Kalah

Angin, apa yang kamu tahu tentang kalah?
Kenapa? Apa kamu baru saja kalah? Aiihh.. Masih pagi begini sudah kalah!
Hm, ditanya malah balik nanya. Ditambah menjugde segala pula.
Ya.. Barangkali..
Jadi apa yang kamu tahu tentang kalah?
Eum.. Kalah.. Kalah.. Kalah.. Apa ya..?
Angin!!!
Eh, eu, iya, iya, ini sedang dipikirkan jawaban terbaiknya.
Jangan kelamaan!
Tuh kan.. Ini yang membuatmu selalu kalah!
Ini apaan?
Ya, ini. Nafsu burukmu!
Maksudnya?
Kalah itu ketika kamu tidak mampu mendengar suara hatimu.
Apa hubungannya dengan nafsu?
Suara hati itu sejatinya ada dalam semua hal yang kamu lakukan sepanjang hidupmu. Kamu berpikir, bertindak, merasa, bahkan tidur sekalipun, suara hati itu tetap ada. Hanya saja, ini yang sering kali terabaikan, bisa jadi kamu tidak mampu mendengarnya karena terkalahkan oleh nafsu.
Masih belum paham..
Haduh, begini, sayang.. Manusia itu punya hati, akal, dan nafsu. Hati sudah pasti benar, akal mempertimbangkan kebenaran itu, sedang nafsu mempengaruhi proses dan hasil pertimbangan. Sayangnya, suara hati itu beda dengan suara mulut yang bisa diucapkan. Suara hati hanya akan terdengar jika kamu berpikir jernih dan nafsumu baik. Tapi kalau otak kamu butek alias keruh dan nafsumu buruk, suara hati bisa saja kalah. Ketika suara hati kalah itulah, kamu kalah.
Contoh?
Misal, kamu tahu bahwa hatimu bersuara: tangan kiri sebaiknya tidak melihat ketika tangan kanan memberi. Tapi, karena kamu ingin dibalas pemberiannya oleh orang yang kamu beri, jadilah bukan hanya tangan kiri tapi juga seluruh dunia melihat bahwa kamu telah memberi. Nah, keinginan untuk dibalas pemberiannya itulah yang berasal dari akal keruh dan nafsu buruk; bukan dari suara hati.
Berarti inti kemenangan dan kekalahan itu tergantung suara hati?
Bukan. Jangan disalahpahami. Suara hati itu selalu benar dan kebenaran pasti akan menang -pada waktunya; tapi suara hati akan kalah kalau akal dan nafsu itu tidak mengikuti jalan kebenaran.
Lalu bagaimana dengan kalah dalam sebuah pertandingan dengan orang lain?
Sama. Kalah dalam pertandingan itu kan hanya teks-nya saja. Hanya di luar, hanya bungkus, hanya kulit. Kekalahan yang sesungguhnya adalah ketika hatimu terluka karena pertandingan itu, terebih lagi kalau luka itu tidak segera diobati hingga hatimu membusuk dan mati.
Hati membusuk dan mati?
Yup. Kalau sudah mati, bisa jadi tidak akan bisa bersuara lagi.
Jadi apa yang harus aku lakukan?
Move on! Ibaratkan saja kekalahan dalam pertandingan itu seperti kamu terjatuh saat berjalan. Namanya jatuh, pasti sakit. Kalau kamu tetap diam di posisi itu, apa rasa sakitnya akan hilang? Tidak. Sakitnya justru akan bertambah parah. Tapi kalau kamu bangkit, obati lukanya, lalu kamu lanjutkan perjalanan, rasa sakit itu akan hilang dan tahu-tahu kamu sudah sampai di tempat tujuan.
Benarkah?
Apa kata-kataku ada yang salah?
Eum.. Tidak. Baiklah, aku akan terus melangkah, apa pun yang terjadi.
Sip! Semakin sering kamu jatuh, semakin hati-hati kamu berjalan. 🙂
Iya, benar. 🙂

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Ikhlas, Ruh Setiap Amal

Read Next

The Liebster Award: Salam Damai

Facebook Comments

Disqus Comments

damae