Mungkin Saja, Dia (Bukan) Jodohmu

Dear, My Angle

Malam ini aku duduk di Kedai Kopi. Cafe ala mahasiswa yang menghampar di sebuah pelataran rumah besar. Tempat nongkrong yang penuh asap rokok, tapi juga menghipnotis “adam-hawa” untuk duduk lama karena koneksi internet terjamin dan colokan listrik ada di setiap meja. Ah, entah aku sudah curcol atau belum, tempat ini tepat berada di sebelah saudaranya kampus kita. Sepertinya kemana pun beranjak, aku ditakdirkan tinggal di sampingnya.

Terlebih, mereka hanya perlu merogoh kocek kurang dari 10 ribu untuk menenangkan perut. Tidak. Bukan soal berapa yang harus kubayar disini. Aku bisa saja memilih Foodcourt (yang lebih mirip cafe elit), baru saja launching di seberang sana. Tempat jelas lebih sehat, dan lebih berjodoh untuk menikmati riuhnya sepi. Tapi malam ini aku mengumpulkan keberanian untuk menikmati kesepian di tengah ramainya Kedai Kopi. Sungguh, ada lebih dari 30 meja dan semuanya penuh. Ditambah suara serak rombongan pengamen lengkap dengan alat “orkestra” yang menempel di tubuh mereka, bisa kau bayangkan?

Jangan tanya kenapa kulakukan ini, aku bisa langsung mencubitmu nanti.

Sepanjang jalan sore tadi, jalan yang kulalui saban hari –kecuali Minggu, wajahmu beterbangan di kelopak mataku. Menggoda dan memanggil rinduku untuk bercengkrama. Penyeberangan pertama, masih bisa kuabaikan. Aku konsentrasi penuh untuk melihat berapa jumlah roda dua dan roda empat yang melintas, berapa jauh jarak mereka dengan zebra cross, dan seberapa ragu aku untuk menyetop mereka yang bisa saja tiba-tiba menyeruduk.

Penyeberangan kedua, nah, ini. Senyummu merekah semanis gulali. Aku tak tahan untuk tidak melamun. Meski jalur ini paling sepi dan mirip lokasi adegan pertengkaran sepasang kekasih labil dalam drama Korea, dikelilingi pepohonan rindang menjulang, hanya saja tak ada bunga sakura. Aku terpaku dan enggan melangkah. Kuarahkan mata ke langit, menghela napas yang entah kenapa begitu terasa berat.

Tetiba mengenangmu. Mengenang masa-masa kita.

Fix. Aku rindu kamu, Chils. Sangat.

Duh, mie kuah yang kupesan hampir dingin. Kuputar bola mata melihat sekeliling, sambil menyuap beberapa sendok. Wajah-wajah terdeteksi kisaran semester 4 hingga beberapa pekerja yang tampak lelah, asik menikmati kepulan asap, kopi dingin, game, drakor, lembaran tugas dan ujian yang berantakan, hingga obrolan yang membentangkan tawa kencang ke udara. Sayangnya, tak ada satu pun dari mereka yang duduk sendirian, kecuali aku.

Hei, bukankah ini mengingatkan kita pada empat atau lima tahun lalu? Saat dimana segala yang kita khawatirkan hanya tugas statistika dan liputan berita. Saat dimana perbincangan kita tak jauh dari si dia yang baru kau kenal atau dia yang baru meninggalkan seluruh hidupku. Saat dimana perdebatan kita tak lebih dari menu makan siang yang akhirnya beli cilok mamang di belakang kampus. Saat dimana nongkrong di toko buku jadi hal paling gokil karena sembunyi-sembunyi menguliti satu buku dengan kamera hape. Saat dimana..

(air mataku hampir jatuh)

Dan saat dimana kita beradu pendapat tentang dunia pernikahan.

Kita sama-sama bukan supporter campaign nikah muda. Ada ribuan pertimbangan yang lebih layak untuk dipertahankan ketimbang mendukung nikah muda hanya karena “demi menjaga…”. Desrait, kita wanita yang yakin bisa menjaga tanpa harus memaksa nikah muda. Meski begitu kita juga bukan penentang mereka yang memilih jalur nikah muda. Semua orang berhak punya persepsi.

Anehnya, ketika beberapa hari lalu kau meminta restu, di usia yang cukup untuk tidak masuk kategori nikah muda, hatiku tersayat. Teramat dalam. Saking dalamnya sampai tak kuasa menyatakan dan kubenamkan dibalik kata: aku bahagia mendengarnya. Sangat bahagia.

(air mataku benar-benar jatuh)

Dear,

Hatiku tersayat bukan karena kau nikah muda atau tidak, tapi tetiba aku merasa benar-benar menjadi ibu yang akan kehilangan anaknya. Mungkin efek sering dipanggil “Ibu Peri,” atau perasaan ini sedang halus-halusnya. Sungguh, aku belum rela melepasmu menjadi milik orang lain dan membayangkan kau akan tinggal bersama dia selamanya. Se-la-ma-nya. Aku belum rela.

Pernikahan itu, Dear, bisa jadi karma yang paling menyiksa. Tapi juga benar bahwa pernikahan jalan untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat.

Maukah sejenak kau membaca surat ini lebih lama, Dear? Aku ingin (mengulang) cerita tentang mereka yang pada zamannya disebut berjodoh.

Beberapa hari ini kantor temannya temanku dihebohkan oleh kedatangan istri salah satu petinggi, melabrak rekan kerjanya temanku. Padahal si petinggi juga menikmati. Apa istilah yang lagi ngehits saat ini? Pelakor? Something sounds like that, may be. Kukira itu hanya ada di drama Indonesia kelas Indosiar, atau di kota nun jauh di sana yang tanpa aba-aba sudah viral di berbagai media (kakap maupun cucunya teri). Tapi ternyata sinetron itu benar-benar terjadi di sini. Seru! Sekaligus miris.

Bulan lalu, aku memarahi seorang kakek kaya raya yang nekat mengejarku (atau hanya iseng?) tanpa malu pada usia apalagi sanak keluarga. Juga seorang pendidik yang menanggalkan gelar Doktor-nya demi mencuri secercah perhatianku, sejenak lupa pada setengah lusin anaknya. Ada juga yang lebih gentle, terang-terangan mengajakku jadi istri kedua dengan dalih cinta, meski “buntut”-nya juga sudah dua.

Kisah pernikahan yang sadis? Nanti kubisikkan. Tak tega kuurai disini.

Aku juga tak mau munafik. Yang hidupnya bahagia sampai akhir hayat, ya banyak. Pernikahannya sakinah mawaddah warahmah, sebagaimana didambakan semua pasangan.

Tentu saja, (ulangan) ceritaku ini bukan untuk menakut-nakuti. Hanya saja, aku tidak ingin kau merasakan kesedihan yang mungkin tak pernah kau bayangkan. Aku sangat tidak rela jika pilihanmu ini akan kau sesali suatu hari nanti. Jangan sampai, keberanian yang kau putuskan saat ini menjadi senjata paling mematikan yang akan menghunus jantungmu, suatu saat nanti.

Karena mungkin saja, dia bukan jodohmu.

Orang yang akan kau nikahi itu, hanyalah orang yang kau percaya bisa menjadi jodohmu. Tapi bahkan tak seorang pun saat ini bisa memastikan bahwa, dia benar-benar jodohmu.

Orang yang akan kau serahi hidup dan matimu itu, hanyalah orang yang kau percaya akan bisa membuatmu bahagia hingga ke surga. Tapi bahkan angin pun tak bisa menebak, seberapa pantaskah dia menerima amanat Tuhan-nya.

Orang yang akan kau ikuti kemana pun dia pergi itu, hanyalah orang yang kau percaya akan bisa menjadi suami terbaik sepanjang “perjalanan” (hidup). Tapi bahkan langit pun tak bisa menjamin, apa yang akan dilakukannya di dalam maupun luar rumahmu, hingga ia menutup mata.

Orang yang akan kau beri harta paling berharga milikmu itu, hanyalah orang yang kau percaya akan bisa menjadi ayah terbaik untuk anak-anakmu. Tapi bahkan bumi pun tak bisa berjanji, kasih sayangnya hanya akan ia curahkan pada keluarga kalian. Bukan untuk keluarga yang lain.

Dan orang yang akan memintamu dari orang tuamu itu, hanyalah orang yang kau percaya akan bisa menjadi ibu, ayah, adik, sahabat, teman, kerabat, kekasih, suami, juga “Ibu Peri” di kehidupan yang entah akan bagaimana alur kisahnya. Tapi bahkan alam semesta pun tak bisa membisiki, akan jadi apa dia nanti.

Karena mungkin saja, akad nikah dan pesta pernikahan, tak membuat dia benar-benar menjadi jodohmu. Barangkali itulah mengapa banyak terjadi perceraian. Mungkin saja, jodohmu malah tertukar.

Dear,

Orang-orang yang mengaku lebih dewasa dari kita, sering bilang begini. Pernikahan itu, milik kelas strata kahyangan atau dasar samudra, dari yang terlambat, muda, atau terlalu dini, sama-sama memiliki 3 ujian: harta, tahta, wanita. Kutambahi satu: keluarga.

Ada yang dikarunia harta segunung, tahtanya sundul langit, tapi tak terhitung berapa jumlah istri (atau selir?) yang disembunyikan. Ada yang diberi istri saleha, tapi hidupnya serba kekurangan. Ada juga paket lengkap, harta melimpah, tahta berkah, istri saleha, tapi puluhan tahun gagal punya keturunan. Ada lagi yang paket komplit, harta cukup, tahta mulus, istri saleha, anak punya, tapi ternyata semua anak yang dimiliki itu tak mengijinkan orang tuanya untuk mencicipi wangi surga.

Bisakah kamu tebak, ujian mana yang kira-kira akan kau jalani nanti?

Bahkan mungkin, akan muncul jenis ujian lain yang belum kusebutkan. Bersiaplah.

Lepas dari itu semua, Dear, aku percaya. Selalu percaya. Sebagaimana kau percaya bahwa dia akan menjadi jodohmu, seperti itu juga aku percaya bahwa kau sudah mengambil keputusan yang benar. Kau sudah menjatuhkan hati untuk seseorang yang berhak mendapatkannya. Kau juga sudah siap dengan segala konsekuensi, termasuk hal yang paling tak terduga dan paling kau benci seumur hidupmu.

Karena aku yakin kau juga percaya jika, tak hanya cinta yang disebut anugrah. Tapi juga benci, kecewa, amarah, sesal, dan sakit hati. Semuanya anugrah. Hanya soal waktu, akan tiba saatnya satu per satu hadir untuk membuat hidupmu tetap seimbang. Bukankah kau menemukan lelaki yang kau anggap jodohmu itu setelah kehilangan sosok lelaki lain yang membuat hatimu hancur? Begitulah skenario-Nya bekerja. Maka jika suatu hari nanti kau tahu ternyata dia bukan jodohmu, percayalah, itu hanya cara Tuhan untuk membuat hidupmu tetap seimbang.

Bukan begitu, Dear?

Ngomong-ngomong, kedainya mau tutup. Aku hampir diusir.
Sampai jumpa di surat berikutnya.

 

Tertanda,
Ibu Peri.

 

*Foto: dok. pribadi.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*