Berkawan dengan Kehilangan, Ketidakbahagiaan, dan Keikhlasan

Biasanya, aku baru akan mulai mengikhlaskan sesuatu, setelah semuanya selesai. Setelah semuanya berjalan tidak sesuai harapan. Setelah aku benar-benar merasa kehilangan. Setelah semuanya terasa tidak membahagiakan.

Entah urusan hati atau perkara mimpi, kehilangan dan ketidakbahagiaan tidak bosan-bosan berseliweran. Hinggap di setiap kisah tanpa permisi. Bahkan meski berkali-kali sudah kuhadapi, tetap saja kehilangan dan kebahagiaan membuatku kelimpungan.

Hingga logikaku dipaksa berpikir: ‘Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain mengikhlaskan”. Keikhlasan ini, seakan jadi pilihan terakhir dari semua alternatif pilihan yang bisa kucoba. Sekaligus jadi solusi yang dianggap seperti magic: semua akan baik-baik saja asalkan aku bisa mengikhlaskan.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya dimaksud dengan mengikhlaskan? Bagaimana jika aku tidak berhasil mengikhlaskan sepenuhnya, atau setidaknya ada rasa yang begitu berat saat aku mencoba? Dan, bagaimana caranya aku memastikan kalau, aku memang sudah benar-benar mengikhlaskan?

Sebentar. Pelan-pelan. Tarik napas dulu. Sepertinya aku terlalu banyak bertanya. Tulisan ini tentu saja tidak kubuat secara khusus untuk menjawab semua pertanyaan itu. Jadi, mari dipersingkat saja.

Begini. Mengikhlaskan dalam konteks ini, mari disepakati sebagai kerelaan untuk menerima kenyataan, apa pun itu. Membahagiaakan atau menyakitkan, sama-sama bisa ditelan dengan hati yang lapang. Tanpa menyalahkan diri sendiri atau siapa pun, apalagi memprotes Tuhan. Ya, sudah. Diterima saja, diakui saja, dijalani saja, dinikmati saja, dan disyukuri saja. Kalau memang itu menyakitkan, katakan itu menyakitkan, terima rasa sakitnya, hadapi rasa sakit itu, hingga tahu-tahu aku sudah berteman dengan kesakitan.

Barangkali selama ini aku terlalu banyak mendewakan dan memimpikan kebahagiaan. Hingga tanpa sadar segala hal yang membuatku tidak bahagia akan menjadi momok besar yang menakutkan. Aku bisa dengan mudah bersyukur atas bahagia yang dianugerahkan Tuhan, tapi lantas menyudutkan-Nya ketika realita berbalik memilukan. Aku pun bisa dengan sangat ringan mengucapkan terima kasih atas kebahagiaan yang diantarkan orang lain, tapi tak berselang lama bisa berubah jadi membenci dan memaki orang lain ketika nestapa menimpaku.

Kemudian dengan effort yang sangat luar biasa, terasa begitu berat untuk dicoba, aku merangkak menemui keikhlasan. Tanpa disadari, aku mengajukan sejumlah pertimbangan untuk bernegosiasi dengan keikhlasan, agar setidaknya ia mau singgah di hatiku. Perkara menetap, nanti diperjuangkan lagi. Begitu berulangkali kulakukan, sampai hari ini aku baru menyadari bahwa, kian hari cara ini kian terasa terlalu melelahkan.

Aku kembali berpikir. Jangan-jangan, aku sudah salah sejak awal. Aku salah menempatkan kehilangan, ketidakbahagiaan, dan keikhlasan itu di ujung perjalanan. Harusnya, sejak awal aku tahu kalau kehilangan akan selalu beriringan dengan memiliki. Ketidakbahagiaan akan selalu jadi seperti sepasang mata uang dengan kebahagiaan. Pun mengikhlaskan, akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari mensyukuri.

Dengan begitu, aku berharap kehilangan, ketidakbahagiaan, dan keikhlasan akan berpindah posisi, ke titik di mana pertama kali kisahku dimulai. Sejajar dengan memiliki, kebahagiaan, dan mensyukuri.

Siapa tahu, mindset inilah yang akan membuat hati dan pikiranku lebih tenang. Bahkan tak perlu lagi mengejar keikhlasan, karena ia dengan sendirinya sudah bertakhta di hati, mendampingi rasa syukur. Sama seperti ketika aku menemukan, di titik yang sama pula aku bisa kehilangan. Persis di titik aku merasa tidak bahagia, di titik itu pula aku bisa merasa tidak bahagia. Semua terserah padaku, mau melihat dari sisi yang mana.

Jika pun masing-masing pasangan itu tidak terjadi dalam satu waktu, setidaknya aku bisa menyadari bahwa, kelak keduanya akan saling bertaut. Dan, ketika itu terjadi, aku sudah bisa merasa tidak perlu “terlalu” lagi. Tidak terlalu merasa kehilangan, tidak terlalu merasa tidak bahagia, dan tidak terlalu memelas pada keikhlasan untuk singgah di hatiku. Karena sejak awal aku tahu: sejatinya aku tidak benar-benar memiliki, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu hanya sementara, dan keikhlasan sudah menetap di hatiku.

Setelah ini, apa pun yang kuhadapi, semoga akan terasa baik-baik saja. Semoga, benar-benar akan baik-baik saja. Kehilangan, ketidakbahagiaan, dan keikhlasan; aku akan belajar berkawan dengan ketiganya.

Damae Wardani

Read Previous

(Haruskah) Aku Berhenti Bertanya (?)

Facebook Comments

Disqus Comments

damae