Kampung Kita

Angin, benarlah kau kata. Seburuk-buruk kampung kita, tetaplah paling nyaman di dunia. Biarpun beceknya jalan tidak lebih baik dari galengan. Biarpun letaknya terpencil dan terisolir. Biarpun tumpukan batako tanpa lepah sudah bikin rumah tampak mewah.

Biarpun jauh dari mall, bioskop, arena wisata, bahkan warung internet pun masih langka. Biarpun gedung sekolah masih menumpang di masjid dan mushola. Biarpun..

Kampung kita, tetaplah paling bisa membuat hati gembira. Angin.. Hanya makan ikan asin nasi jagung, nikmatnya ‘ndak ketulung’. Hanya tergeletak di dipan kayu tua, lelapnya hingga fajar menyapa. Hanya mencangkul dan menjala, hidupnya damai sejahtera.

Hanya tahu soal harga jual padi, sayur, dan buah petani makin turun saban hari; tetap bersyukur tak terukur. Hanya tercenung melirik produk pabrik makin naik, mampu ya beli tak mampu ya tak bikin mati. Hanya..

Tak seperti di sini, Angin.. Gedung gagah berpagar megah, tapi penghuninya tak pernah bungah. Mobil kinclong dandanan bak tuan nyonya, tapi yang punya tak pernah lega. Keringat tak pernah mengucur, kerja pun tak pernah lembur; tapi hatinya sering lupa cara bersyukur.

Yang lebih disukai untuk diukur: punya apa kau mau tinggal di sini? Bisa apa kau mau hidup di sini? Siapa margamu, di level berapa, dari tanah mana?

Hingga gembira hanya ada di ‘museum langka’. Nyaman sangatlah mahal harganya. Terlebih bahagia.. tertawa pun haram bersua.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*