Kulit Durian, Isi Seputih Salju

Aku heran. Setiap bertemu kawan sepesantren, pasti ditanya: rok-mu kemana? Setiap bersalaman dengan kawan lama: kok sekarang berani menyentuh tangan (lawan jenis)? Setiap berkumpul dengan para jilbabers: penampilan anak Jurnal mah beda euy! Setiap berjumpa dengan para guru jaman dulu: jadi gaul, ya, sekarang. Bah!

Sebegitu mencengangkannyakah penampilanku hari ini?

Mereka sama sekali tidak melihat (bahkan tidak tahu) sisi baikku. Dulu, boro-boro aku mau dicontekin, ditanya apa maksud soal nomor sekian saja sudah acuh; padahal aku tahu jawabannya. Sekarang, jangankan dicontekin, ditanya segala hal yang kutahu pun silahkan. Memberi les privat gratis juga hayuk!

Dulu, aku merasa jadi anak paling pelit sedunia. Meski hati kecil selalu ingin berbagi apa pun yang sedang kunikmati, selalu saja hati besar mencegah dan bilang “eman-eman”. Setiap kata itu muncul, hati kecil buru-buru berdoa: Ya Allah, suatu hari nanti aku ingin punya hati mulia. Hari ini, jangankan hanya berbagi apa yang kunikmati, siapa pun butuh pertolonganku, selalu kuletakkan di daftar nomor satu.

Dulu, aku tak pernah punya waktu bermain. Bahkan semua orang memanggilku “kutu buku”. Tak punya waktu bermain, sama artinya aku tak punya teman. Tapi, hari ini, jangankan waktu bermain, teman pun ada dimana-mana. Hanya saja, sementara memang semua akun jejaring sosial sedang dimatikan (tanpa alasan). Aku lebih menikmati pertemanan tatap muka, belajar berkomunikasi dari sumber nyata.

Ah, sama sekali tidak ingin memamerkan. Toh, apa yang hebat dari aku dulu dan hari ini? Sekadar mengurai benang kusut di wajah raut. Bolehlah orang menilai dari sudut penampilanku, tapi tolong jangan pernah pisahkan itu dari senyata jiwa dan hati ini. Bolehlah orang menilai aku berbeda antara dulu dan sekarang dari kacamata di atas hidung. Hanya, tolong, jangan lupakan kacamata hati yang mampu menerjemahkan apa yang maya dari dunia.

Bukankah sebesar dan sebanyak apa pun masjid di dunia, tetaplah satu tujuannya? Sebagus apa pun masjid itu, sudahkah ia menjadi sebenar-benar masjid jika hanya disolati satu imam ditambah satu ma’mum?

Lain hal dengan hati yang terintegrasi dengan perilaku mulia. Dimana pun dan kapanpun, laku-nya sudah dicatat melebihi kebaikan seluruh masjid di dunia. Iya, kan? Bahkan ketika kiamat masjid runtuh, kebaikan (dari perilaku manusia) itu tidak akan luruh.

Jadi, sebelum kau bertemu aku (dan semua orang) lagi, tolong ingat kata (bijak) ini: don’t judge anything by the cover!

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*