Opik #1: Aku Lama Nggak Makan….

Hai! Beberapa minggu ke belakang blog ini serasa terbengkalai. Jelas nggak disengaja. Cuma ada sesuatu yang lagi menyita perhatian dan jitu banget buat mengacaukan rutinitas ngeblog. Whatever, mulai sekarang aku bakal berusaha konsisten lagi. Terutama buat ngupas topik-topik kece yang dijamin bikin kamu ketagihan. Kukasih nama dia “Opik” alias Obrolan Topik.
And, this is the first:
“Aku lama nggak makan … (titik titik titik) dan sebutin kapan kamu terakhir makan itu!”
Topik ini baru kepikir sejam lalu. Posisi di perjalanan dari Taman Sari ke Soekarno Hatta. Lebih tepatnya saat perut bunyi “krucuk..krucuk..krucuk” di tengah kemacetan malam Minggu-nya (eh, Sabtu malam buat jombloers) Bandung. Pasti syaraf otak langsung terangsang dan terbayang: makanan.
Nah, ngomongin makan, siang ini aku ketemu sama makanan yang sudah lamaaaa banget nggak kumakan. Malah aku lupa kapan terakhir aku makan itu. Padahal itu bukan makanan yang susah dicari. Di jalan yang saban hari kulalui, buanyaak banget yang jual. Bukan juga makanan mahal yang nguras kantong anak kos. Kisaran 6-10 ribu saja.
Makanan apa itu?
Mie ayam.
That’s right. Mie ayam. Cuma semangkuk mie ayam. Dan aku lupa kapan terkahir makan itu.
Entah angin apa yang bikin aku ngedadak ingat, terus ngebet banget nyari penjualnya. Pokoknya tadi siang aku terkantuk di bus menuju Dewi Sartika, sempat pulas beberapa menit. Begitu bangun dan bus mendekati Alun-Alun Bandung, hal pertama yang terlintas di kepala dan keabsurdan mata adalah: Mie Ayam.
Jadilah aku ngidam seketika. Turun bus, ngelarin hunting beberapa majalah, langsung cusss. Nyari penjual mie ayam sesuai rekomendasi dan petunjuk jalan dari penjual majalah. Meski harus jalan kaki beberapa menit. Sempat ragu juga dengan kenikmatan rasa karena hanya ada satu penjual -padahal katanya ada banyak-, kuputuskan masuk warung emperan itu.
Kupesan dua mangkuk mie ayam original (tanpa bakso) dan dua gelas es jeruk. Tenang, aku tidak serakus itu. Dua itu ya buat dua orang, aku dan sohibku. Duduk manis menunggu penjual merebus mie, menyiapkan mangkuk, memasukkan beberapa bumbu, mengangkat mie dan menaruhnya di dalam mangkuk. Mie diaduk dengan bumbu, ditambah sayur hijau dan suwiran ayam yang sudah dimasak dengan racikan khas.
Mie ayam diantar ke meja yang kupilih. Dan, hmmm… aromanya menggoda!
Kuaduk rata seisi mangkuk dan langsung kucicipi. Yummyyyy… suer! Rasanya mirip sama mie ayam favoritku di kampung halaman. Tekstur mie-nya juga sama. Paduan bumbu kuning (yang terbuat dari ulekan kunyit, laos, bawang merah putih, ketumbar, merica, kemiri, jahe, dan garam) dengan kecap dan daun bawang, pas banget buat olahan suwiran ayamnya.
Puas icip-icip rasa ori, kutambah sambal (bukan saos). Maknyuuussss tenan! Memori langsung loncat ke kampungku. Satu-satunya mie ayam (dan bakso) yang kusuka ada di sana. Dan, aku nemuin lagi kenikmatannya di sini. Warung emperan di jalan Balong Besar. Dari Dewi Sartika lurus ke arah jalan Pungkur, warungnya di posisi 3/4 dari keseluruhan deretan warung lain.
Apalagi es jeruknya. Beuuuh.. Cessssss… adem, suegerrrr, dan kecut-kecut gimanaaa gitu. Mixing yang klop! Kawin banget sama rasa pedesnya mie ayam. Es batunya sampai kukletuk-kletuk. Saking pingin nambah! Tapi takut kekenyangan dan mengurangi kenikmatan. So, kutahan kelezatan mangkuk berikutnya untuk lain kesempatan.
Oya, harganya? 7 ribu saja, sob! Murmer bangeeeeet. Es jeruknya 4 ribuan. Total 11 ribu, cukup terjangkau buat anak SMA, mahasiswa, pegawai kantor, atau buruh pabrik. Sayangnya aku lagi tobat buat take picture makanan (lebih tepatnya ini alibi buat nutupin nafsu makanku, baru ingat belum ambil foto si mie ayam setelah mangkuk bersih, hihihi).
Semoga suatu hari nanti bisa mampir ke sana lagi. Mie ayam yang lamaaaa benget nggak kumakan.
Eniwei, gimana denganmu, sob? Boleh banget diceritain:
“Aku lama nggak makan … (titik titik titik) dan sebutin kapan kamu terakhir makan itu!”
*Best thanks to Chilo for today, met malming with guling 😀

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Bangunkan Aku

Read Next

Simfoni Abah Masruri #1

Facebook Comments

Disqus Comments

damae