Dear, “H”

Selagi baca tulisan ini, saya sarankan Anda sambil mendengarkan ‘Agnes Monica – Coz I Love you’.

[soundcloud url=”https://api.soundcloud.com/tracks/165682779″ params=”color=ff5500&auto_play=false&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false” width=”100%” height=”166″ iframe=”true” /]

—-
Ahh.. Sungguh, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Bukan, bukan bingung. Aku hanya kehabisan kata untuk sekadar menunjukkan, betapa ‘aku mencintaimu’.

Aku tahu. Daripada marah, mungkin sekarang lebih tepat kusebut kau kecewa. Bahkan menyesal. Kecewa lantaran pada akhirnya, aku bukan wanita yang kau harapkan. Saking dalamnya kecewa itu hingga menggunung penyesalan.

Tapi satu hal yang lebih kutahu dari itu, kecewa dan sesal yang kau rasa, bukankah itu menjadi cukup bukti bahwa, sejatinya kau sangat mencintaiku? Kecewa dan sesal hanyalah selaput untuk menyembunyikan rasa sayangmu.

Iya, kan?

Aku mengerti. Sepenuhnya mengerti. Selaput itu muncul karena keraguanku. Keraguan pada keagungan cinta yang hendak kau sempurnakan dalam mahligai pernikahan.

Tapi percayakah kau kalau keraguan itu sejujurnya bukan pada keagungan cintamu? Melainkan pada diriku sendiri. Iya, aku ragu pada diriku sendiri. Ragu yang berakar dari ketakutan. Takut tidak mampu menjadi wanita yang kau minta, takut tidak bisa menjadi istri yang kau impi, takut tidak kuat menjadi ibu yang menumbuhkan anak-anak kita.

Itulah mengapa aku meminta jeda, satu tahun saja. Satu tahun yang, sungguh bukan masa untuk membesarkan akar keraguan. Justru satu tahun itu masa ujiku untuk melawan takut dan membunuh ragu. Hingga pada saatnya keyakinan tiba, pasti, aku siap menikahimu.

Iya, aku paham. Sangat paham. Tidak seharusnya keraguan itu lahir, tidak sepantasnya ketakutan itu hadir; jika saja, aku yakin kita mampu menjalaninya. Benar memang.

Hanya saja, tidakkah itu sedikit memaksa? Memaksaku menjadi seseorang yang kau inginkan: menikah sekarang. Begitu pun agaknya permintaanku, seakan memaksamu menjadi seseorang yang kuimpikan: menikah tahun depan.

Akui saja, kita sama-sama egois bukan? Sama-sama saling memaksa. Masihkah dinamakan cinta jika kita saling menjadi orang lain? Jika bersatunya cinta kita dilandasi pemaksaan, akankah kita bahagia? Bila rumah tangga berdiri di pondasi keegoisan, apa yang kan terjadi?

Aku memang tidak terlalu pandai bicara. Selalu saja bukan solusi, malah kekanak-kanakkan yang kuberikan. Saking kekanak-kanakkannya hingga sering kubergumam, “Bukankah kau sudah memiliki hati ini? Apalagi yang kau khawatirkan?”.

Menikah tidak lain dari ritual yang menyatukan raga kita. Selama-lamanya raga kita ada, maut tetap akan datang memisahkan. Tapi hati? Kekuatan cinta kita bahkan mampu bereinkarnasi. Masihkah kau tak mau menunggu satu tahun saja?

Ahh.. Bodohnya aku. Hanya ingin berkata betapa “aku mencintaimu”, malah memutar kata kemana-mana.


Dedicated for Chilo’s Smile

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*