Maaf, Saya Tak Bermaksud Demikian, Tapi Memang Demikian Adanya

Saya rindu Dzarfah yang dulu. Kemana Dzarfah yang selama ini saya kenal? Dzarfah yang selalau berada diposisi pertama, Dzarfah yang tak pernah dapat nilai kurang dari 7? Dzarfah yang bisa jadi legowonya hati saya kalau nilai ulangan anak-anak jeblog semua? Kemana? Kenapa Dzarfah yang sekarang beda dari yang dulu? Kenapa Dzarfah yang sekarang sering meninggalkan pelajaran dan nilainya down semua? Kenapa soal segampang ini tidak bisa dia kerjakan? Dimana? Dimana Dzarfah yang sebenarnya? Apa yang sedang terjadi padanya hingga membuat semangatnya luntur seperti ini? Dzarfah, kembali lah, kembali menjadi Dzarfah yang selalu no. 1. Asah lah kembali bekal yang telah melekat dalam jiwamu. Saya yakin, kamu bisa melakukan yang terbaik untuk menjadi yang terbaik. Berusahalah, Nak! Do’a Ibu selalu menyertaimu
Deg! Saya terharu mendengarnya. Sungguh… Lidah ini seolah terkunci tak bisa lagi berkata-katasaya terhenti saat hal itu terucap dari guru yang begitu perhatian pada saya. Sebenarnya tak hanya satu dua guru yang merasakan hal yang sama dengan apa yang beliau rasakan. Namun, hanya beberapa yang berani mengungkapkan dan membangkitkan kembali semangat seorang Dzarfah _demikian guru-guru memanggilku_ untuk menjadi ‘The best student’ di Malhikdua tercinta ini. Meski kenyataannya itu bukan hal yang mudah bagi seorang Dzarfah.
Ya, saya akui, saya memang terlampau jauh merantau di dunia organisasi hingga melupakan kewajiban utama saya di sekolah dan di pondok. Tapi andai mereka tahu, andai mereka bisa mendengar, andai mereka bisa merasakan apa yang saya rasa sebenarnya, mungkin anggapan itu bisa ditepis karena memang tidak demikian adanya.
Dulu, ketika saya kelas satu, seluruh waktu, pikiran, dan tenaga saya habis hanya untuk belajar dan mengaji. Tak ada tempat lain yang saya kunjungi selain masjid, perpus, dan kamar. Tak ada hal lain yang saya lakukan kecuali duduk manis dengan buku dan kitab yang selalu jadi pegangan. Sampai orang-orang aneh memandang saya. Berbagai julukan pun terlontar dari mulut mereka. Santri aneh-lah, Si Kutu Buku-lah, Gadis masjid-lah, hingga telinga ini panas mendengarnya.
Karena hal itu lah, ketika saya naik kelas dua, saya berencana mengubah segalanya. Saya ingin membuktikan bahwa saya juga bisa terjun di dunia organisasi seperti yang lainnya. Saya bisa bersosialisasi dan saya juga pantas berada ditengah-tengah mereka. Tekad bulat itu pun mengantarkan saya berkecimpung di dunian yang sebenarnya amat asing dan belum pernah saya jamahi. Ya, dunia organisasi (kisah lengkap tentang dunia organisasi, Insya Allah akan terbit di edisi khusus yang akan saya garap mendatang).
Namun, ternyata disini ada sini ada kodrat alam organisasi yang belum saya mengerti tapi tiba-tiba menghampiri. Kodrat alam organisasi yang saya maksud adalah Barang siapa terjun ke satu dunia organisasi, maka dengan sendirinya organisasi lain akan mengikuti. Maksudnya, ketika seseorang berhasil direkrut oleh satu organisasi, terutama bila orang tersebut memegang jabatan kepengurusan, otomatis dia akan dikenal oleh rekan organisasi yang lain. Bila ia dikenal aktif dan sukses menjalankan perannya, maka organisasi lain pasti akan memintanya untuk terjun pula mengurusi organisasi lain yang tertarik dengan hasil karyanya. Begitu.
Ternyata hal ini menimpa gadis malang yang baru saja mencoba merangkak terjun di dunia organisasi. Dan tanpa disadari, karena kepolosan dan ketidaktahuan saya, dalam kurun waktu yang relatif singkat, lebih dari 5 kepengurusan organisasi yang dijabatnya. Hinga ditengah perjalanan saya sering kewalahan menghadapi padatnya jadwal kegiatan dari masing-masing organisasi. Belum lagi jadwal sekolah dan pondok yang juga sama-sama menguras energi. Imbasnya, salah satu sisi pun ada yang terbengkalai, bahkan tak jarang saya ambruk (jatuh sakit) karena saking padatnya kegiatan, dan saking banyaknya urusan yang saya pikirkan. Tapi saya tetap tidak mengkategorikan sebagai orang sibuk. Karena pada hakekatnya itu memang target saya sejak semula. Saya ingin menimba banyak pengalaman dari dunia yang belum pernah saya raba sebelumnya. Justru bagi saya, bisa berkarya di dunia organisasi itu lebih memuaskan dari pada sederet nilai 100 hasil ulangan.
Kenapa? karena prestasi yang hakiki bukan timbul dari tekanan atau pun kewajiban yang harus di capai, melainkan buah karya atas apa yang telah kita upayakan. Dan itu lah yang membuat kepuasan hati kita.
Sayangnya, mereka menganggap saya lalai dengan kewajiban utama sebagai santri sekaligus siswa yang tugasnya belajar dan mengaji. Hingga prestasi di sekolah down, bahkan sering mendapat teguran dari guru ini dan itu. Ya, seperti yang tertulis di paragraf awal postingan ini. Saya terlalu asyik dengn dunia baru yang saya geluti. Meski sebenarnya, semua organisasi yang saya ikuti itu kembalinya ya untuk sekolah dan pondok. Bukan untuk diri saya pribadi.
Justru _menurut saya_ anak-anak yang ikut dalam oraganisasi itu telah sangat membantu sekolah dan pondok. Karena program-program sekolah dan pondok terlaksana lewat kepanjangan tangan, yakni organisasi. Coba saja bayangkan bila sekolah tak ada OSIS, misalnya, siapa yang akan menyelenggarakan class meeting, mengatur pasaran, dan program-program lainnya. Begitu pun dengan organisasi pondok. ORDA, misalnya. Tanpa ORDA, tak mungkin BSK bisa terlaksana. Itu baru sekelumit contoh saja.
Namun, yang sering kali dipermasalahkan adalah efek negatif dari organisasi yang terkadang dilebih-lebihkan oleh mereka yang memandang dari satu sisi, hanya jeleknya saja. Padahal seandainya mereka mau membuka mata lebih lebar, manfaat organisasi saya yakin lebih besar dari sekedar mudharatnya.
So that, kuncinya, terjun di dunia organisasi memang perlu, tapi jangan sampai melalaikan kewajiban utama sebagai santri dan siswa. Perstasi Ok, Organisasi Yes.
Nah, untuk menebus semua kesalahan saya atas kelalaian terhadap sekolah, terutama guru-guru yang sering saya tinggalkan pelajarannya demi kepentingan organisasi, saya berusaha melakukan yang terbaik untuk menjadi siswi terbaik tahun ini dalam menghadapi ulangan akhir semester sebagai jembatan kenaikan kelas akhir. Sampai saya menutup semua akun organisasi agar bisa persiapan matang sebelum melahap 600 soal semester kemarin. Dan hal ini pula lah yang menjadi salah satu penyebab off-nya Garuda. Lebih parahnya, saya sampai kembali masuk RS saat menghadapi soal ke 450-500 (hari ke-5).
Semoga usaha saya tidak sia-sia. Saya ingin buktikan bahwa meski saya berkecimpung di dunia organisasi, bukan berarti saya rela melepas prestasi begitu saja. Dan Insya Allah, saya akan berusaha memenuhi permintaan Bapak Ibu guru untuk menjadi yang terbaik (wallohu a’lam). Saya juga mohon maaf, dari lubuk hati terdalam, atas semua tingkah laku saya yang kurang berkenan di hati Bapak Ibu guru sekalian. Mohon ikhlasnya, mohon ridhonya. Dan saya akan berusaha memperbaikinya, Insya Allah…
Kritik dan saran dari Bapak Ibu guru semua, tak henti-hentinya saya harapkan. Serta bimbingan dan do’a juga selalu saya harapkan. Semoga ilmu dari Bapak dan Ibu berkah dan bermanfaat bagi saya. Amin…

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Salam Damai,…

Read Next

Diary Garuda 1: Pejuang Malhikdua, Road to Jogja

Facebook Comments

Disqus Comments

damae