Gurukul vs Al Hikmah 2

Haduh, bangun tidur dapat kabar “nyesek” dari M2Net. Serasa keceriaan mentari tertutup gumpalan awan hitam, #lebay.
“Salah satu anggota M2Net telah berpulang ke rumah”, kudengar dari kicauan burung di pohon sebelah. Bukan, bukan rumah Allah, tapi rumahnya. Alias keluar dari Al Hikmah 2. Lebih tepatnya: mengundurkan diri.
Sejatinya aku sudah berusaha “pura-pura tidak dengar”. Muak dan sedih bercampur kecewa pasti sangat pahit rasanya, kalau aku mendengar. Sayangnya telingaku tiba-tiba (seakan) punya kemampuan Lee Jong Suk (pemeran Park Soo Ha) dalam drama “I Hear Your Voice”. Tentu bukan dengan indra ke-6, tapi via desibel yang terperangkap telepon seluler.
Seketika itu juga alur cerita film legendaris (untuk tidak menyebut ‘jadul’) dari India, yang kurasa cocok dengan background Al Hikmah 2, melayang-layang di depan mata. Tidak sedang menyamakan “Mohabbatain” -judul film itu- dengan kisah di pesantren NU. Hanya inti kisah dari keduanya ada yang sama.

Pernah nonton Mohabbatain, kan? Itu lho, kisah Raj Aryan Malhotra (diperankan oleh Syahrul Khan) mematahkan keangkuhan peraturan universitas Gurukul. Peraturan yang juga ada Al Hikmah 2: dilarang berpacaran selama berada di sana.
Bedanya, pimpinan Gurukul, Narayan Shankar, memberlakukan peraturan itu karena menurutnya “cinta hanya akan membawa rasa sakit”. Kalimat itu kian bulat saat ia kehilangan istri tercinta dan putri semata-wayangnya. Sedang Al Hikmah 2, tentu tak ada landasan lain kecuali atas nama syariat Islam.
Maka setiap mahasiswa Gurukul atau santri Al Hikmah 2 yang ketahuan (atau dituduh) pacaran, pasti dikeluarkan. Peraturan ini sudah turun temurun dan tidak bisa diganggu gugat. Siapa melawan, hukumannya akan lebih berat.
Nah, kembalinya Raj Aryan sebagai guru musik ke Gurukul, tak lain untuk menghapus peraturan yang telah menghancurkan cintanya. Ya, dulu Raj Aryan juga dikeluarkan dari Gurukul karena berpacaran dengan putri Narayan (diperankan oleh Amitha Bhachan). Meski kehancuran yang sejati ia rasakan saat kekasihnya mati, gegara putus hubungan dengan Raj Aryan.
Tapi Raj Aryan kembali bukan untuk balas dendam. Raj hanya ingin membuktikan kalau “cinta bukan bencana”. Dan, singkat cerita, ia berhasil. Gurukul bersemi dengan cinta yang bermekaran saban hari.
Ah, andai sosok Raj Aryan muncul di Al Hikmah 2, akankah ia mampu mematahkan peraturan di sana? Sayangnya, bukan pendapat pimpinan (seperti Narayan) yang menjadi pedoman, melainkan Al Qur’an.

Aku hanya bisa gigit jari. Merasa bodoh dan menyesal, tak ada yang bisa kulakukan agar tak ada lagi santri D-O (dengan kasus pacaran). Peraturan Al Qur’an memang tak bisa dilanggar, tapi tak adakah cara yang lebih manusiawi untuk menghukum hati yang saling mencintai?
Bukti pacaran yang bisa dimanipulasi, ulah kawan yang sengaja menjebloskan, cibiran yang menyakitkan, ta’ziran yang memalukan, dan nasib masa depan yang dipertaruhkan; adakah cara yang lebih manusiawi?
Aku termenung.
“Kalau mencegah lebih baik dari mengobati, berarti mencegah jatuh cinta lebih baik dari mengobati sakit hati. Tapi cinta macam apakah yang bisa dicegah?”

Dedicated to semua anggota M2Net yang berkisah demikian. Maaf, aku tidak mampu melindungi kalian.

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

A Letter to My Friends

Read Next

Titik NOL, Sebuah Noktah Peradaban

Facebook Comments

Disqus Comments

damae

Gurukul vs Al Hikmah 2

Haduh, bangun tidur dapat kabar “nyesek” dari M2Net. Serasa keceriaan mentari tertutup gumpalan awan hitam, #lebay.
“Salah satu anggota M2Net telah berpulang ke rumah”, kudengar dari kicauan burung di pohon sebelah. Bukan, bukan rumah Allah, tapi rumahnya. Alias keluar dari Al Hikmah 2. Lebih tepatnya: mengundurkan diri.
Sejatinya aku sudah berusaha “pura-pura tidak dengar”. Muak dan sedih bercampur kecewa pasti sangat pahit rasanya, kalau aku mendengar. Sayangnya telingaku tiba-tiba (seakan) punya kemampuan Lee Jong Suk (pemeran Park Soo Ha) dalam drama “I Hear Your Voice”. Tentu bukan dengan indra ke-6, tapi via desibel yang terperangkap telepon seluler.
Seketika itu juga alur cerita film legendaris (untuk tidak menyebut ‘jadul’) dari India, yang kurasa cocok dengan background Al Hikmah 2, melayang-layang di depan mata. Tidak sedang menyamakan “Mohabbatain” -judul film itu- dengan kisah di pesantren NU. Hanya inti kisah dari keduanya ada yang sama.
Continue reading →

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

A Letter to My Friends

Read Next

Titik NOL, Sebuah Noktah Peradaban

Facebook Comments

Disqus Comments

damae