Hamba Sahaya

Kau tahu, Angin, aku ini hanya gadis desa biasa. Dilahirkan dari rahim seorang wanita desa yang teramat sederhana. Pekerjaan orang tua, kau mau tahu? Hanya petani, Angin. Pemilik beberapa petak sawah yang dibeli dengan kucuran keringat sendiri.

Sawah yang, hingga hari ini menghidupi mereka (orang tua) aku, adikku, dan beberapa saudara juga tetangga. Saudara dan tetangga itu, tentu saja selalu setia membantu ibu ketika musim tanam dan panen tiba.

Soal pendidikan, gelarku masih terlalu rendah untuk diumbar, Angin. Lagi pula apalah arti sebuah nama dengan sederet ‘singkatan’ di depan dan belakangnya bila, tak senyata kemahiran ilmunya? Jadi jangankan memamerkan gelar, menyebutnya saja aku masih mengukur panjang dibagi lebar.

Perkara wajah, ah, sejujurnya aku selalu malu. Pada diri sendiri, juga semua orang yang mengenalku. Haruskah kuceritakan betapa mungil tubuhku ini? Betapa ndesonya paras ini? Dan betapa tidak anggunnya tiap gerak tangan juga kaki? Semua jauh dari kata cantik, elegan, apalagi sempurna.

Kau harus percaya, Angin, keturunan petani tentu tidak berwajah priyayi. Bahkan aku tidak keberatan kalau, nilai 50 saja kau tidak berani.

Hanya saja, aku bersyukur dilahirkan sebagai manusia yang memiliki percikan jiwa seni, Angin. Percikan itu, setidaknya, membuatku lebih perasa dan pemikir.

Keduanya membuatku mengerti bahwa, bukan warisan harta orang tua atau kekayaan suami yang membuat wanita bermartabat; melainkan kemampuan wanita untuk bertahan hidup tanpa “meminta”. Bahkan, Angin, ibuku selalu berpesan: nuranimu yang paling tahu kalau segunung harta dari di luar dirimu itu tetap membuatmu tidak punya apa-apa.

Bukan pula paras ayu yang terlahir dari darah biru, tapi bagaimana wanita mencintai semua orang dengan hati. Hati yang melahirkan kelembutan, kasih sayang, ketulusan, dan kepedulian tanpa memandang siapa dan kenapa.

Cinta itu pula yang membuat wanita mampu menjadi istri, ibu, dan menantu yang baik dimata Tuhannya. Baik yang, mengabadikan kadar “kecantikan” seorang wanita.

Angin, memang, aku selalu merasa terlalu hina untuk bersanding dengan “pangeran”. Aku juga cukup tahu diri untuk berkawan dengan seorang “putri”. Tapi kau sendiri justru pernah membisiki, “Sebutan Pangeran dan Putri ada karena hamba sahaya.”

Sama halnya rakyat jelata melihat presiden melintasi jalan yang sama, lantaran barisan pengawalnya. Coba saja mobil presiden tidak diapit ajudan-ajudannya, akankah rakyat tahu itu mobil siapa?

Dan aku, Angin, bila pun boleh memilih untuk dilahirkan oleh siapa, tentulah aku berterima kasih jika menjadi golongan hamba sahaya. Ketimbang berdarah putri raja tapi sejatinya “tak punya apa-apa” dan “tak bisa apa-apa”.

Maka meski mustahil hamba sahaya menyejajari putri raja, aku tetap ingin mencoba. Tak apa jika pada akhirnya ragaku tak mampu, setidaknya, nuraniku sudah tahu seberapa harga yang pantas untuk ‘kursiku’.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*