1. Home
  2. Cerpen

Kategori: Cerpen

Cerpen
Kamu yang Rindu

Kamu yang Rindu

Entah siapa yang mula-mula bercerita: Jika bulu mata jatuh, tandanya ada yang rindu Sebagian bilang, ah, cuma mitos Sebagian lagi nyinyir mencibir, itu hanya kelakar orang jadoel Tapi entah mengapa aku selalu percaya Setiap bulu…

Cerpen
Terseok

Terseok

Terjal, ya? Kisah cintamu. Tak apa kau katakan itu, Ngin, “Terjal” terdengar lebih manis ketimbang “Terseok” Asal kau tak berhenti di kata itu, Tambahkan sebuah kalimat pelucut semangat: Seterjal apa pun, Ingatlah, Tuhan lebih tahu…

Cerpen
Berdiri Entah Kapan

Berdiri Entah Kapan

Sering aku ternganga dengan keindahan kata ini, Ngin, Perpisahan tak selamanya tentang meninggalkan, mungkin saja itu perjumpaan kembali di suatu masa nanti. Tapi perjalanan selalu punya cara untuk memberi kejutan Ialah senyatanyata kehidupan Adakalanya penantianmu…

Cerpen
Virus Merah Jambu

Virus Merah Jambu

Ngin, Kalau kau bayangkan setaman bunganya mekar Hatimu berdebur seraya berdebar Seketika bahagia menguar Rindu seakan habis terbakar Bahkan kau curi cari tawanya yang melebar Saat tak sengaja kau berjumpa Atau sekadar mendengar suara tanpa…

Cerpen
Belum Tentu

Belum Tentu

Kalau aku bilang: pengen makan Itu belum tentu aku lapar Persis aku peduli padamu bukan lantas aku suka Juga sama ketika kau memberi perhatian lebih, Aku tidak akan langsung ge-er Apalagi cinta.. Ah, Aku tak…

Cerpen
Film-mu

Film-mu

 

Cerpen
Menikahi Hati

Menikahi Hati

Pernah menikah belum tentu kau tahu bagaimana cara menikah. Apalagi, menikahi hati.

Cerpen

Jika sebagian orang ditakdirkan untuk memiliki apa yang mereka cintai, maka sepertinya, sebagian lain, ditakdirkan untuk mencintai apa yang mereka miliki.

Cerpen
Kabul

Kabul

Siap untuk dikabul, berarti siap pula untuk menuai ketidakmungkinan yang mustahil disemogakan.

Cerpen
Musim Semi

Musim Semi

Apa artinya kehidupan yang bahkan bisa dibeli, bila hati tak pernah bertemu musim semi?   Salam Damai, 🙂

Cinta [Sejati] Tak Pernah Salah Jatuh

“Hai, kau masih betah beralama-lama melamun?” “Ah, Kau! Lama tak melihatmu. Apa kabar, Kau?” “Kurang baik. Aku sedang ditugaskan untuk berhembus lebih kencang dari biasanya, di daratan Barat sana.” “Berhembus lebih kencang?” “Hu’um” “Di daratan…

Cinta [Sejati] Tak Pernah Salah Jatuh

“Hai, kau masih betah beralama-lama melamun?” “Ah, Kau! Lama tak melihatmu. Apa kabar, Kau?” “Kurang baik. Aku sedang ditugaskan untuk berhembus lebih kencang dari biasanya, di daratan Barat sana.” “Berhembus lebih kencang?” “Hu’um” “Di daratan…

Ruang Kosong

Bahkan lemahnya badan yang terkulai di pembaringan pun, justru menyadarkanku untuk menikmati kebahagiaan. Kesempatan ini sejatinya bukan pertama, malah aku sendiri tak mampu menghitung sudah berapa ratus kali penyakit ini tumbuh, mati, lalu tumbuh lagi.…

Cerpen
Celoteh Angin 3: Kehilangan

Celoteh Angin 3: Kehilangan

œHai, kenapa kamu menangis? akhirnya dia datang. Angin. Dulu aku pernah bilang kalau sahabat yang selalu ada itu dia. Ya, angin. Meski kadang kedatangannya hanya menjaili, tapi dia tidak pernah menyakiti.

Cerpen
Merutuki Hujan

Merutuki Hujan

“Hujan. Huhf.. Kenapa harus turun sekarang?”, dia tak berhenti merutuki anugrah langit yang baru saja turun. Memang, kadang aku juga kesal dengan makhluk bernama hujan ini. Selain menghambat aktivitas, hujan juga pandai menyayat hati. Tapi…

Cerpen
Diam

Diam

œSusah memang menjelaskan ini. Atau memang susah mengobrol denganku? nadanya naik. DO. Wajahnya memerah. Geram. Barangkali dia marah. Ah.. Ini bukan pertanda lagi. Tapi memang IYA. Dia marah.

Cerpen
Aku Rindu

Aku Rindu

Aku rindu masa itu Rindu tidur 2 jam sehari semalam Rindu makan 2 kali sehari semalam Rindu mandi sekali sehari semalam Rindu berpacu dengan waktu   Aku rindu masa itu Rindu menulis 10 lembar sehari…

Cerpen
For You

For You

Bukan mencuri, Sayang Aku tak bermaksud mencuri amarahmu Sama sekali Kecuali hanya sepucuk doa Doa yang amat tipis dindingnya dengan Hal yang Kau takuti Hal yang Kau benci Hal yang Kau hindari Dan itu membuatmu…

Celoteh Angin 2

Waktumu habis. Saatnya pulang, Dam! makhluk yang paling suka mengagetkan itu kembali menguntit. Temanku juga sudah datang. Dia akan membersamaimu di bus, agar Kau sejenak terlelap. belum sempat kurespon, ceracaunya terus saja tak berjeda. Temanmu…

Celoteh Angin 2

Waktumu habis. Saatnya pulang, Dam! makhluk yang paling suka mengagetkan itu kembali menguntit. Temanku juga sudah datang. Dia akan membersamaimu di bus, agar Kau sejenak terlelap. belum sempat kurespon, ceracaunya terus saja tak berjeda. Temanmu…