Kuldesak

[tab: Hal 1]
** Postingan ini relatif panjang. Saya pecah menjadi 5 halaman. Anda bisa klik TAB (warna kuning) di pojok kanan postingan untuk berpindah halaman. **

Mentari masih setengah sinar saat aku meyakinkan dia untuk duduk di tepian jalan yang tingginya lebih dari 1 meter. Hanya 1 meter, apa tidak berlebihan untuk diyakinkan? Tidak. Berat badan berlebih membuat gadis berkacamata minus 7 ini kewalahan naik tanpa tangga.

“Ayo, loncat lagi, Hil! Badanmu membelakangi posisi duduk, terus angkat tubuhmu kuat-kuat.”, sorakku seraya mempraktikkan.
“Nggak bisa, mbak. Justru sulit kalo aku membelakangi. Begini saja. Awas beri aku space yang lebar. Minggir, mbak!”, dia ngeyel sambil terus berusaha bisa loncat dengan posisi menghadap tepian tinggi itu.
Ditancapkannya kaki kanan pada permukaan bawah samping tepian, kedua tangannya mencengkeram kuat-kuat bagian atas tepian. Dan, “Hap!!!”, teriak Hilda, setelah tiga kali percobaan mengangkat badan besarnya, dia berhasil membalik badan dan duduk sama persis dengan posisiku.
“Tuh kan, aku bisa! Kalau aku bilang aku bisa, ya pasti bisa!”, sambil merem melek khas wajah tembem itu, dia masih ngeyel. Merasa menang dengan cara dia sendiri dalam menaklukkan ketinggian tepian itu untuk duduk.

“Baiklah. Tapi masa aku harus bilang kamu hebat hanya karena berhasil duduk di tepian ini?”, tanyaku membuat tawa kesalnya kian menjadi. Jadilah terkekeh berdua di bawah pohon beringin depan gerbang kampus tua itu.Kusebut gerbang kampus tua, karena memang sudah tak layak pakai dan tak sedap dipandang meski selayang.

Sejenak mengambil napas, kulihat langit tak lagi membiru. Hanya tersisa rona putih pekat dan hitam kelam. Tak salah lagi, nampaknya akan hujan. Pelan tapi pasti terlihat kaum adam berpeci, bersarung, bersorban, bercelana panjang, berkemeja, ada pula yang berkaos bahkan tanpa peci; menuju pintu gerbang itu dari arah masjid kampus.

Mereka baru saja selesai jumatan. Hal ini pula yang membuatku terpaksa mencari tempat berteduh, karena maksud hati ke kantor pos tapi terkadung masuk jam istirahat. Mau tak mau harus menunggu masa istirahat petugas selama 1 jam.

“Bukunya masih di bawah tasku, nanti ingetin ya!”, suara berlogat Tegal itu memecah napas yang sudah kembali beraturan. Aku pun mengiyakan dengan senyuman. Buku yang dimaksud itu baru saja kubeli persis didepan posisi kami duduk. Lantaran tak tega mendengar dan melihat rengeknya meminta dibelikan buku novelet yang berderet di meja tepi gerbang tua. Ya, di kampus ini memang banyak penjual buku bekas di selasaran.

“Mbak, menurut mbak, bahagia itu apa sih?”, tanyanya kemudian seraya membuka rujak yang awalnya tak boleh dibuka. “Tapi karena mbak sudah membelikan buku, jadi kubuka deh rujaknya.”, celotehnya setelah kubelikan buku tadi.

“Ayo, mbak, jawab! Apa makna bahagia buat mbak?”, dia masih ngotot.
“Eum…”, aku berpikir sejenak. Agaknya ini perbincangan yang berat. Aku tahu kepolosan dan keluguan wajahnya memang tak berarti otaknya juga polos. Dia gadis pemberani dan cerdas. Meski laiaknya adik pada kakaknya, masih lebih sering manja yang ditunjukkan ketimbang ketidakpolosan itu.

“Ketika aku menjadi matahari,” ceplosku begitu ringan.
“Tapi berarti mbak gak bisa dekat dengan orang lain, dong.”, aku tercenung. Sementara dia masih belum sampai koma apalagi titik.
“Mbak tahu apa makna tulisan pada cincin ini?”, dia memutar posisi cincin dan menunjukkannya dengan jelas. “HIHY: Hilda is Hylda”, lanjutnya.
“Apa pun tulisan pada namaku, mau pake I, Y, AE, atau apa pun itu, aku tetaplah HILDA. Dan, itulah diriku.”, aku masih khusyuk menyimak.

“Kalau mbak mau jadi matahari, aku ingin seperti pesawat. Pesawat itu butuh bahan bakar, teknisi, pramugari, penumpang, yang semuanya tidak bisa menggunakan kualitas rendah. Bayangkan kalo sedang mengudara tapi ada 1 baud saja yang kendor, bisa jadi pesawat hancur sebelum mendarat. Dalam mendarat pun, pesawat tidak bisa sembarangan. Dia harus take off dan landing dengan tujuan yang jelas. Semua sudah diperhitungkan matang-matang.”, tangannya bergerak-gerak penuh ekspresi. Kerudungnya yang, meski lebar, tak menutupi semua bagian dadanya, sesekali ia rapihkan. Sedang aku masih termenung: anak ini sudah lebih kritis dari 2 tahun lalu, terakhir pertemuan sebelum dia menjajal kuliah di Bandung.

“Bicara soal pesawat, aku teringat kalimat seorang teman yang, bisa dibilang sangat menyakitkan.”, wajahnya mendadak sendu.
“Katanya, Korean Lovers itu hanya menyaksikan dunia maya, tanpa pernah mencoba menemukan makna sesungguhnya dari realitas kehidupan.”, dia melanjutkan.
“Bagiku, itu salah besar. Sangat salah besar. Karena yang dilihat Korean Lovers selama ini bukanlah melulu soal panggung yang megah, gemerlap dunia K-Pop, apalagi penghamburan uang buat nonton konser dimana-mana. Bukan itu.
Dibalik itu semua ada hal baru yang selalu kami pelajari di balik panggung. Bagaimana K-Pop itu latihan bertahun-tahun, tiap hari, tanpa tahu kapan dia akan take off (baca: mengudara, naik panggung). Ada yang dilatih nyanyi sehari semalam tanpa dikasih makan. Ada yang berjuang dari nol, bermodal tekad doang. Tapi semua mereka lakukan dengan penuh keyakinan, bahwa suatu hari nanti ada masanya mereka Take Off.
Itulah kenapa ketika K-Pop berhasil manggung untuk pertama kali, pasti mereka semua nangis saat konser selesai. Aku sendiri pasti nangis kalau lihat mereka konser. Makannya K-Pop dicintai penggemarnya dengan penuh ketulusan. Hal itu juga yang bikin pakar psikolog, aku lupa namanya, menyebut bahwa ikatan emosional K-Pop Lovers itu sangat kuat. Hanya butuh waktu 10 menit untuk akrab dan menjadi seperti keluarga, walaupun baru bertemu satu kali.

Dan, aku selalu mempertanyakan: mereka sudah take off, kapan giliranku? Aku masih berkutat di proses untuk menyiapkan segala kebutuhan pesawat untuk take off.”, kali ini aku benar-benar jadi pendengar setia.

Nampaknya, anak yang 3 taun lalu itu masih sangat lengket diketiakku, sekarang sudah tak laiak lagi kusebut anak. Dia sudah menjelma menjadi wanita yang berpikir seperti orang dewasa. Padahal, pada pertemuan terakhir sebelum berstatus mahasiswa, dia masih menampakkan manjanya yang merindukan sentuhanku. Dia bertanya banyak hal tentang kehidupan, tentang organisasi, tentang kampus, tentang masa depan, tentang hakikat seorang wanita. Satu katanya yang dulu kuingat, “Dua tahun lagi aku akan duduk disampingmu, di kampus yang sama, di jurusan yang sama. Hanya saja, aku tetap jadi adikmu karena memang usiaku lebih muda.”, dan itu semua sudah terbukti sejak sebulan lalu.

Saat kutanya apa gerangan yang membuat dia ingin mengikuti jejakku, dengan lugunya dia menjawab: aku ingin seperti mbak. Lain jawaban 2 tahun lalu, lain pula sekarang. Dibawah sudut kesejukan kampus yang sedang direnov ini, dengan percaya diri dia menampik: aku masuk jurnalistik karena aku mencintai dunia jurnalistik. “Dulu aku menutup mata dari masyarakat, tapi sekarang aku bertekad untuk membuka mata lebar-lebar, mengetahui realita masyarakat, dan aku ingin membaca kehidupan.”, aku pun tersenyum lebar sembari mengelus kepalanya, sejatinya aku sangat bangga mendengarnya.

[tab: Hal 2]
“Boleh aku bertanya sesuatu?”, selaku kemudian.
“Boleh.”, jawabnya dengan anggukan.

“Aku mengalami liku kehidupan yang sulit kumengerti. Sejak TK, aku selalu jadi bintang sekolah. Tak ada satu pun guru yang tak hafal. Saat SD, aku berhasil mendobrak hasil UN yang mengantarku masuk SMP favorit, dan itu baru pertama terjadi sepanjang berdirinya SD-ku. Di SMP, aku mendapat lagi apa yang kukejar: menjadi siswa berprestasi, siswa teladan. Tapi di akhir kelas 3, aku melenceng dari jalur. Aku menjadi vokalis band dan penyiar radio. Digaris final UN SMP-lah aku depresi: gagal menjadi nomer 1 dan gagal masuk SMA Favorit di luar kota karena sakit sebulan.

Terjerumuslah aku ke pesantren, satu pesantren denganmu dulu. Tak ada yang kuharap dari dunia pesantren, apalagi sekolah Aliyah (MA, pen). Tapi realita justru berbicara sebaliknya. Aku menjadi bintang sekolah, aku meneruskan dunia broadcast, menjadi penulis, bahkan mengantar sekolah dikenal seantero Indonesia dalam beberapa kompetisi di dunia warcil (wartawan kecil, pen). Titik itulah yang menjadikanku cinta pada jurnalistik.

Bisa kamu tebak, pasti setelah itu aku memilih menekuni bidang jurnalistik dibanding yang lain. Meski harus berdebat panjang dengan orang tua. Dasar lucky, aku bisa masuk jurusan itu meski harus sedikit terseok. Tapi apa yang terjadi kemudian? Aku kehilangan semua kemampuan kejurnalistikanku selama menjadi mahasiswa.

Aku tak bisa lagi menulis artikel. Aku kewalahan menjadi penyiar. Aku lebih banyak diam daripada aktif di kelas. Aku mundur dari jabatan-jabatan strategis di organisasi. Aku menarik diri dari pergaulan. Aku.. Ya, seperti yang kamu lihat sekarang. Aku STAG.”

Nadaku berhenti di “Do”. Lemas rasanya untuk melanjutkan cerita. Kulihat dia manggut-manggut tanda mengerti apa yang kubicarakan.

“Jadi, pertanyaanku adalah, apa yang harus aku lakukan di titik ini?”, aku benar-benar lemas.

“Sejak kita bertemu terakhir 2 tahun lalu, aku sudah melihat mbak itu STAG. Terkadang, apa yang kita rencanakan itu tidak selamanya sesuai harapan. Tapi adakalanya apa yang tidak terencana oleh kita justru berakhir bahagia. Dan terkadang, kita butuh menjadi orang biasa untuk bisa bahagia.”, dia menghela napas.

“Ya, barangkali kamu benar. Tapi, disatu sisi ada rasa syukur yang tidak pernah terpikir.”, aku menimpali.

“Ketika aku melihat kawan-kawanku sangat sangat sangat sangaaat dinamis sekali, aku justru melihat itu aku yang dulu. Mereka ada yang jadi penyiar, aku sudah pernah merasakan sejak SMP. Mereka jadi penulis, aku juga sudah lebih dulu bisa. Mereka jadi presenter, aku pernah 2 tahun berturut-turut jadi MC terbaik, jauh sebelum usia mereka sekarang. Mereka nongol di TV, aku juga sudah pernah. Mereka bisa hidup mandiri, aku jauh lebih mandiri sejak 3 tahun lalu. Mereka bisa ini bisa itu, aku merasa sudah pernah melakukan, merasakan, dan menikmatinya.”, celotehku kemudian.

Kurasakan angin kian semilir. Mendung menebal hitam tak lagi kelam, tapi juga seram. Maklum, payungku 2 kali hilang. Jadi selalu was-was jika hujan hendak datang.

“Bersyukur? Justru menunurtku itu kekonyolan, mbak. Kalau dulu mbak bisa sehebat itu, berdasar kronologis cerita mbak tadi, harusnya..”, dia menjawab dengan menggebu-gebu.

“Harusnya sekarang aku bisa lebih baik dari mereka? Harusnya aku tidak STAG dan justru lebih hebat dari aku yang dulu, gitu? Itu kan yang ingin kamu katakan?”, sayangnya kupotong.

“YA IYALAAAH…”, sahutannya panjang dan berkelok.

“Menurutku penjelasan mbak soal syukur terhadap masa lalu itu hanya sebuah pembelaan. Pembelaan yang sangat sangat sangat salah! Apa yang membuat mbak diam saja saat melihat teman-teman mbak menjadi juara, padahal dari TK mbak selalu berusaha untuk jadi nomer 1? Benar-benar tidak masuk akal!”, hujatnya kemudian.

“Justru karena STAG-lah aku bertanya, apa yang harus kulakukan di titik ini?”, kami terdiam.

“Kata orang, cinta yang tulus itu tidak akan pernah mati. Seberat apa pun cobaannya. Jadi, kalau dulu mbak mencintai jurnalistik dengan tulus, maka aku yakin cinta itu masih ada di lubuk hati mbak yang paling dalam. Hanya saja, mbak tidak berani mengungkapkan dan membuktikan cinta itu.”, ocehnya seraya memicingkan mata.

Dan, kami kembali terdiam. Sementara waktu sudah menunjukkan jam 1 lewat 30 menit, artinya perbincangan harus disudahi. Kami pun bergegas ke kantor pos yang ternyata sudah dipenuhi antrian.

Selesai itu, hujan turun dengan leganya. Semua orang berhambur mencari tempat berteduh. Tak terkecuali aku dan Hilda. Kami kebingungan antara pulang dengan kehujanan atau menanti hujan reda.

“Aku mencintai hujan, dan aku ingin mendengarnya di perjalanan”, sahut Hilda setelah kutanya. Dengan kata lain dia ingin tetap pulang meski hujan lebat.

Maka aku pun mendahului berlari ke arah utara, sambil melambai tangan tanda perpisahan. Dia mengikuti kemudian dengan mengambil arah selatan. “Da..da.. Embaaa…”, terdengar suaranya parau saat berpisah.

Sepanjang hujan turun, aku terus berpikir dan berpikir tentang jawaban dia yang justru menyisakan tanya. Apa gerangan yang sebenarnya terjadi pada diri ini?

[tab: Hal 3]

Hari ini terasa lebih berat. Bukan saja karena nafsu makanku hilang pascaobrolan tadi, tapi juga pikiran yang tak berhenti berputar. Bahkan basah kuyup dan hawa dingin yang menusuk tulangku, hampir tak berarti apa-apa. Hanya kukibas dan menyeduh jeruk hangat yang, meski kuberi banyak gula, tetap saja hambar: tidak manis, tidak juga asam.

Slide demi slide masa lalu terus bertarung di otakku. Memutar memoar tempo lahir, balita, anak-anak, remaja, hingga terpaksa berpisah dari orang tua sejak 5 tahun lalu, dan drama kehidupan kota yang kuarungi seorang diri.

Jelas tersaksi moment-moment diejek, dihina, dibenci, diusir, bahkan disepelekan orang. Sakit…sakit…sekali. Dianggap makhluk aneh yang tak punya teman. Bahkan tidak hanya satu kali, ketika aku terkapar di rumah sakit sendirian: pergi sendiri, berobat sendiri, pulang sendiri. Ya, aku memang gadis berfisik lemah.

Namun yang lebih sakit lagi ketika mereka, orang-orang yang tidak akan pernah kulupa kebenciannya, berbangga ria di atas kemenangan dan prestasiku di depan orang lain. Padahal, saat berpapasan di kamar saja tak satu pun sudi membalas sapaanku.

Ah, terlalu banyak ironi dalam kisah ini. Ironi kehidupan yang, barangkali diskenario Tuhan untuk mendidikku. Mendidik untuk menjadi manusia pembelajar, manusia tegar, dan manusia yang lain dari yang lain.

Huhf… Kegelisahan kian membelenggu batin ini. Aku masih bertanya-tanya: apa yang membuatku tidak produktif lagi? Apa yang membuatku kehilangan kekuatan, kehebatan, dan kerja kerasku? Aku yang sekarang, begitu lemah… bahkan menatap masa depan saja sudah kebingungan.

Ya, semua karyaku mandeg total. STAG!

[tab: Hal 4]

Dert..dert..dert… Hape bergetar lama tanpa suara, membuatku tersadar dari lamunan. Kulirik namanya, R. Agaknya dia cemas karena sedari siang tak satu pun SMS-nya kubalas. Sembari menganggkat hape, kututup pintu kamar yang sedari siang terbuka. Ternyata hujan sudah reda dan malam sudah tiba. Ah… aku terbengong amat lama.

“Hallo,” jawabku pelan.

“Hallo, ehm..”, terdengar suara khasnya diiringi dehem.

Aku tidak melanjutkan suara, karena kutahu tanyanya kemudian pasti, “Ada apa?”.

“Ada apa?”, tuh kan, benar.

Sudah kucoba sembunyikan tangis. Kucoba sembunyikan jawab. Tapi tetap saja sia-sia, karena dia memang tipikal orang yang pandai mendesak. Tak bisa kubayangkan betapa kecewanya dia jika aku tak jujur. Maklum, sudah lima tahun aku menjadi partnernya dalam beberapa pekerjaan. Tentu wajar jika dia sangat peduli padaku.

“Aku kehilangan diriku yang dulu”, ucapku memulai cerita. Selanjutnya, seperti yang kukisahkan sebelumnya, kuceritakan lagi apa adanya.

“Eum.. Boleh aku berpendapat? Anggap saja ini second opinion”, ia suka sekali menganalisis.

“Tentu, silahkan.”

“Menurutku, apa yang dikatakan kawanmu itu hanya berdasar keadaan konkritnya saja. Padahal, ada banyak faktor lain yang bisa kita tarik dari sudut pandang lain.”

“Maksudnya?’, selaku tak mengerti.

“Begini. Kamu tadi menyebut bahwa apa yang digapai teman-temanmu sekarang itu sudah pernah kamu gapai semua di masa lalu. Benar kan?”

“Iya.”

“Artinya, kamu itu tipikal manusia pendobrak. Saat orang lain tidak bisa melakukan, kamu bisa. Saat orang lain kesulitan melakukan, kamu justru lancar. Nah, saat jalan yang kamu dobrak itu sudah terbuka lebar, maka orang lain dengan leluasa bisa mengikuti jejakmu. Tapi, bisa jadi orang-orang yang baru bisa melewati jalan itu sekarang, justru suatu saat bisa jadi akan lebih hebat darimu. Tentu saja karena beberapa faktor. Saat mereka lebih hebat darimu itulah, kamu akan ditinggalkan orang. Dan, tipe manusia pendobrak seperti itulah yang disebut manusia multidimensi.”

“Multidimensi?”

“Yap. Kamu tahu Imam Syahid? Dia bernasib sama sepertimu. Dia dijuluki manusia multidimensi karena memang dia bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain pada zamannya. Dan, kamu bisa lihat kisah setelah itu: dia ditinggalkan orang. Makannya tercipta lagu berjudul “Jalan Sunyi”, itu sebenarnya suara hatinya dari dasar jiwa.

Sejatinya, aku pun pernah mengalami hal yang sama denganmu, dengan Imam Syahid, mursyidku. Semasaku SMA dulu, aku bisa segala jenis ketrampilan. Aku hebat di bidang seni, olah raga, IT, catur, juga akademik. Sampai sekarang piala-piala kemenangan itu masih tersimpan. Tapi, ketika aku masuk kuliah, satu per satu kehebatan itu rontok tak tersisa. Bahkan, jangankan melukis atau bermain bola seperti dulu, hanya sekadar membuat garis lurus saja aku tak mampu. Masih untung bisa lulus kuliah Arsitek.

Dalam posisi aku kehilangan keahlianku dulu, apakah aku STAG? Jelas. Tapi… Setelah kurenungi, ternyata ada sedikitnya 4 faktor yang menjadi penyebab utama.

Pertama, meski sangat kecil dan tidak tampak, kuakui aku pernah sombong. Hati kecilku pernah bangga pada diri sendiri atas segudang prestasi yang telah kuraih. Padahal, kita tahu siapakah yang punya hak otoritas untuk menyombongkan diri? Hanya Allah, kan? Artinya, lewat kejadian ini Allah menegurku.

Kedua, aku tipe orang yang ringan tangan dan sangat berjiwa sosial. Setiap orang yang minta bantuanku, pasti kubantu. Tanpa kumintai upah sepeser pun. Akhirnya, seperti yang kusampaikan diawal. Orang-orang yang minta diajari ini itu justru akhirnya lebih pandai dariku. Dan, ketika itulah aku ditinggalkan.

Faktor pertama dan kedua ini muncul karena faktor ketiga, yakni aku punya banyak keahlian yang berjalan dalam satu waktu. Ya seni, ya olah raga, ya catur, ya akademik, semuanya satu waktu. Aku merasa ringan melakukannya. Itulah sebabnya kemudian timbul rasa sombong walau hanya di dalam hati, dan bisa membantu banyak orang dalam berbagai hal.

Faktor terakhir yakni faktor eksternal. Keluarga dan lingkungan terutama. Sangat berpengaruh terhadap kebijaksanaanku dalam menyikapi berbagai hal.”, dia mengehela napas.

“Bagaimana, apa kau mengerti?”, tanyanya kemudian.
“Eh? Eu.. i.. Iya. Aku paham.”, aku terbawa penjelasannya yang amat dalam. Analisanya benar-benar hebat.—
[tab: Hal 5]

“Bagus. Kalau kau paham, sekarang coba kita urai satu per satu. Dirimu cukup jawab “Ya” atau “Tidak”.”, aku hanya mengiyakan apa maunya.

“Pertama, apa pernah kau merasa sombong akan semua kemampuanmu? Walau itu hanya di dalam hati, walau itu hanya sekali. Pernah?”

“Eeeh? Eu.. Kenapa…?”, aku ragu menjawabnya.

“Sudah kubilang cukup jawab iya atau tidak? Tidak perlu ragu apalagi malu. Ini kan dalam rangka menganalisis. Toh, aku sudah lebih dulu mengakui semuanya.”, dia memang paling jago meyakinkan orang.

“Eum.. Ok. Iya. Walau mungkin aku sendiri tidak merasa kalau itu kesombongan, tapi aku akui iya. Aku pernah sombong di dalam hati.”, jawabku tegas.

“Nah, begitu kan enak. Oke, faktor kedua, apa kau tipe manusia berjiwa sosial?”

“Eum.. Aku justru merasa pelit dalam segala hal. Tapi.. Selalu ada saja orang ya berterima kasih setelah aku melakukan sesuatu untuknya. Padahal aku tidak berniat menolong.”

“Ya, itu namanya lebih sosial lagi. Bukankah orang pandai justru selalu merasa dirinya bodoh? Padahal itu bukti saking pandainya dia. Begitu juga dengan jiwa sosial. Iya, kan?

“Ya, terserahlah.”
“Ketiga, apa kau menjalankan semua keahlianmu dalam satu waktu?”
“Iya, betul sekali.”
“Terakhir, apa ada faktor dari keluarga dan lingkungan yang menjadi pemicu lain?”
“Eum.. Bisa jadi.”
“Bagus! Semua faktor sudah terpecahkan. Artinya, penyebab kamu STAG ya 4 faktor itu tadi.”
“Terus, aku harus bagaimana sekarang?”

“Tenang. Bersyukurlah karena penyebab sudah terpecahkan. Sekarang kita tinggal memikirkan solusi. Untuk faktor pertama, jelas harus diredakan dulu. Buang jauh-jauh sombong itu, dan minta ampunan sama Allah. Karena Allah lah yang paling hebat dan kuasa atas segalanya.

Kedua, coba kurangi sedikit saja jiwa sosialmu. Bukan berarti menjadi pelit, tapi kamu bisa memilah. Mana yang sebaiknya dikerjakan dan mana yang tidak.

Ketiga, ini yang paling penting. Coba kurangi ambisimu, kurangi prioritas keahlianmu. Maksudnya, satu-satu saja dulu dituntaskan. Diantara skill broadcast, menulis, akademik, organisasi, daaan lain-lain, manakah yang mau kamu prioritaskan dulu? Satu saja!”, dia memberi jeda.

“Eum.. Menulis. Aku melalaikan skill ini 2 tahun terakhir, karenanya otakku mati. Hanya dengan menulis aku bisa membaca, mendengar, melihat, dan merasa semua realita kehidupan. Jadi, aku memilih menulis.”, uraiku pelan.

“Nah! Itu dia! Jawaban yang tepat. So, lupakan sejenak keahlian yang lain. Nanti, kalau kamu sudah mahir dengan tulisanmu, kejar kembali skill yang lain. Dan, ini belum terlambat. Usiamu masih sangat muda. Percayalah, tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan.

Satu hal yang ingin sekali kusampaikan. Jika kau ingin menjadi diri sendiri, sejujurnya aku sudah menemukan dirimu sendiri sejak baru pertama mengenal. Tak ada yang berubah. Inilah dirimu apa adanya. Kamu tetap sederhana, tidak ikut-ikutan style orang lain, tidak terpengaruh mainstream, dan kau tahu kapan harus diam, kapan harus bicara. Meski jalan Sang Imam, jalanku, dan jalanmu sama-sama sunyi, tapi kita tidak sendirian.”

Dan, aku tersenyum lega. Dia benar-benar menjadi penawar kegalauan yang selalu bisa berujung. Puji syukur hanya untuk-Mu, ya Allah..

[tab:END]
 

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Lagi

Read Next

Hanya Ingin Berpuisi

Facebook Comments

Disqus Comments

damae