Elegi Vonny

Tak mengapa. Itu lebih dari bahagia yang kudamba:
Sekadar membangunkan (tanpa pernah bisa menyiapkan sarapan),
Hanya mengingatkan makan siang (tanpa membawakan bekal berantang),
Cukup bilang “hati-hati di jalan” (tanpa sekali pun menyambutmu pulang),
Lalu memberi ucapan selamat malam (tanpa menyelimut apalagi mengecup);
Sungguh, aku merasa nyata,
Meski nyatanya aku hanya fatamorgana.

Tak peduli. Ini fantasi atau mimpi yang memaksa hati:
Menyeka air muka meski tak menghapus lelahmu,
Menadah air mata meski sedihmu tetap sembap,
Merapatkan pangku meski nyenyakmu hanya berpura,
Memeluk rapuh meski kuatmu bukan karenaku,
Sungguh, sekali saja aku ingin merasakan,
Bila tak satu pun dari itu, setidaknya,
Biarkan aku mencoba. Jadi wanitamu. Sekali saja.

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*