Kesempurnaan Rasa

Lama tak menikmati ini. Masak mie instan, menyeduh teh, dan mengupas buah; di akar pagi. Memastikan rembulan tidak kesepian di waktu yang paling syahdu untuk bercengkrama dengan kata. Tentu juga paling ciamik, bagi sebagian orang, untuk berfantasi dengan mimpi.

Dirasa-rasa, ada yang hambar dengan kuah mie-nya. Cabai. Pedas. Aku terbiasa memasukkan potongan cabai rawit ke dalam kuah mie untuk menambah sensasi. Tapi di sepertiga malam begini, aduh, lebih baik kutahan hasrat kepedasan.

Menyebut pedas, aku teringat hasil penelitian karakter manusia berdasar rasa yang disukainya. Lupa darimana sumber risetnya, padahal baru tadi sore kudengar dari radio. #payah

Pecinta pedas, katanya, cenderung suka berpetualang dan mudah beradaptasi dengan siapa pun. Easy going, bahasa kece-nya mah. Meski tidak disebutkan standar pedas itu seperti apa. Bisa saja kan, keripik Maicih level 5 sudah kubilang pedas. Tapi buat orang lain mungkin level 15 baru dibilang pedas.

Whatever, perbedaan tingkatan pedas itu pasti disebabkan oleh banyak faktor. Misal, kucontohkan diri sendiri, aku hanya mampu menelan rasa pedas dari 5-10 cabai rawit. Faktornya jelas, urusan perut. Magh kronis yang pasti bakal belingsutan kalau dipaksa lebih pedas dari itu. Bagaimana denganmu?

Ah, ya. Siang tadi aku juga berceloteh dengan kawanku. Masih seputar rasa.

Awalnya niat bikin es susu mangga. Sayang, susu habis. Sudah lebih dari sebulan ini aku tidak belanja. Tersisa gula dan teh. Apa mau dikata, “Manfaatkan saja apa yang ada”, kicau kawanku. Es teh mangga? Iya. Kita bikin es teh mangga.

Kuseduh teh, tambah gula dan es. Kawan asik mengupas mangga sambil dimakan sendiri. Terang saja aku antri dapat potongannya. “Kira-kira apa rasanya?”, aku nyletuk. “Cobain aja..”, masih sambil menjilati pisau.

Benar. Kucoba. Potongan dadu sudah beradu dengan es teh di gelas mungil. Lebih tepatnya bukan gelas, tapi tutup botol minum. Ukurannya sekira 4×5 sentimeter. Cukuplah sekali tenggak. Gelas habis, eh, kotor semua. 😀

Seperti apa rasa es teh mangga? Aneh. Tapi nikmat. Manisnya sensasi dingin mengabsurdkan asamnya mangga. Aromanya? Eum.. Wangi teh melati dengan kepulan wangi mangga, bersemayam di rongga hidung yang kepanasan. Kamu mau coba? Sini, aku buatin.

“Besok bikin sayur daun pepaya, ah!”, aku jadi kepikiran sesuatu. “Tumben. Bukannya kamu nggak doyan?”, kawan menimpali. “Ternyata kesempurnaan hidup justru hadir saat kita mau menikmati semua rasa.”, kuberkata sok bijak sembari tersenyum.

Aku tidak ingin membenci pahit, asam, asin, dan pedas agar hanya menikmati manis. Harus berani coba semua rasa. Termasuk pahitnya daun pepaya. Toh, di dalam kepahitan sayur itu pasti sudah diberi gula. Mengasyikan kalau aku bisa menemukan sekecap manis di kuah pahit sayurnya, kan?

Seperti pagi ini. Beberapa menit lalu aku agak sensi karena seorang teman cancel berangkat bareng. Padahal sudah kubelain pilih bus (demi dia) daripada travel. Kalau tahu ujungnya dia cancel, pasti perjalanan nanti sedikit nyaman dengan travel.

Tapi, ya, lagi-lagi, bukan perjalanan namanya kalau selalu sesuai rencana. Pasti ada secercah manis yang bisa kunikmati dari perjalanan (sendirian) nanti. Berharap tidak ketiduran sepanjang jalan. Bisa-bisa bukan sampai Brebes, malah Wonosobo. 😀

Sampai disini celoteh tentang rasa di ufuk fajar. Kusambung Minggu sepulang perjalanan. Atau kamu mau menjadi pengganti teman perjalananku? 🙂

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*