1. Home
  2. Puisi

Kategori: Puisi

Sahabat-Sahabatku

Harusnya kutulis Senin kemarin. Sayang, begitu sampai kosan, drama sakit perut melumpuhkan tenaga. Bahkan esoknya aku bedrest seharian. Gara-garanya sepele, sob. Senin sore aku terlalu bahagia bersama keempat sahabat, sampai lupa kalau nafsu makan bakso…

Opik #8: Permainan Masa Kecil yang Paling Kuingat itu….

Sob, punya permainan masa kecil yang masih diingat sampai sekarang? Atau bahkan masih sering dilakuin? Yang jelas bukan permainan menggunakan gadget dong. Bukan PS alias playstation, bukan game online, bukan juga game di mobile phone,…

Opik #8: Permainan Masa Kecil yang Paling Kuingat itu….

Sob, punya permainan masa kecil yang masih diingat sampai sekarang? Atau bahkan masih sering dilakuin? Yang jelas bukan permainan menggunakan gadget dong. Bukan PS alias playstation, bukan game online, bukan juga game di mobile phone,…

Puisi
Teruslah Berjalan

Teruslah Berjalan

Teruslah berjalan Meski harus kubunuh hidupnya bayang, Jangan pernah menengok ke belakang! Teruslah berjalan Meski pupus asa dan mimpi, Jangan pernah ragu tuk melukis lagi! Teruslah berjalan Meski bukan dia di ujung jalan, Jangan pernah…

Puisi
Dua Mawar

Dua Mawar

Ingat dua mawar beda warna yang pernah kau pesani? “Jika si putih layu sebelum kau sampai rumahmu, mungkin perjumpaan kita pun begitu”. Dan, si merahlah yang tetap tegar menguar aroma. Si putih? Persis ramalanmu: satu…

Kehabisan Baju

Pengen curhat, boleh? Nggak boleh juga nggak apa-apa, toh aku bakal tetep curhat. #edisimaksa Ceritanya gini, sob. Jam 9 tadi malem, persis jelang mata mau merem, aku terperanjat dan ngedadak panik. Meski mata lelah tubuh…

Kehabisan Baju

Pengen curhat, boleh? Nggak boleh juga nggak apa-apa, toh aku bakal tetep curhat. #edisimaksa Ceritanya gini, sob. Jam 9 tadi malem, persis jelang mata mau merem, aku terperanjat dan ngedadak panik. Meski mata lelah tubuh…

Puisi
Padahal

Padahal

“Pyaaarrrrrr…!” Manik-manik rasa tercabut dari gelangnya. Kau, tanpa peri-manusia, melibas nurani hingga pecah empedu. Padahal, Jangankan hanya telinga yang kau pinta, hati pun selalu siap disantap. Jika saja, sebutir kasih masih merumahi matamu.

Opik #7: Kalau Sekarang Aku Kasih Kamu Satu Lagu, Apa Judul yang Kamu Pilih?

Kawasan Cibiru, Bandung Timur, sore ini masih berada di suhu 21 derajat. Gerimis manis, mendung manja. Tralala.. (apa sih, Damae!) Dingin-dingin gini enaknya ngapain, sob? Minum teh manis dan makan mie instan rebus dikasih potongan…

Opik #7: Kalau Sekarang Aku Kasih Kamu Satu Lagu, Apa Judul yang Kamu Pilih?

Kawasan Cibiru, Bandung Timur, sore ini masih berada di suhu 21 derajat. Gerimis manis, mendung manja. Tralala.. (apa sih, Damae!) Dingin-dingin gini enaknya ngapain, sob? Minum teh manis dan makan mie instan rebus dikasih potongan…

Opik #6: Keren itu….

Sering dengar kata “keren”? Seringlah (pake Banget)! Cowok keren itu cowok impian gue, cewek keren itu incaran gue banget, eksmud (eksekutif muda) itu keren banget, keren itu dosen ganteng yang baik hati; dan segudang kata…

Puisi
Jika Benar Kau Punya Hati

Jika Benar Kau Punya Hati

“Kau sudah memiliki hatiku, apa itu kurang?”. Pertanyaanmu selalu terngiang. Harus kujawab? Atau justru itu penegasan? Boleh kubalik tanya? “Hati yang mana milikmu itu? Hati yang mana milikku itu?” Hati yang tak tersisakah? Atau hati…

Puisi
Afeksi Mati

Afeksi Mati

Sebut saja “aku terus menghindar”, Kacamatamu hanya di satu sudut mata, bertanggar Asal kau tahu, keseratus-delapan-puluh-derajatan ini berasal dari: Matinya afeksi. Bukan, bukan afeksiku, tapi -mu. Lakumu menggebu dari akal yang hambar Hingga setetes kasih…

Puisi
23

23

Ini angkamu. Dua dan tiga. Dua angka bersaudara. Dua angka tanpa jeda. Dua angka berkepala dua, lekuk satu lekuk dua. Ini angkamu. Angka yang menekuri jari hingga kaki, lahir dan lapukmu. Dua angka itu. Angkamu.

Puisi
Bertetangga

Bertetangga

Akhirnya kita hidup bertetangga. Melihatmu jalan dengan anak istri, tinggal serumah dengan mereka, bercengkrama dan bahagia di dalam ‘istana’, sesekali memang mengiris hati. Kenapa, sering kubertanya, cintaku belum cukup diuji dengan pernikahanmu? Menyaksikan kau mengucap…

Puisi
Hujan ke Sekian

Hujan ke Sekian

Ini hujan ke sekian. Andai mampu kuhitung bulir yang bajir di kali sekian, kiranya sekian juga sayatan senyummu. Ah, apa guna kuberi tahu Kau cabik nadi di leher dan gelang hati pun, Hujan ke sekian…

Puisi
Damai itu Menyakitkan

Damai itu Menyakitkan

Soda dalam gelas kaca itu muntah Menguar haru biru yang memabukkan Entah berapa masa berlalu, Kesakitan terkurung dalam lapisan bening yang tak tembus pandang. Pekat dan cepat alirannya merembesi hati Basah. Banjirnya di mata. Ia…

Puisi
Kelu

Kelu

Kau anggap apa aku ini? Ribuan hari kau menguap tanpa subliman embun Jutaan detik jantungku retak tiap detak Seringan itukah lidahmu meraihku demi “peduli”? Getir dinyinyir “Peduli” untuk apa? Pada siapa? Aku? Hatiku sudah terlalu…

Puisi
Hilang itu Bertemu

Hilang itu Bertemu

Angin, begini rasanya kehilangan. Seharian belum makan, tak terasa lapar. Berhari-hari belum tidur, sama sekali tidak mengantuk. Kemana tatapan nanar, hanya ruang kosong yang mengambang. Semua yang terdengar seperti bisikanmu, Angin, ada tapi kasat mata.…

Puisi
Elegi Vonny

Elegi Vonny

Tak mengapa. Itu lebih dari bahagia yang kudamba: Sekadar membangunkan (tanpa pernah bisa menyiapkan sarapan), Hanya mengingatkan makan siang (tanpa membawakan bekal berantang), Cukup bilang “hati-hati di jalan” (tanpa sekali pun menyambutmu pulang), Lalu memberi…