lahir dari keluarga berada, dan aku yang tidak bisa menjamin masa depannya akan bahagia, juga membuatku merasa bersalah. Andai aku punya semua itu, mungkinkah dia akan melihat ke arahku sekali lagi, Angin?

Sudahlah.. Toh, dia tidak mungkin berbalik arah menujumu lagi. Bahkan meski kau punya segalanya dan itu yang membuatnya memilihmu, terus apa? Kalau dia sudah berhasil mendapatkan segalanya, terus apa? Apakah itu menjamin kebahagiaan?

Tentu saja tidak jadi jaminan. Tapi setidaknya jalannya lebih mudah.

Jangan lekas berasumsi. Bukankah, Epictetus sudah mengingatkan manusia sejak dulu, “Nilai seseorang itu dilihat dari cinta yang ia bagikan, bukan cinta yang ia dapatkan.” Kalau dia memilihmu karena semua yang kamu miliki, demi mendapatkan jalan kebahagiaan yang lebih mudah, itu berarti dirinya tidak lagi bernilai sama sekali. Kamu mau jadi orang yang menjadikan dia kehilangan nilai kemanusiannya sendiri?

Tidak.

Ya, sudah. Cukup yakini saja kalau kelak akan datang seseorang yang tulus mencintaimu, tulus memperjuangkanmu selama apa pun itu, dan mau berjuang bersamamu dari nol. Karena kebahagiaannya adalah dirimu, dan itu juga berarti kebahagiaannya adalah kebahagiaanmu.

Hm. Baiklah. Aku percaya. Sekarang aku hanya perlu kuat melihat punggungnya menjauh, sembari menggenggam tangan wanita lain yang punya segalanya.

Tak perlu dilihat. Biar aku yang menggantikan matamu untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Kamu hanya perlu menyelesaikan semua perasaan itu. Jangan sisakan apa pun. Bila perlu, berkelanalah lagi. Carilah sebanyak mungkin pemberhentian bus, kereta, kapal, atau pesawat, yang bisa kau jadikan tempat pembuangan perasaan.

Nanti. Sekarang biarkan aku menikmati rasa rindu ini, sebentar saja.

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Tentang Logika

Read Next

Sekuntum Mawar di Tepi Jurang

Facebook Comments

Disqus Comments

damae