My Private Hero

dewi_yull
Dewi Yull

Namanya sederhana. Orangnya sederhana. Kebahagiannya juga sederhana. Tapi semangat hidupnya luar biasa. Tak peduli menjadi babu di negeri sendiri atau di negeri orang.
Masa mudanya habis untuk bekerja dan memperjuangkan keluarga. Siapa sangka, dari gadis yatim (kini juga piatu) yang hanya lulus SD ini, lahir dua (calon) sarjana.
Tingginya tidak lebih dari 150 cm. Tubuhnya berisi dan tampak segar. Puluhan tahun wajahnya hitam terbakar mentari lantaran di sawah setiap hari, ia masih selalu tersenyum tegar.
Gigi putih bersih, tak satu pun berlubang meski usianya hampir kepala 6. Hanya tangan dan kaki yang amat kasar, bukti perihnya pekerjaan selama ini.
Ditakdirkan lahir dari keluarga miskin, telah menuntunnya ke jutaan liku jalan. Ibunya meninggal sejak bayi, ayahnya menikah lagi meski belum punya penghasilan tetap. Sedikit melegakan karena ia menjadi anak ke-4 dari 6 bersaudara yang semuanya perempuan. Sesulit apa pun bertahan hidup, ia punya 3 kakak yang setidaknya memberi makan dan tempat tinggal.
Era 50-an, bangsa ini baru saja merdeka. Negara baru belajar merangkak dan berjalan sambil pegangan tembok, takut jatuh. Begitu pula masa bayinya pada 1957. Jangankan asi atau susu formula, bisa minum tajin (air beras yang mendidih dalam proses menanak nasi) saja sudah syukur sekali. Jangankan bubur bayi, pampers, mainan, atau ranjang empuk. Sempat merasakan belaian hangat ibunya saja sudah tiada tara.
Lancar berjalan, berbicara, dan bisa membantu bersih-bersih rumah, dia diasuh oleh kakak tertua. Sambil bermain dan mencicipi bangku SD, ia dipercaya momong anak kakak yang baru bisa jalan. Kakaknya kerja pagi pulang sore, malam menyiapkan segala keperluan untuk esok paginya lagi. Lambat hari, tugasnya momongnya harus disambi memasak dan bebersih rumah.
Biasanya hanya ditinggal ikatan gagang padi, tumbuk, alu, dan tungku. Pesan kakak, sore harus sudah jadi nasi. Tak heran tangannya kasar, sejak hari itu dia belajar menumbuk padi jadi beras, mencuci dan memasaknya dengan tungku sampai jadi nasi. Lauknya? Sembarang daunan di kebun sekitar rumah.
Pernah sekali ia keasikan bermain dan lupa akan tugasnya. Akibatnya tidak tanggung-tanggung, sampai hari ini dia masih mengenang kemarahan sang kakak, karena pincuk nasi-lauk itu harus dibagikan pada para buruh tani yang menggarap sepetak sawah kakak. Untungnya benturan-benturan kisah yang tak menyenangkan itu justru menjadi cambuk untuk membuatnya lebih bertanggung jawab.
Hampir tiap hari berlalu tanpa ada hal yang istimewa. Bangun, sekolah sambil momong, bermain sambil momong, bersih-bersih rumah dan masak juga sambil momong. Sampai malam tiba, ia terlelap di sebuah dipan tua beralas tikar lusuh. Mending kalau di kamar, dipan itu hanya satu di pojok dapur, sekaligus kandang ayam-bebek-entok di bawahnya. Piaraan itu menemani mimpi indahnya hingga fajar menjelang.
Begitu seterusnya sampai remaja. Sampai moment paling buruk dalam hidupnya terjadi. Remaja kala itu beda zaman dengan sekarang. Usianya jelang 15 tahun tapi baru kelas 3 SD. Itulah saat dimana pilihan hidup harus ditentukan. Ia dijodohkan dengan seorang pria yang tergila-gila padanya. Usia pria itu tidak beda jauh, juga bukan dari kalangan berada. Entah perjanjian apa yang membuat kakaknya setuju atas pernikahan itu.
Antara iya dan tidak, ia menguras air mata berhari-hari. “Kalau saya menikah kala itu, tentu tamatlah kesempatan untuk jadi orang”, kenangnya. Ia tidak cemas karena akan menikahi pria yang tidak dicintai. Tapi dia khawatir tidak bisa mendapat ijazah SD kalau putus sekolah. “Ijazah itu ibarat senter dalam kegelapan”, pesan salah satu guru terbaiknya.
Pesan itu juga yang akhirnya membuatnya berani memilih: cerai, meski pernikahan baru saja usai. Mungkin terdengar konyol. Tapi kekonyolan itulah yang menuntunnya ke kehidupan sekarang. Kehidupan yang setidaknya tidak terlalu jauh dari impiannya kala itu.
Singkat cerita, akhirnya dia berhasil menggengam ijazah dengan segala perjuangannya. Sampai rela menjadi buruh kebun, buruh sawah, bahkan ngasak keong (mencari siput), ngasak panen padi (mencari sisa padi yang berceceran setelah dipanen), dan ngasak apa saja yang bisa menghasilkan uang untuk bekal ujian nasional. Siapa sangka, sejak pertama masuk sampai lulus sekolah itu, peringkatnya tidak pernah turun – SATU!
Sayang kecerdasan dari gadis berijasah SD tentu kurang mujur untuk menjadi guru atau pekerja kantoran. “Tidak apa-apa,” ucapnya seraya tersenyum. Kerja apa saja asal halal. Mulai babu sampai buruh pabrik. Berpindah dari satu kota ke kota lain, dari majikan satu ke majikan lain, dari pabrik satu ke barik lain.
Salutnya, kerasnya hidup itu tidak membuatnya berhenti belajar. Kala orang lain pulas, dia justru menghabiskan malam dengan membaca. Membaca apa saja yang bisa ia baca. Koran bekas majikan, buku bekas teman, dan semua informasi yang bisa didapat secara gratis. Bahkan ia mengklipping ratusan lembar tulisan yang menarik dan penting untuknya.
“Andai saya bisa pakai komputer, mungkin sudah jadi penulis dari dulu.”, keluhnya di sela cerita. Ya, dia sangat cinta dunia literasi dan pendidikan. Apa mau dikata kalau pada jamannya itu teknologi belum secanggih sekarang. Selain tak mampu beli piranti, juga tak ada yang mengarahkan kecerdasan dan menyalurkan hobinya.  Jadilah kebesaran hati untuk menerima semua kekurangan itu yang membuat semangatnya kian menggebu.
Di balik semua kerja kerasnya, dia menyimpan amal besar untuk keluarga. Berdasar keinginan untuk memutus rantai kebodohan dan kesusahan keluarga, ia menyisihkan sebagian gajinya untuk menyekolahkan adik, keponakan, sepupu, dan membantu semua anggota keluarga yang membutuhkan. Bahkan ia membelikan rumah untuk orang tua dan kakak ketiganya. Hasilnya, sekarang mata rantai itu benar-benar putus.
Namun perjuangannya belum selesai. Bermodal wawasan dan keberanian, dia menjadi orang pertama di kotanya yang sampai di Arab Saudi dengan selamat. Ya, sekali lagi dia naik tingkat. Kenaikan ini tentu bukan tanpa alasan dan resiko. Menjadi babu di negeri sendiri saja susah, apalagi di negeri orang.
Untungnya, dasar niatnya lurus, dia mendapat majikan yang sangat baik. Empat tahun mengabdi disana, ia bisa membeli sawah, tanah, rumah, dan simpanan yang cukup untuk membangun hidup baru di kampung halaman. Bahkan sempat ia naik haji sebelum kepulangannya ke Indonesia.
Saat berhaji itulah, dia mendapat nama baru dari seorang ulama di sana, nama yang katanya sesuai dengan kecantikan paras dan hatinya, Rahmah. Dialah my supermom.
Namanya memang tidak mendunia. Dia juga bukan orang besar layaknya pejuang 45. Tapi dia berhasil menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri, keluarga, dan kedua anaknya. Bahkan sampai hari ini, dia tidak pernah letih berkawan dengan sawah dan bersahabat dengan kebun. Demi anak-anaknya bisa sekolah.
Satu kebanggaan yang tidak pernah saya lupa, dia pernah ditanya oleh guru-guru di SD saya, “Anakmu itu dikasih makan apa, kok bisa rangking 1 selama 6 tahun?” dia hanya tersenyum. Tapi kini saya tahu kalau dulu dia lebih hebat dari pada saya, lantaran dia bisa rangking 1 selama SD itu di tengah terjangan badai dan ombak. Sementara saya, dalam kenyamanan dan kehangatan dekapannya. ***
Note:
Penasaran seperti apa wajah ibu saya? Parasnya cantik, memang. Orang-orang bilang dia sangat mirip dengan Dewi Yull. Tapi bagi saya, masih lebih cantik ibu saya. *ini info tidak penting 😀

Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Kedamaian Senja

Read Next

Angin Ngoceh Soal Pemilu

Facebook Comments

Disqus Comments

damae