Celoteh “Klik”

Langitnya cantik. Seperti biasa, atap kosan selalu menyenangkan untuk berceloteh. Sembari melambai pada sang senja, mataku hampir tak berkedip beberapa menit -memerhati guratan awan. Ah, ya, Angin juga sudah mencumbu pipiku. Sayang dia langsung terbang mengantar kawanan burung kecil yang kian sedikit barisnya.

Hari ini, entah harinya yang buruk atau hatiku yang tidak baik, aku mengalami beberapa kekonyolan. Menurut aliran positivisme (yang belakangan ini gencar dikaji mahasiswa tingkat akhir), tidak ada akibat kalau tidak bersebab. Artinya, kekonyolan ini tidak akan terjadi kalau aku tidak melakukan kesalahan.

Dengan kata lain, ada apa denganku?

Halah. Lebay.

Satu diantara beberapa kekonyolan itu baru saja terjadi. Tidak ada yang aneh, sebenarnya. Aku sedang memasukkan potongan es batu, potongan nanas, air, dan gula ke dalam gelas blender. Gelas itu sudah kupasang di atas mesin blender sampai bunyi ‘klik’.

Ku sebut gelas karena bentuknya menyerupai gelas tabung, tinggi, menyatu dengan pisau pemotong di bagian bawah. Gelas ini bisa dilepas dari mesin blender dan jus pun bisa langsung diminum dari gelas itu. Ku namai blender mini.

Setelah ku tutup dan kutekan tombol power, mesin blender bekerja sempurna. Melihat semua potongan nanas sudah hancur, ku tambah beberapa potong lagi. Nah, saat blender ku matikan tanda jus siap diminum itulah, tutupnya tidak bisa dibuka. Seperti ada kekuatan besar yang menguncinya. Padahal, tadi penghancuran nanas sesi dua masih normal tutupnya. Aku pun yakin menutup dengan putaran yang benar.

Agak panik. Mana perut sudah tak sabar minta makan, sedari pagi baru ketemu nasi. Pun sambil menahan sedesir darah di hidung.

Ku coba membuka gelas tabung yang menyatu dengan pisau pemotong. Pikirku, barangkali tutup bisa lebih mudah dilepas setelah gelasnya terangkat. Eee.. Lha, kok, malah gelasnya ikut ‘ngadat’. Lebih kuat dari tutupnya. Fix: dua-duanya tidak bisa dibuka. Sampai urat nadi mau keluar dari kulit pun, nihil hasilnya.

Untung saja, tutup gelas itu punya lubang kecil yang terhubung dengan semacam pipa pendek -berfungsi untuk menyruput jus langsung dari gelas tabung. Ku buka pipanya, ku tuang jus ke dalam gelas, lalu ku coba lagi memutar tutup.

Ku putar gelas, alas pisau, tutup. Terus bergantian, ketiganya bergesekan.

Sampai.. Huhf.. Tanganku hampir memar. Saking kerasnya.

Sigkat cerita, tutup blender akhirnya terbuka setelah ku umek-umek satu jam. Itu pun sudah diminyaki, dicuci bersih, dikeringkan. Gelas tabung pun bisa dibuka setelah diplintir 4 tangan. Hanya saja, alas pisau pemotong yang terpasang pada mesin tetap kokoh seperti di-lem permanen. Sama sekali tidak geser sedikit pun dari posisinya.

Kutatap lamat-lamat bagian-bagian blender itu, lalu berceloteh: apa kalian ingin dinikahkan?

Barangkali, si blender sedang menunjukkan sebuah bukti, “Dua benda yang semula terpisah bisa menyatu dalam satu ‘klik’. Sekuat apa pun keduanya dipisahkan, justru membuat pemisah tak berdaya.”

Lalu, apakah ‘klik’ itu serupa ‘cinta’?

Entahlah. Peduliku hanya pada blender itu. Setengah tahun setelah ‘si kakak’ -blender besar pergi, dia yang setia mengabdi. Tanpanya, aku tidak bisa membuat jus. Tanpa jus, apalah arti keceriaan mentari saban pagi. #lebay***

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Hilang

Read Next

Hampa Maya

Facebook Comments

Disqus Comments

damae