Hujan Beku

Gerimisnya makin lebat. Kasihan kepalamu.
(menadah, terpejam)
Huhf.. Bahkan sekarang tidak bisa kubedakan, mana air matamu, mana air mata langit. Ayo, nak.. Jangan menyiksa diri.
(menikmati tiap tetes-Nya)
Kenapa diam? Tubuhmu bisa demam kalau kamu tidak beranjak.
(menarik napas lebih dalam)
Iya, aku tahu. Aku paham. Sangat paham.. Kalau Hujan adalah makhluk yang selalu kamu rindukan. Hujan yang membuatmu hangat dan tersenyum bersama pelangi. Hujan yang juga menyematkan pesan cinta dalam tiap tetesnya. Hujan yang, akhirnya menjadi satu-satunya kenangan.. Antara kau dan dia. Iya, aku paham..
Paham..sekali. Tapi ijinkanku mengingatkanmu kalau, hujan hari ini tidak akan pernah sama dengan hujanmu dulu. Bahkan mungkin dia tidak akan pernah hadir lagi jika ia tahu tiap tetesnya hanya membuatmu semakin terluka.
(mengeluarkan napas perlahan, sembari tersenyum)
“Jika suatu hari kita tidak bersama lagi, hujan ini akan menjadi pengingat bahwa kita pernah saling mengenal..” aku bahkan masih hapal kata-kata itu, sayang. Aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan sekarang, tapi.. Tolong.. Jangan dzalimi tubuhmu yang tidak sekuat keinginanmu. Kalau bisa berteduh, berteduhlah. Kalau terlalu berbahaya, bersembunyilah..
(terbatuk)
Berjanjilah padaku kau akan melakukan itu, honey..
Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Akan kutemukan cara untuk berdamai dengan hujan. Hingga aku tak perlu terpejam lagi setiap dia turun, karena tetesnya telah membekukan air mataku.

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Hanya Ingin Terpejam

Read Next

a-b

Facebook Comments

Disqus Comments

damae