Cinta [Sejati] Tak Pernah Salah Jatuh

Source: Here

Hai, kau masih betah beralama-lama melamun?”
Ah, Kau! Lama tak melihatmu. Apa kabar, Kau?”
“Kurang baik. Aku sedang ditugaskan untuk berhembus lebih kencang dari biasanya, di daratan Barat sana.”
“Berhembus lebih kencang?”
Hu’um
“Di daratan Barat?”
E’um
“Lalu kenapa Kau kemari?”
Hahaha… Pertanyaan bodoh itu masih saja kudengar. Aku merindukanmu. Aku rindu hembusanmu yang lembut dan tak pernah melukai makhluk lain.”
Ah.. Maafkan aku. Aku tak bermaksud mengecewakan kedatanganmu.”
Heum. Tak masalah. Aku datang untuk bercengkrama denganmu, bukan untuk murung. Jadi, maukah Kau menghabiskan sore ini denganku?”
Eum, tentu.”

“Ngomong-ngomong, apa kabarmu?”
“Baik. Kau lihat aku masih bisa tersenyum kan?”
Heum.. Iya. Bahkan senyum itu semakin manis.”
“Ha.. Benarkah?”
Yap
Eum.. Apa yang terjadi di daratan Barat sana?”
“Disana sedang musim dingin. Sebenarnya aku tak tega melihat dua makhluk yang sedang berjuang mengejar mimpi itu harus kedinginan tiap hari.”
“Dua makhluk? Mengejar mimpi?”
“Iya. Aku berhembus di kehidupan sebuah kota yang sangat hidup. Saking hidupnya, sampai-sampai semua manusianya adalah pejuang. Pejuang masa depan dan cinta mereka.”
Wuaa.. Kisahmu semakin menarik saja. Lalu, apa yang terjadi dengan manusia-manusia itu?”
“Kau benar-benar ingin tahu?”
“Ya. Tentu.”
“Baiklah.. ”

“Kota yang kumaksud sangat hidup itu, adalah kota yang persaingannya sangat ketat. Manusia di sana akan merasa sangat malu jika menikahi gadis sebelum mampu memenuhi kebutuhan. Bahkan, seorang pria akan berusaha untuk lebih kuat, lebih kuat, dan lebih kuat lagi agar ia bisa mewujudkan semua mimpi. Namun hal yang paling mengagumkan adalah, ketika mimpi mencapai puncaknya.”
“Puncak mimpi?”
Heum. Puncak mimpi itu ada ketika manusia sudah menemukan orang yang membuatnya nyaman. Baik pria maupun wanita, pasti akan mengejar orang itu dengan segenap jiwa. Mereka rela mengorbankan segala yang mereka punya, agar orang itu tidak pergi.
Ya, mereka akan memperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Meski kadang orang itu sudah dimiliki atau memiliki orang lain, tapi hanya akan ada satu cinta sejati yang benar-benar sejati. Dan cinta itu tidak pernah salah jatuh, sebagaimana tulang rusuk yang tak pernah tertukar. Konon, begitulah takdir tentang jodoh.”
Ha.. Kau mengingatkanku pada sesuatu.”
“Apa?”
“Aku juga menyaksikan beberapa pasangan yang sudah tampak sempurna. Tapi skenario kehidupan seolah tak kehabisan akal untuk memisahkan mereka. Awalnya kukira kisah ini kejam. Kenapa harus ada yang melukai dan dilukai saat semua mata sudah sepakat, bahwa mereka pasangan paling serasi di dunia.
Untungnya hari ini aku menyadari, ternyata mereka pisah karena memang tidak berjodoh. Aku juga melihat si gadis sudah bersama pria yang selama ini meyimpan cinta dalam hati untuknya. Begitu juga lelaki pasangan gadis di awal tadi, ia memperjuangkan seseorang yang tanpa disadari, selama ini telah membuatnya berhasil menggapai mimpi.”
“Jadi puncak mimpi lelaki itu justru gadis lain yang bukan pasangannya selama itu?”
He’um. Heroik sekali, bukan?”
“Ya.. Pasti tak terhitung berapa tetes air mata yang harus lelaki itu sembunyikan demi harga dirinya.”
“Tidak. Tak ada air mata yang disembunyikan. Justru hanya gadis itulah, yang mampu membuat lelaki itu menangis.”
Aha.. Barangkali itu yang disebut ‘nyaman’.”
Yap. Kata orang, hidup kita akan lebih berarti setelah kita menemukan orang yang benar-benar pantas kita perjuangkan.”
“Begitu ya..”
Eum.. Lalu, bagaimana dengan kita?”

Ah, aku harus segera kembali. Hari sudah larut. Kuantar Kau pulang, ya?”
Ahaha.. Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Pergilah. Nanti pasti ada masanya kita berjumpa lagi.”
Ha.. Eu.. Anu..
“Tidak usah gugup begitu, aku tidak apa-apa. Lekas kembali, ya.. ^_^ ”
“Ahaha.. Pasti. ^_^ ”
Whuzzzz…..

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Rerintik itu Tetaplah Hujan

Read Next

Takdir

Facebook Comments

Disqus Comments

damae

Cinta [Sejati] Tak Pernah Salah Jatuh

Source: Here

Hai, kau masih betah beralama-lama melamun?”
Ah, Kau! Lama tak melihatmu. Apa kabar, Kau?”
“Kurang baik. Aku sedang ditugaskan untuk berhembus lebih kencang dari biasanya, di daratan Barat sana.”
“Berhembus lebih kencang?”
Hu’um
“Di daratan Barat?”
E’um
“Lalu kenapa Kau kemari?”
Hahaha… Pertanyaan bodoh itu masih saja kudengar. Aku merindukanmu. Aku rindu hembusanmu yang lembut dan tak pernah melukai makhluk lain.” Continue reading →

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Rerintik itu Tetaplah Hujan

Read Next

Takdir

Facebook Comments

Disqus Comments

damae