Jam 8 Pagi

Jam 8 pagi, jalanan sudah disetrika oleh ratusan bahkan ribuan kendaraan menuju gedung-gedung bertingkat; sekolah, segala perkantoran, pabrik, hotel, mall, restoran, dan gudang uang (bank). Andai saja ia bisa bicara, bukan, yang benar andai saja manusia mengerti bahasa jalan, mungkin takkan tahan dengan segala umpatan.
“Kulitku baru dua hari luluran sudah kasar begini, pipiku robek di tengah, badanku menggigil kebanjiran, make up-ku luntur kena tabrakan, cat kuku cantikku belum kering pun sudah diludahi, dikencingi, ditimpuki sampah sana sini.”
Untungnya manusia tidak mengerti bahasa jalan. Yang ia tahu hanyalah semacet apa pun, banjir setinggi apa pun, rusak separah apa pun, jalan tetap tak mengeluh untuk dilindas setiap saat. Demi mengais lembaran merah-biru untuk cacing perut yang menari tiap pagi, siang, dan malam hari.
Jam 8 pagi, manusia di terminal sibuk menawarkan semua jenis kendaraan; ojeg, becak, angkot, bajaj, bis ecek-ecek, bis mini, bis eksekutif, dan taxi; semua saling berebut dengan jaminan pelayanan terbaik (yang sudah digadaikan).
Dari yang rapih berkemeja biru muda dipadukan celana panjang biru tua dengan topi berwarna senada; yang kumal, lusuh, acak-acakkan; sampai berwajah seram, geram, nan penuh bualan. Semua dilakoni demi mengais lembaran merah-biru untuk cacing perut yang menari sembarang waktu.
Jam 8 pagi, tidak beda dengan stasiun dan bandara. Darimana mau kemana sudah tercatat di batok kepala, akan melintasi rel juga udara. Sama dengan terminal – membual the best dalam setiap perjalanan yang mengantar penumpang sampai tujuan: mengais lembaran merah-biru demi cacing perut yang menari saban hari.
Jam 8 pagi, pasar subuh sudah berselimut, dagangan sudah habis digerumut. Jam 8 pagi, sekolah terkantuk-kantuk meladeni pelajaran pertama, ada juga yang bersemangat dengan terpaksa. Jam 8 pagi, meeting kantor ditunda 30 menit, konon jajaran direksi masih OTW (Oh, Tungguan Weh).
Jam 8 pagi, pabrik baju-sepatu-perkakas-makanan kalengan-snack kampungan-sampai obat-obatan, sudah beroperasi tak kenal henti. Jam 8 pagi, hotel-mall-restoran baru saja buka jendela, bersiap menyapa pelanggannya.
Jam 8 pagi, anak jalanan, pengemis, pengamen, pencopet, penjambret, hingga penghipnotis, sudah siap siaga di tiap sudut keramaian. Begitu pun kurir koran, jam 8 pagi, sudah selesai melempar ribuan koran ke pintu pelanggan saat kurir pos baru saja mau mulai.
Begitu sibuknya jam 8 pagi sampai aku tak mampu membidik lebih banyak lagi; transaksi di warung, nada tak beraturan dari palu tukang bangunan, peluh keringat pembantu ibu kos menjemur cucian, hingga langkah tegap calon-calon sarjana yang baru mencicip semester pertama – di jalan depan kosan.
Tapi di sini, jam 8 pagi di lantai dua tempatku berdiri, semua pintu kamar masih tertutup -tanda anak kos masih berselimut bersama cacing perut yang belum banyak menuntut. Satu dua mengucek mata seraya mematikan alarm, “Aargh.. Baru jam 8 pagi” lalu tidur lagi.

kos-kosan
Source: Here

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Segulung Kertas

Read Next

Tidak (Iya)

Facebook Comments

Disqus Comments

damae