Hilangnya (Pertemuan) Sapaan Singkat

Kali ini memang tak kau tinggal seujung jejak jemari di sini.
Garis mata letihmu pun dalam-dalam kau benamkan kala,
Aku tulus ingin menyeka.
Buru-buru kau putar haluan.
“Pertemuan singkat itu menyakitkan”,
Katamu berdamai dengan hasrat yang kau tahan.

Sayang, bagiku, sesingkat apa pun itu, jauh lebih bahagia ketimbang,
Memelihara asa yang terus berangan dan mengembara.
Bahkan sesingkat kedipan mata pun, cukup menutup penantian yang,
Sungguh, jauh lebih menyiksa daripada pertemuan singkat.
Setidaknya, aku akan melupakan kebodohanmu yang jauh lebih dulu menyiksaku,
Sebelum dilema pertemuan singkat itu,
Beberapa saat lalu.

Kebodohan yang mana?
Yang kau alibikan dengan: segudang alasan untuk tidak disalahkan atas ketiadaan kabar.
Semalaman ditambah sepagi lebih sesiang.
Kubilang kau bodoh bukan karena alasanmu tak terotakkan.
Tapi apa hanya sebatas itu kau mampu membodohiku?
Membodohi gumpalan kepercayaan dengan nadir perjuangan.
Nadir yang jelas menampakkan, bahkan, tak sedikit pun kau ingat penantianku.
Dan, aku seakan tersihir untuk diam (lalu memaafkan).

Ah, rasanya sesak itu bertumpuk di dasar hati.
Di tengah hingga puncak, sejatinya aku
Kehilangan.
Sapaan.
Sapaan yang baru kudengar (lagi) setelah hampir ribuan hari.
Sapaan yang, terdengar lebih singkat dari pertemuan singkat itu.
Sangat lebih singkat.
Saking singkatnya.. Mungkin tidak akan pernah bertemu dengan pertemuan itu.
Karena sisa waktu kita, bisa jadi lebih singkat dari pertemuan singkat yang menyakitkan.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*