Buku Catatan Kecil

Tiga hari lalu aku punya banyak cerita, Angin. Cerita yang bukan hanya ingin kuurai, tapi juga kutulis untukmu. Tentang pertemuanku dengan orang-orang baru, yang tak pernah sedikit pun terbesit untuk mengenal mereka. Tentang bagaimana aku menyebrangi persimpangan yang membelah sekat: antara bayang dan nyataku. Juga tentang, cinta yang bernasib sepertimu, kasat mata tapi terasa.

Sayang, semua kataku hilang begitu tahu buku catatan kecilku bersembunyi di balik bola mata. Kubongkar lemari, kukeluarkan seisi tas, bahkan kuendus tiap pojok kamar; nihil! Seakan buku bersampul biru itu menegaskan, “Jangan sentuh aku lagi”. Kuingat-ingat terakhir ia tergeletak di meja kamar. Bersanding dengan perangkat yang saban hari kugunakan. Yakin, aku tidak pernah meninggalkannya kecuali di sana.

Hatiku mendadak sesak. Bisiknya kembali menggema, bisik yang sempat kuabaikan persis sebelum dia menghilang. Bisik yang menyuruhku untuk memotret buku itu, karena aku tak pernah tahu kapan ia akan pergi. Dan, itu terakhir kali aku melihatnya.

Aku merasa sangat bodoh, Angin. Andai kupotret buku itu saat firasat membisiki, akankah kutemukan dia lagi? Jika pun tidak, aku masih bisa mengabadikan wajahnya. Wajah yang saban hari menjadi saksiku untuk menemukan jati diri. Wajah yang menampung semua ilmu yang kucari dengan basah kuyup, tahan lapar, tahan lelah, juga selalu pulang malam. Wajah yang, tak pernah menghakimi, apalagi membenci.

Wajah itu, Angin, wajah buku catatan kecilku yang masih belum kumengerti: kenapa dia pergi?

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*