Dik, #1

Dik, semoga kau tidak mengejekku “termehek-mehek”. Sungguh, aku tidak bermaksud melow. Wajah sendu ini sudah kuumpat rapat-rapat. Tapi apa daya, di sela usapan keringat itu tetap tercucur namamu. Di jelang terpejamnya purnama itu tetap terjaga bayangmu.

Bibir memang lihai berdusta bahwa, semua baik-baik saja. Tapi hati dan pikiran ini tak bisa bohong, keduanya sama-sama kosong. Melompong. Seluruh isinya tersangkut di ranselmu.

Dik, kau dimana? Sedang apa? Sama siapa? Ah, bukan. Bukan itu yang seharusnya kutanyakan. Kau sudah solat, Dik? Nah! Itu yang kumaksud. Dimana pun kau, sedang apa pun kau, bersama siapa pun kau; asal sudah solat, aku tidak perlu khawatir.

Solat itu, Dik, pertanda kau masih punya cinta untuk-Nya. Tak apa kau tinggalkan aku selamanya, tapi untuk Dia, Sang Pemilik Segala-galanya, jangan pernah coba-coba.

Dik, jangan bayangkan aku sedang menangis di sudut kamar, menelungkupkan tangan, dan merobek kertas untuk pelampiasan kepedihan. Aku masih sayang waktu, dari pada habis buat uluh, mending berdansa dengan peluh. Tentu kau hafal benar apa yang kumaksud: sapu, lap pel, perkakas dapur, dan tumpukan cucian.

Sambil menyapu ruang tamu ini, Dik, selintas film masa kecil kita muncul di depan mata. Pertama menghuni rumah baru kita 18 tahun lalu, aku mencideraimu. Saking asiknya bermain lempar-lemparan gunting -yang kita sebut mirip pesawat terbang, lemparanku mengenai satu matamu. Seketika wajahmu merah darah, secepat kilat ibu menyambarmu ke dokter terdekat. Aku? Bengong. Tertinggal di sini dengan rasa salah yang menganga.

Dik, ingatkah kau apa yang sering kau tanyakan di ruang ini? Tempat kita menghabiskan makan malam, menonton film kartun kesayangan dan, tentu saja bergumul dengan rasa ingin tahu yang menggebu.

“Telor sama ayam itu duluan mana lahirnya? Kok telor bisa seenak ini?”, tanyamu sambil mengecap kuning telor mata sapi. Belum juga aku berpikir, kau sudah bicara lagi: gimana caranya pesawat bisa terbang? Aku mau pinjam sayapnya; ah, otakmu memang di atas rata-rata.

Dik, mengepel kamar ibu membuatku terenyuh. Betapa kita selalu berebut peluk dan puk-puk. Ibu miring kanan, kau marah. Ibu miring kiri, aku ngambek. Jadilah kedua tangan ibu harus terlentang sepanjang malam, menjadi sandaran mimpi-mimpi kita bersama rembulan.

Juga halaman rumah kita, Dik. Saksi bisu keriuhan permainan kelereng, sulamanda, pecak lele, lompat tinggi, hingga petak umpet. Permainan yang, hari ini sudah tidak kita temui. Semua tergantikan asiknya play station dan game online.

Padahal permainan kuno itu bukan benda mati yang harus lestari, tapi warisan yang harus terus hidup dan berkompetisi (dengan peradaban). Masihkah kita bergairah untuk mencobanya lagi?

Dik, persis di seberang jalan depan halaman itu hamparan sawah. Bentangnya seakan sama panjangnya dengan angkasa, tak berujung. Masih ingatkah kau dulu selalu diayun dengan selendang ibu? Selendang yang terikat kuat di dua cabang dari dua pohon jeruk. Tidak jauh dari ayunanmu, itulah ayuanku.

Semilir angin sawah menyusupi rindangnya dedaunan jeruk, tentu menina-bobokan kita di bawah payung mentari. Saking nyenyaknya, seringkali kita tak menyadari juluran lidah ular hijau sudah hampir menyentuh wajah. Kalau saja ibu tidak jeli, mungkin mata kita tetap menyusuri alam mimpi.

Dik.. Dik.. Betapa aku rindu masa itu, masa kecil kita di desa tercinta.

***

ilustrasi: tribunnews.com

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*