Justru Karena Aku Perempuan, Aku Tak Boleh Berhenti Belajar

Sebagai perempuan single berusia 26 tahun dan masih menempuh pendidikan formal, saya kerap mendapat pertanyaan (yang lebih terasa seperti cibiran). “Ngapain, sih, kuliah S2? Emang kalau sudah S3 terus mau buat apa? Apa S1 saja nggak cukup?” begitu kira-kira. Tak jarang ditambah pertanyaan pamungkas: “Terus kapan mau nikah?”. Disertai komentar yang terdengar pedas seperti diaduk dengan cabai 50, “Kalau ketuaan, nanti makin susah dapat jodoh dan dapat anak, lho..”. Seolah urusan jodoh dan anak ada di tangan mereka, atau jangan-jangan mereka memang lebih berkuasa ketimbang Tuhan.

Meski peradaban kini sudah berbasis teknologi dan pendidikan bukan lagi hal “mewah” bagi sebagian besar masyarakat, namun adigum perempuan yang identik dengan dapur, sumur, dan kasur, belum sepenuhnya surut. Masih ada masyarakat yang menilai perempuan tak perlu berpendidikan tinggi, tak perlu memiliki banyak impian, tak perlu sukses berkarir, juga tak perlu mengantongi pengalaman luas untuk melanjutkan hidup. Lebih miris lagi, masih ada masyarakat yang terjebak dalam paradigma bahwa semakin tinggi kualitas perempuan justru semakin sulit untuk mendapatkan pasangan hidup. Yang terkahir ini, apakah sebegitu pengecutnya kebanyakan lelaki sampai takut tersaingi oleh perempuan? Atau memang pada hakikatnya masyarakat kita (dalam hal ini laki-laki) cenderung menyukai kualitas perempuan yang biasa-biasa saja?, ini prasangka buruk saya, sih.

Mereka juga kerap bilang, cukuplah perempuan bersekolah sampai SMA atau S1 saja. Toh, setinggi apa pun pendidikan atau sebagus apa pun karir perempuan, pada akhirnya dia akan menjadi seorang ibu dan stay at home. Tugas utama perempuan setelah ia beranjak dewasa seolah “hanya” mengurus suami dan anak, di rumah saja. Dalam pandangan mereka, perempuan yang menjadi istri dan ibu yang baik di dalam “istananya” itu sudah lebih dari cukup. “Tak usahlah muluk-muluk bermimpi”, begitu wejangan yang sering saya dengar.

Source: Vix.com

Memang, anggapan itu tak sepenuhnya salah. Kodratnya perempuan yang memiliki rahim dan melahirkan anak secara otomatis akan menjadi ibu setelah menikah. Karenanya menjadi wajar jika perempuan memiliki kewajiban untuk mengurus rumah tangga juga anaknya. Area itu, konon, idealnya ada di dalam rumah. Jika digambarkan, secara sederhana rute perjalanan perempuan yang ideal di mata sebagian masyarakat, barangkali begini: lahir, sekolah sampai SMA atau S1, menikah, memiliki anak, merawat anak, dan meninggal. Tak heran jika kemudian mereka seolah meremehkan pendidikan. Ditambah doktrin yang sampai sekarang masih dipercaya bahwa, membangun rumah tangga itu tak ada sekolahnya, semua trial and error, langsung praktik. Jika “dimakan mentah-mentah”, maka menjadi baik-baik saja bagi sebagian perempuan yang menikah tanpa berpendidikan.

Namun, di benak saya, ada kejanggalan yang amat kentara saat menilik lebih dalam. Justru karena saya perempuan yang kelak akan menjadi istri dan ibu, saya memiliki peran dan tanggung jawab yang tak kalah besarnya dengan lelaki. Seorang ibu akan menjadi guru pertama bagi anak-anaknya tak hanya setelah dia melahirkan, tapi bahkan sejak sang bayi masih berada dalam kandungan. Karenanya semua sikap, tindakan, dan perilaku calon ibu selama mengandung, ialah komunikasi pertama yang bisa memberi dampak besar bagi pertumbuhan calon bayi. Barangkali itulah mengapa sejumlah penelitian menyebutkan bahwa terjadi efek luar biasa pada bayi yang selama dalam kandungan diperdengarkan bacaan ayat Al Qur’an atau pun audio lain seperti musik.

Pengaruh itu terjadi karena jabang bayi dari dalam rahim sudah mulai bisa mendengar denyut jantung dan suara usus ibu pada usia minggu ke-8 dan akan sempurna pada minggu ke-24. Menariknya lagi, pada usia minggu ke-25 calon bayi sudah bisa mendengar suara dari luar rahim. Kemampuan itu diciptakan Tuhan tentu bukan tanpa maksud, dan dibutuhkan wawasan yang luas bagi calon ibu agar ia bisa memaksimalkan manfaatnya. Jika ia pernah tahu tentang informasi tersebut, paling tidak, ia akan senantiasa membangun komunikasi yang baik dengan calon bayi, antara lain dimulai dengan menjaga kestabilan emosi, selalu bertutur kata dengan baik, hingga menciptakan suasana yang ramah anak di dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Ini baru butiran debu dari sekian banyak wawasan yang seyogyanya dimiliki perempuan sebagai istri dan ibu, agar bisa mendidik anak dengan baik dan mewujudkan generasi berkulitas kelak.

Tak Harus Berpendidikan Tinggi, Yang Penting Bagi Perempuan: Tidak Berhenti Belajar

Source: Deksgram.net

Tapi berwawasan luas itu nggak harus berpendidikan tinggi, kan? Saya sepakat. Karenanya saya ingin menggarisbawahi di sini bahwa cakupan pendidikan dalam pandangan saya sangatlah luas. Pendidikan formal di perguruan tinggi hanyalah satu dari sekian banyak cara yang bisa dilakukan perempuan untuk “tidak berhenti belajar”. Ini dia kata kuncinya: tidak berhenti belajar. Sesederhana belajar bagaimana menjaga kebersihan diri dengan melakukan cara mandi yang benar dan berseka untuk dirinya dan keluarga, agar suami senantiasa betah di rumah dan anak-anaknya meniru untuk menjaga lingkungan yang bersih, dimulai dari teladan ibunya. Lebih penting lagi, belajar memahami bagaimana karakter anak laki-laki dan perempuan yang sangat jauh perbedaannya, bagaimana memperlakukan mereka dengan adil, dan bagaimana mendukung mereka untuk berkembang sesuai bakat dan passionnya. Ini harus diketahui perempuan agar kelak anak-anaknya bisa menggapai impian yang memang berasal dari hati anak-anak sendiri, bukan keinginan apalagi paksaan orang tuanya.

Tak masalah perempuan hanya lulusan SMA atau bahkan SMP, selama dia tidak berhenti mencari ilmu apa pun sesuai keinginan dan kebutuhannya. Ilmu itulah yang nantinya menjadi pijakan dalam segala tindakan perempuan. Ibarat kata perempuan itu mau mengarungi samudera pernikahan, ia sudah tahu seberapa dalam dan luasnya samudera itu, bagaimana caranya mengaruhi samudera itu, perbekalan apa yang harus ia bawa selama pelayaran berlangsung, hingga berapa prediksi durasi tempuh perjalanannya. Dengan begitu, ia bisa selamat sampai pelabuhan terakhir dan mendapatkan apa yang ia inginkan (tujuan) dari pelayarannya. Bukan asal jalan tanpa rencana atau malah tanpa perbekalan apa pun. Bunuh diri, dong.

Terlebih di era yang serba canggih sekarang ini, perempuan bisa memperoleh ilmu dan wawasan baru dari mana pun dan kapan pun. Tak ada lagi batasan ruang maupun waku sebagaimana ketika internet belum menyentuh napas kehidupan. Kemajuan jaman ini, harusnya menjadi alasan paling logis agar tak lagi menunda tekad untuk tidak berhenti belajar. Semenentang apa pun anggapan masyarakat tentang pentingnya pendidikan perempuan, diakui atau tidak, pada akhirnya kita semua sepakat kalau peradaban yang berkualitas hanya bisa lahir dari generasi yang berkulitas, dan generasi yang berkulitas itu tak lain hanya bisa lahir dari rahim perempuan yang juga berkualitas.

Pernyataan ini sejalan dengan penelitan dari University of Washington yang menyebutkan, perempuan menurunkan gen kecerdasan lebih banyak kepada anak ketimbang laki-laki, karena perempuan memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki hanya satu. Kromosom X inilah yang menentukan fungsi kognitif (kecerdasan otak) pada anak. Bahkan studi laboratorium terhadap tikus juga senada dengan hasil riset ini. Tikus yang telah disuntikkan gen ibu itu memiliki ukuran otak lebih besar dan tubuh lebih kecil. Besarnya ukuran otak inilah yang membuat tikus hasil rekayasa genetik itu menjadi lebih pintar dari tikus lain. Fakta ini seharusnya menjawab keraguan perempuan untuk menjadi pribadi yang berkualitas, alih-alih pasrah pada arus opini masyarakat yang masih memandang sebelah mata pada pendidikan bagi perempuan.

Pendidikan Perempuan Dalam Persepktif Islam

Source: Ask.fm

Terlepas dari faktor peran sebagai istri dan ibu, pendidikan bagi perempuan menjadi bekal bagi dirinya sendiri di masa depan. Ia bisa belajar bagaimana menjadi pribadi yang mandiri, berkarir sesuai passion (baik untuk menyalurkan kreativitas semata maupun membantu mencukupi kebutuhan finansial keluarga), hingga berkiprah di lingkungan masyarakat sekitarnya. Melalui peran inilah perempuan bisa memberi contoh bagi anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang memiliki pemikiran: apa pun yang ia lakukan dalam hidupnya semata-mata untuk menebar kebermanfaatan bagi orang lain. Sebagaimana hadist Nabi yang menjadi core value dari keberadaan manusia di alam semesta, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” (HR. Ahmad).

Pentingnya pendidikan bagi perempuan pun rupanya sudah menjadi perhatian khusus dalam perspektif Islam. Ada sangat banyak kisah yang bisa dijadikan tauladan bagi masyarakat dalam memandang pendidikan bagi perempuan. Sejak periode awal Islam hadir, yakni zaman Rasulullah saw, perempuan mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk belajar langsung dari Rasul maupun melalui perantara Umm al-Mukminin, Aisyah, istri Rosul. Perempuan tak segan untuk mengajukan pertanyaan atau permasalahan kepada Nabi, dan terlibat dalam proses belajar mengajar –yang kala itu belum ada istilah pendidikan formal. Kondisi ini dapat terjadi karena memang Nabi (mewakili penyampai ketentuan Islam) memberi keleluasaan ruang bagi perempuan untuk belajar, mendapatkan wawasan dan pengetahuan, hingga menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu.

Sebut saja beberapa perempuan hebat dalam bidang pendidikan di masa Rasul, seperti Rabi’ah Al Adawiyah yang menguasai bidang tasawuf, Nafisah binti Hasan dalam bidang hadist, atau Asma’ yang mahir di bidang hukum. Begitu juga dengan Hafsah yang menjadi ahli tafsir, Khansa yang dikenal sebagai penyair ulung, maupun para istri Nabi (Khadijah, Aisyah, dst.) yang tak perlu diragukan lagi keilmuannya dalam berbagai bidang lain. Cukuplah kiranya mereka menjadi suri tauladan bagi masyarakat, bahwa perempuan pun berhak berpendidikan, berwawasan luas, dan memiliki kebermanfaatan yang tak hanya berkutat dalam area domestik, namun juga cakupan wilayah publik yang bahkan tak berbatas dan tak lekang oleh zaman.

Melalui uraian panjang ini, saya ingin memberikan pandangan sekaligus meyakinkan diri sendiri bahwa, justru karena saya seorang perempuan yang akan menjadi istri dan ibu pada masanya nanti, saya tak boleh berhenti belajar. Pendidikan tinggi yang masih saya tempuh saat ini hanyalah salah satu upaya dalam rangkaian proses pembelajaran, bukan tujuan akhir. Karenanya saya tak perlu khawatir akan kesulitan mendapatkan jodoh hanya karena saya tak mau berhenti belajar, atau kesulitan mendapatkan anak karena menunda usia pernikahan. Saya percaya, kelak akan ada seorang pria yang tak merasa terancam dengan kualitas pendidikan perempuan dan justru bersyukur ketika berhasil mendapatkannya, karena ia membutuhkan istri dan ibu yang mau terus belajar untuk membangun bahtera rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Dengan begitu, pernikahan akan menghasilkan generasi penerus yang berkualitas, atau setidaknya ia tidak nekat mengarungi samudera tanpa tahu bagaimana cara menahkodai kapalnya.

Source: Ask.fm

Jadi, wahai perempuan, bagaimanapun keadaanmu, mari tetap semangat untuk tak pernah berhenti belajar. Sebagaimana Dian Sastro pernah mengatakan, “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.” Bukan begitu, kawan?.

Damae Wardani

Read Previous

Mungkin Saja, Dia (Bukan) Jodohmu

Facebook Comments

Disqus Comments

damae