Pelan-Pelan

Hai, Angin. Lama sekali kita tak bersua. Maafkan aku yang hanya menyapamu saat hatiku lelah, jiwaku gundah, atau hidupku hancur. Maafkan aku yang hanya ingat padamu saat orang lain meninggalkanku. Maafkan aku yang juga kian hari kian jarang, bahkan sepertinya ratusan purnama kita tak duduk bersama lagi.

Hm, basa-basimu masih saja basi seperti dulu. Ada apa kau memanggilku?

Hehe.. Begitulah. Nyatanya aku memang tak begitu pandai merayu. Buktinya sekarang hatiku hancur lagi.

Nggak apa-apa. Toh, hatimu sudah biasa hancur. Sudah terlatih.

Tapi rasa sakitnya tetap sama.

Ya, memang. Bahkan mungkin lebih sakit, kan?

Iya. Aku yakin pasti sembuh. Berapa pun waktu yang kubutuhkan, aku akan menanggungnya. Tapi aku tidak yakin hati ini bisa kubuka lagi suatu saat nanti.

Sudahlah.. Tidak perlu dipikirkan sekarang, tidak perlu dipertanyakan sekarang. Apalagi, itu bukan tugasmu. Yang harus kamu lakukan sekarang hanya menerima dan merelakan apa yang seharusnya pergi. Biarlah dia pergi.. Lepaskan dirinya dari hatimu.

Jadi begini rasanya kehilangan rasa, sekali lagi.

Kehilangan? Sejak kapan kamu memiliki dia dan siapa yang mengatakan kamu berhak memilikinya?

Nggak ada. Aku yang terlalu serakah mengatakannya.

Nah. Tak usahlah mengklaim.

Aku tidak mengklaim.

Rasa kehilanganmu itu sama dengan mengklaim.

Apa harus memiliki dulu untuk merasa kehilangan?

Iya.

Kenapa?

Karena kamu akan tetap baik-baik saja kalau rasa memiliki itu nggak ada di hatimu.

Merasa memiliki itu tidak sama dengan benar-benar memiliki, kan?

Perasaan memiliki itu justru lebih berbahaya, atau malah lebih agung, dari benar-benar memiliki. Kamu bisa merasa memiliki meskipun tidak benar-benar memiliki. Tapi kamu juga bisa benar-benar memiliki tanpa merasa memiliki. Pertanyaannya, adakah sesuatu yang benar-benar kamu miliki, saat dirimu sendiri saja bukan milikmu?

Hm. Lalu, harus kuapakan perasaan ini?

Letakkan sejenak. Pelan-pelan, lepaskan. Hingga tak tersisa seujung kuku pun perasaan itu. Sekarang dinikmati saja dulu. Aku tahu itu tidak mudah. Biarlah ia mengalir, menemukan jalan keluarnya sendiri.

Pelan-pelan?

Iya, pelan-pelan.

Menyebut kata ini, membuatku kembali berpikir. Jangan-jangan, keahlianku untuk melakukan segala sesuatu secara pelan, adalah pemicu utama dari semua kehancuran hati yang selama ini menimpaku.

Maksudmu?

Sudah tak terhitung berapa kegagalan yang kuciptakan karena kepelan-pelananku. Selalu terlambat menyadari perasaan yang dianugerahkan. Ketika aku mengerti bahwa ada rasa yang hadir di hatiku, orang itu sudah beranjak, siap-siap berkelana ke hati lain, dan meninggalkanku sendirian.

Kadang berjalan pelan itu membuatmu mengamati apa yang ngga kamu lihat saat berlari. Perasaanmu boleh jadi terlambat. Tapi orang yang tepat akan tetap tinggal, akan tetap bertahan, akan tetap ada untukmu, seterlambat apa pun kamu menoleh dan menyambut uluran hatinya. Dia akan memerjuangkanmu, meski kematiannya menjadi harga yang harus ia bayar. Ia bahkan tidak akan melepaskan hatimu, meski kalian berbeda dunia. Toh, nggak semua hal harus terjadi sesuai keinginan, dan nggak semua keinginan akan menjadi kebaikan sekalipun kamu berusaha mati-matian untuk mewujudkan.

Jika ia memilih pergi?

Artinya dia tidak layak untukmu.

Sesimple itu?

Iya, hidup itu sesimple itu.

Tapi bagaimana kalau hatinya dikalahkan logika? Dalam hubungan, bukankah cinta saja tidak cukup?

Cinta saja tanpa logika memang buta. Tapi logika tanpa cinta, itu tuli, karena ia mengabaikan suara hatinya sendiri. Logika bisa jadi penuntun jalan, tapi menjalani jalan yang dipilih itu mustahil tanpa hati. Lalu, di antara logika dan hati, manakah yang tak bisa kau paksa untuk tumbuh, kau minta untuk jatuh, kau tunggu untuk hadir?

Cinta.

Dan, itu berarti logika bisa dikompromi, tapi tidak dengan hati. Ia memiliki jalannya sendiri. Itulah mengapa Mbah Tedjo bilang, “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.”

Bagaimana berkompromi dengan logika?

Hadir utuh, penuh, di sini, kini. Cukup pikirkan saja hari ini, masa kini, yang dialami saat ini. Tak perlu merisaukan masa depan. Jika kau hidup 50 tahun lagi dan kau menghitung semuanya hari ini, kau akan lelah sendiri. Tapi kalau kau berpikir, “Aku hanya perlu bertahan hidup hari ini, “ dan kau ulangi setiap hari, tahu-tahu 50 tahun terlewati begitu saja. Tanpa keberatan yang berlebihan. Bukankah hakikatnya manusia diciptakan dengan kemampuan bertahan hidup, apa pun yang terjadi? Kenapa dirimu sendiri mengingkari kemampuan dirimu?

Jadi, kita tidak perlu memikirkan masa depan?

Tentu saja harus memikirkan. Tapi memikirkan untuk merencanakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Bukan untuk menakuti diri sendiri.

Kalau kemungkinannya hanya berakhir pada penderitaan?

Kenapa tidak dibalik saja pertanyaannya: semenderita apa pun itu, asalkan dilalui bersama orang yang dicintai, dikasihi, dan disayangi, akan terasa baik-baik saja? Lagi pula, itu baru kemungkinan yang dilihat menggunakan sudut pandang sekarang. Mungkin, ada kemungkinan lain yang akan terjadi di depan sana, dan kau menggunakan sudut pandang yang baru saat kau mengalaminya nanti. Lagi pula, kekuatan cinta yang tulus, kerap menciptakan keajaibannya sendiri. Percayalah, akan selalu ada jalan untuk orang yang tidak putus asa. Bahkan meski benar-benar tidak ada jalan, kekuatan cinta akan mengeluarkan energinya, menyalurkannya kepadamu untuk membuat jalan sendiri.

Bagaimana kau bisa begitu yakin?

Karena aku tahu mengapa manusia disebut makhluk yang paling sempurna.

Mengapa?

Manusia dilahirkan dengan akal dan hati, dua bekal yang tak dimiliki makhluk mana pun selain manusia, bukan untuk saling mengalahkan, tapi untuk saling berkompromi, menemukan titik tengah, dan bersikap adil pada dirinya sendiri.

Maksudmu?

Tidak ada akal yang mengalahkan hati. Begitu pun sebaliknya, tak ada hati yang mengalahkan akal. Keduanya, akal dan hati, tidak pernah bisa dibandingkan, karena sejak awal memang dicetak berbeda. Dan, perbedaan itu ada untuk saling melengkapi, bukan saling mengalahkan.

Jadi, apa yang harus dilakukan untuk membuat keduanya saling melengkapi?

Temukan titik tengahnya. Jujurlah pada dirimu sendiri.

Caranya, Angin?

Hm, pelan-pelan. Nggak semua harus ada jawabannya sekarang, kan?

Iya.


Angin pun berhembus mesra, meninggalkan perpisahan yang menyenangkan.

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Justru Karena Aku Perempuan, Aku Tak Boleh Berhenti Belajar

Read Next

Tentang Logika

Facebook Comments

Disqus Comments

damae