(Haruskah) Aku Berhenti Bertanya (?)

Aku bertanya-tanya,
Apa artinya menikah?
Kenapa kita harus menikah?
Kenapa aku harus menikahimu?
Apa artinya mencintai dan dicintai?
Salahkah aku jika mencintaimu?
Benarkah kau benar-benar mencintaiku?
Bolehkah aku meminta Tuhan untuk menyatukan kita?
Haruskah kita menikah dengan orang yang kita cinta?
Mampukah kita menikah tanpa cinta?
Apa artinya menghabiskan waktu bersama sepanjang hidup?
Kenapa kita saling mempertahankan satu sama lain?
Kenapa kita ditakdirkan untuk berjuang sejauh ini? Demi apa, demi siapa? Atau jangan-jangan ini bukan takdir, tapi hanya kita yang terlalu memaksa?
Apakah aku berhak memperjuangkanmu untuk hidupku?
Apakah aku berhak memperjuangkan hidupku denganmu?
Bagaimana jika, hal yang paling sakral: restu orang tua, justru gagal kita dapatkan?
Haruskah kita melanjutkan langkah?
Haruskah kita menyerah?
Bolehkah kita menentukan arah hidup kita sendiri?
Benarkah nasib kita ada di tangan kita sendiri? Atau di tangan Tuhan dan kita? Atau di tangan Tuhan, orang tua, dan kita? Atau di tangan Tuhan, orang tua, dan orang lain?
Benarkah pernikahan tercipta untuk saling berbagi kebahagiaan?
Apa artinya kebahagiaan?
Apa artinya berbagi kebahagiaan?
Jika menikah, mampukah kita merawat dan mempertahankannya?
Benarkah sepanjang hidup tidak ada kebohongan di antara kita sebagai pasangan?
Mampukah kita tidak jatuh cinta lagi pada makhluk lain setelah menikah?
Bolehkah kita mencintai makhluk lain setelah menikah?
Kenapa ada perselingkuhan?
Benarkah kita benar-benar telah saling mengenal satu sama lain?
Yakinkah kita bisa terus saling percaya?
Sudahkah kita saling menerima kurangnya kita?
Apa artinya janji setia yang terucap saat akad?
Bagaimana jika kita dihadapkan dengan perceraian? Akankah ada celah untuk saling memaafkan? Atau berujung saling dendam?
Benarkah kita benar-benar akan bahagia?
Benarkah kita benar-benar akan berbagi kebahagiaan?
Akankah kita saling menyerang satu sama lain?
Adakah yang menang dan kalah? Atau justru tidak ada keduanya dan yang tersisa hanya rasa lelah?
Akankah kita malah saling membenci?
Bahkan meski sampai di titik ini, masih bolehkah kita melangitkan harapan?
Haruskah kita berhenti berharap?
Atau haruskah aku berhenti bertanya saja?
Apakah dengan berhenti bertanya, pertanyaan itu juga akan berhenti?
Apakah semua pertanyaan ini harus dijawab?
Apakah semua pertanyaan ini membutuhkan jawaban?
Siapakah yang harus menjawabnya? Aku? Kau? Atau, waktu?
Bagaimana cara menemukan jawabannya?
Jangan-jangan jawaban itu sudah ada, hanya kita belum melihatnya?
Dan, jika kelak jawaban itu benar-benar ada untuk kita, akankah kita bertanya: mengapa jawabannya begitu?
Haruskah kita percaya pada jawaban itu?
Aah.. Aku mulai lelah.
Meski pertanyaan ini masih terus menubi-nubi, untuk saat ini, biarkan aku benar-benar berhenti bertanya.

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Sekuntum Mawar di Tepi Jurang

Read Next

Berkawan dengan Kehilangan, Ketidakbahagiaan, dan Keikhlasan

Facebook Comments

Disqus Comments

damae