Bisikan Dandelion

Benar kata pujangga. Mencintai itu mudah, hanya butuh     hati yang siap untuk terluka.
Tak apa bagiku, karena bermodal cinta yang tulus itu tak butuh kembali modal.

Sesuci embun pagi yang mempercantik kebun pink mawar ini, cinta itu masih terbenam dalam. Sedalam palung hati yang tak ada ukuran bakunya. Gemericik pemancuran air dari selingkar kolam kecil ditengahnya, mengalir bening. Manja dan suaranya menyita perhatian. Sebening mata itu, mata hati yang sangat tulus dalam segala hal. Persis di depan kursi taman yang kududuki _sembari menuliskan suara hati di laptop kesayangannya_, kursi yang memang hanya cukup untuk dua orang, terbentang serumpun Dandelion bertuliskan 2F. Akan sangat indah bila duduk berdua menatap senja disana. Mengantar pulangnya mentari ke peraduan. Tapi bukan keindahan itu yang kumaksud, melainkan angin sore yang menerbangkan satu persatu bagian bunga Dandelion. Begitu ringan, tanpa beban. Kala itulah, pasti kutitipkan salam cinta dan rinduku untuknya. Tebaran Dandelion akan membawanya ke angkasa, entah sampai mana. Tapi kuyakin, salam itu pasti sampai. Untuk separuh jiwa.

    Ya, Dandelion. Bunga rumput yang seringkali terabaikan. Dipandang sebelah mata dan tak berguna. Memang, sepintas Dandelion sangatlah tidak menarik. Jika ada kontes kecantikan bunga, barangkali Dandelion menempati urutan 2 terakhir sebelum rerumput ilalang. Bentuknya yang aneh dengan rapuhnya tangkai, juga hampir tak pernah tersedia di toko bungalah yang membuat Dandelion tidak seternama bunga lainnya. Tapi jangan salah, bunga yang masih satu family dengan Asteraceae, genus Taraxacum yang bernenek moyang benua Asia-Eropa, sejatinya memiliki seribu satu pelajaran hidup yang teramat berharga bila difilosofikan.

Bunga Randa Tapak, begitu sebutan lainnya, bisa hidup dimanapun benih Dandelion berhenti diterpa sang angin. Disanalah ia tumbuh tanpa mengeluh. Ini menjadi cerminan proses adaptasi yang memang harus dilakoni setiap makhluk hidup. Layaknya pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Keberadaannya yang bisa ditemukan hampir disetiap sudut tanah ini, mencirikan karakter sederhana dan mau berbaur dengan siapa saja.

Rapuhnya tangkai, nampaknya sepintas. Sejatinya ia sangat kuat menopang terjangan angin yang menerbangkan satu persatu bagian bunganya. Suatu keunikan bukan? Secara tak sengaja ia mengajarkan kekuatan untuk bertahan dan pantang menyerah. Dia menyulap kelemahan itu menjadi perisai untuk tetap tumbuh dan berkembang. Bentuknya yang bulat, agaknya menjadi simbol kebulatan tekad seseorang, bahkan hingga kepala bunga plontos habis lantaran putihnya bunga sudah menari diangkasa, ia tetap berbentuk bulat. Putih, ya. Putih warnanya itu lambang kesucian hati. Hingga indahnya kemilau mentari yang sengaja menyorot tarian manjanya di awan, pasti terdeteksi kasat mata dan berbias bak     pelangi.

Indah sekali, bukan? Tapi, kini, apalah artinya keindahan Dandelion itu, bila mata hati ini selalu basah saat melihat tarian serpihan bunganya di angkasa. Bukan lagi simpul senyum yang terukir manis di kedua lesung pipit, bukan hangatnya hati yang senantiasa dihidupkan dengan kasih sayang, bukan pula lembutnya sentuhan dan harmoni cinta yang kupeluk erat setiap saat, juga bukan cubitan manja yang kadang membekas merah di lengan ini. Bukan, bukan itu. Bahkan, semua itu tak dapat lagi kumiliki. Tak dapat lagi kurasakan, tak dapat lagi kugenggam dalam kebahagiaan sejati. Bersamanya.

Ya. Tak dapat lagi. Sungguh, karena Dandelion sejati kini sedang tidur tenang disisi-Nya. Tapi satu hal yang pasti, aku yakin ia pasti sabar menunggu. Menungguku menjemputnya kembali untuk bersama selamanya, dalam alam keabadian nanti. Sebagaimana ia selalu sabar menungguku pulang dari kantor. Menungguku membereskan urusan keluarga. Bahkan menunggu keasingan dan matinya hati ini selama 2 tahun terakhir, sebelum ia pergi untuk selamanya.

Duhai, Dandelionku..

Aku sungguh merindukanmu,

***

Ini suara hati yang ke-1259. Persis seminggu pasca dia pergi, aku selalu menuliskan suara hati ini di laptop kesayangannya. Laptop yang selalu kubawa kemana pun langkah ini berpijak. Bukan karena laptop bisa mengobati kerinduan yang kian hari kian bertambah berat, tapi karena di dalamnya berisikan tulisan Dandelionku yang mengabadikan setiap sudut hatinya. Sudut hati yang sempat bahagia, bahkan puncak kebahagiaan sejati, juga pernah tergores luka yang teramat sangat hingga aku tak mampu memaafkan diri sendiri.

Sruuupp    Ah     Fiuuuhhh    

Kusruput perlahan Cappucino hangat buatan bibi. Sembari mengepulkan asap rokok yang sudah 7 tahun ini tak kunikmati. Meski sudah bertahun-tahun bibi mengurus rumah yang dikelilingi kebun teh ini, jauh sebelum aku mempersunting perhiasan dunia terindah itu, cappucino buatannya tetap tak bisa mengalahkan nikmatnya seduan Dandelion. Entah resep apa yang ia pakai dan darimana mendapatkannya, bagiku, the cup of cappucino buatan istri tercinta jauh lebih sempurna dari semua made in caf    © eksklusif, bahkan di luar negeri sekali pun. Setiap tetesnya memberikan energi baru, semangat baru, juga kehangatan yang tak kudapatkan selain dari dekapnya. Analisis dangkalku, cinta dan kasih sayang terdalam dari palung hatinyalah yang ia taburkan dalam seduan cappucino itu. Ya, itulah perbedaan yang kurasa paling signifikan, meski mungkin sulit untuk dilogika.

Huhhhfff    

Semakin berat saja rindu ini padanya. _Suara hati ke-1260_

Segera kubuka folder     œDandelion     di My Document untuk mengusik suara hati yang parau. Timbul tenggelam menyiksa batin. Aku tak tahu bagaimana cara mengobatinya. Hanya dengan membaca baris-baris bisikan sudut hatinyalah aku bisa kembali tenang. Meski kini hanya sekedar tulisan, tapi ruh Dandelion ada disini. Aku merasakan kehadirannya setiap kali tulisan yang jumlahnya ribuan itu kuselami satu persatu.

    œAha! Ini dia, tulisan ke-1009. Bisikan Dandelion.     Sorakku, gembira. Tak sabar tuk membaca.

***

    œBun, file kantor ayah untuk meeting hari ini mana? Perasaan semalam sudah ayah siapkan    , selalu saja begitu. Tak pernah berubah. Sejak pertama kenal hingga 5 tahun sudah usia pernikahan ini, masih saja lupa segala sesuatu yang baru ia letakkan.

    œIni dimeja makan, sayang. Sudah bunda rapihkan. Ayo sarapan dulu, susu murni Pangalengan sudah siap.     Jawabku sambil menuangkan susu murni Pangalengan, kesukaannya. Di Jawa Barat, khususnya Bandung, daerah Pangalengan memang terkenal sebagai penghasil susu murni yang produktif. Susu yang kian meluas distribusinya ini bisa didapatkan dengan harga 5 ribu per sachet besar. Biasanya diantar oleh loper, atau ada agen-agen yang bekerjasama dengan koperasi Pangalengan untuk penjualan susu ini.

    œHuhff.. Bunda. Kunaon atuh teu nyarios kantong na ditunda dinu meja tuang?    

    œHeumm.. Setiap pagi juga pasti bunda siapkan tas ayah di meja makan untuk diperiksa sebelum berangkat. Biar enggak ada yang ketinggalan. Etamah ayah we nu hilap    

    œEitz!! Jangan cemberut. Iya-iya ayah ngaku salah. Untung ada istri multifingsi ya, Hehe..    

    œApa ayah bilang?    

    œOpz! Bercanda, bunda. Heureuy.. Eh, bunda cantik deh pakai baju ini. Ayah memang tak salah pilih untuk istri tercinta. Coba liat ayah bentar, bun.     Kuangkat wajah yang sedari tadi ingin memecah tawa, dan..

    œMmmmmmuuuuaahh.. Kecupan untuk Dandelionku pagi ini. Ayah sayang bunda.    

Begitulah kemesraan dalam rumah ayah ciptakan. Sesibuk apa pun ayah di luar, tetap ada free space untuk memanjakanku. Ayah selalu punya cara untuk membuatku tersenyum setiap saat. Bahkan sejak umroh pertama sebagai kado bulan madu, tak sekuku pun kasih sayang ayah berkurang.

Lima tahun sudah, kehidupan damai nan harmoni ini kujalani. Suka duka dan segala ujian hidup dilewati bersama. Meski kadang aku hanya bisa menangis kesepian, karena hingga rambut ayah memutih, keriput diwajahku kian jelas terlihat, belum juga momongan itu dikaruniakan. Beruntung, tak pernah sedikit pun ayah menampakkan penyesalan. ‘Selama mentari masih bersinar, selama itu pula harapan takkan pudar. Barangkali Allah memang belum percaya pada kita untuk menjaga titipan-Nya’. Pesan itu yang selalu ia bisikkan saat kumulai perbincangan soal buah hati.

Lebih beruntung lagi, ia seolah tahu apa yang kumau. Untuk mengobati kesendirianku kala ia di kantor, dibangunnya panti asuhan yang jaraknya hanya beberapa jengkal dari rumah. Sejak dua tahun silam, panti ini menjadi tempat tinggal, tempat belajar, tempat bermain, tempat mengaji, dan tempat anak-anak yatim, piatu, juga anak jalanan mengukir mimpi yang mereka titipkan pada angin kala menerbangkan bunga Dandelion.

###

Fabiannyi alaairobbikuma tukaddziban. Bila tak ada ayat berulang sebagai penegasan     œMaka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan     dalam QS. Ar Rahman ini, mungkin aku sudah memilih untuk mengakhiri hidup dari pada menanggung ketidaktenangan jiwa sepanjang hayat. Betapa tidak, 2 tahun pacaran dan 5 tahun menikah berselimut kebahagiaan, tentu belum sebanding dengan nestapa 2 tahun terakhir hingga kematian memisahkan hati ayah dari kebekuannya.

    œBesok pagi kita ke rumah nenek di Cianjur    , katanya dengan nada kesal sembari membanting pintu.

    œBesok? Ada apa, ayah? Kenapa baru mengabari malam ini?     tanyaku, lembut. Meski hati tersayat melihat sikap ayah yang kian brutal dan tak bisa dihalusi.

    œNURUT SAJA JANGAN BANYAK TANYA!     Bentaknya dengan nada DO. Jantung serasa copot. Darah berdesir hebat. Bahkan hati tercabik menerima kenyataan ini. Ayah benar-benar telah berubah. Ya, berubah 180 derajat.

Dua tahun lalu, tak pernah sekali pun ayah membanting pintu, membentak, pulang pergi seenaknya, tak pernah menyapa, jika ditanya menjawab dengan dengusan, apalagi sampai membiarkan air mataku terjatuh. Tapi kini, sudah hampir 25 bulan, 7 hari seminggu, 24 jam per hari, hati ayah seolah mati. Tak ada lagi cinta dihatinya, tak kurasakan lagi hangatnya kasih sayang yang dulu selalu memanjakan. Bahkan baiti jannati yang dulu ayah dambakan dan ia bangun sekokoh mungkin, kini ayah robohkan sendiri.

###

    œBaiklah, karena semua telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau, Fisha.     Dengan tegas nenek bicara, sorot tajam matanya bertemu kedua bola mataku yang sayu.

    œAda apa, nek?    , sahutku penuh tanya. Tetap berusaha tersenyum meski hati berbisik tak menentu.

    œSudah hampir 8 tahun kau bergabung dalam keluarga besar kami. Tapi sampai detik ini, belum ada tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab kau selalu keguguran.     Lanjutnya.

Duh, gusti.. untuk inikah aku dibawa kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?

    œSebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri jauh sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala dan susah diatur. Jadilah dia menikahimu. Padahal ia tahu bahwa pernikahan lelaki Sunda dengan wanita Jawa itu tidak akan langgeng.     Nenek terus berbicara panjang lebar. Sedang aku, hanya bisa mendengar. Ingin sekali kupeluk ayah agar air matanya tak lagi menetes, karena jiwa ini sudah     melapangkan dada yang seluas-luasnya untuk menerima kenyataan.

Mitos tabunya penikahan Sunda-Jawa sebagaimana nenek ceritakan, boleh jadi benar. Tapi bagiku itu salah besar. Aku sangat paham karakteristik keluarga ini. Mitos hanyalah satu alasan penguat yang membenarkan opini mereka bahwa     œpernikahan itu takkan bahagia selamanya    . Bagiku, justru merekalah pemicu utama retaknya rumah tanggaku dengan ayah. Bukankah selama 5 tahun tanpa buah hati itu bukan masalah sama sekali? Semua tetap baik-baik saja, bahkan ayah tak pernah berhenti mencurahkan segala kasih padaku.

Ya, aku ingat sekali. Sejak 2 tahun lalu, sebelum ayah berubah segalanya padaku, aku diperkenalkan dengan Nia oleh ibu mertua, dia mantan kekasih ayah dulu. Dengan mudahnya ibu lalu mengusirku tanpa sepengetahuan ayah yang sedang terbaring lemas di rumah sakit. Padahal sebelumnya, akulah yang setiap hari menemani ayah. Membacakan Al Qur    an disisinya selama ayah koma. Bahkan mengurus segala keperluannya disana, sendirian. Tapi itu semua menjadi tidak berarti semenjak ibu dan Nialah orang pertama yang ayah lihat saat ayah terbangun dari koma. Sementara aku..

Ya Allah, sekeji itukah mereka? Tapi mana mungkin aku membeberkan semua itu. Mana mungkin pula aku bisa bercerita bahwa seharusnya aku layak meminta talak sejak ayah tak lagi menganggap keberadaanku disisinya. Bahkan hanya kekerasan dan air mata yang kuterima selama dua tahun terakhir ini.

    œJadi kau maunya bagaimana, Fisha? Dicerai atau dimadu?     pertanyaan nenek membuyarkan lamunanku. Sungguh, hatiku hancur. Kugenggam tangan suamiku yang dingin dan dengan senyum aku menjawab.

    œWalaupun Fisha tidak bisa berdiskusi dulu dengan mas Fikri, tapi rasanya kontak batin ini sudah cukup. Demi kebaikan dan kebahagiaan keluarga ini dimasa depan, dengan senang hati akan Fisha sambut seorang wanita baru di rumah kami     dengan kata lain, aku rela dimadu. Saat itu juga, ayah mengangkat wajah dan memandangku lekat-lekat. Tak satu kata pun terucap dari bibir manisnya, tapi air mata yang kian deras cukup menjadi bukti seperti apa isi hati sejatinya sekarang.

***

Oh Dandelionku    

Inikah kisah yang sebenarnya kau alami? Ya Allah, betapa besar dosaku yang telah menelantarkan dan selalu membuatnya menangis disisa hidupnya. Bahkan kanker mulut rahim yang menyiksamu tanpa sepengetahuanku, hingga membuatmu pergi selamanya setelah pernikahanku dengan Nia itu, tak ada artinya dibanding sakit hati yang kau pendam selama ini.

Duh Gusti.. Apa yang harus kulakukan untuk menebus dosa ini?

Tubuhku bergetar hebat. Air mata ini tak henti mengalir hingga basah seujung kakiku. Langit semakin gelap, mentari pun sudah hampir sampai ke peraduannya. Namun angin kian kencang menerbangkan Dandelion ke angkasa. Hingga samar-samar kudengar bisikan dari tiap bagian Dandelion yang menari indah.

    œJangan bersedih, ayah. Bunda sayang ayah.    

***

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Di Batas Hati

Read Next

Rindu Hujan

Facebook Comments

Disqus Comments

damae