Bapak dan Idul Adha

Angka 18 di belakang angka 2, terus bertambah. Sudah kucoba memejam mata, tapi gema takbir dari segala arah membuatku tetap terjaga. Fix. Aku bangkit.

Allohu Akbar.. Allohu Akbar.. Allohu Akbar. Laailaaha Illalloh Huallo Huakbar.. Allohu Akbar Walilla Hilham..

Merdu sekali. Alunannya merasuk nadi, menggetarkan hati. Meski nada satu masjid dengan lainnya tidak sama, semua penjuru tetap mencuri perhatianku.

Esok, 4 jam dari sekarang, insyaAllah aku akan kembali merasakan hikmatnya sujud solat Ied. Solat yang, sekaligus menjadi tanda dimulainya Hari Raya Qurban.

Tahukah kau apa yang mengganjal di pikiranku hingga memaksa jemari menulisnya?

Bapak.
Iya. Aku teringat bapak.

Semasa SMP, aku selalu diminta menuliskan naskah khutbah bapak. Tentu bapak mendikte dan aku menulis sekaligus menyunting (diam-diam). Jangan salah, pandai berceramah belum tentu tata bahasanya sesuai EYD.

Terlebih jika bapak mendapat jadwal khutbah di masjid kampung sendiri (bukan di Jakarta), pasti banyak campuran bahasa Jawa yang bikin risih telinga: mekatenlah.

Ah, ya. Aku ingat bapak senang sekali menemukan buku “Panduan Pidato” di atas meja. Semula ingin kuberikan langsung, tapi aku terlalu takut. Takut kalau hadiah kecil itu kurang berkenan di hati bapak. “Buku dari mana ini?”, akhirnya bapak yang tanya duluan.

“Hadiah, Pak.”, kujawab singkat. “Iya, dari mana?”, sekali lagi bapak bertanya. “Lomba pidato di sekolah”, selanjutnya aku yakin pasti bapak penasaran: juara berapa?. “Satu.”, nah! Barulah wajah bapak sumringah.

Meski kutahu semula bapak senang karena memang membutuhkan buku itu, tapi kebahagiaan bapak saat mendengar aku juara satu tidak bisa disembunyikan. Di mata bapak, “Selain ‘satu’ itu bukan juara”.

Karenanya, peringkat satu yang kuraih sejak TK hingga hari ini, tetap tidak membuat kekecewaan bapak sirna saat aku tergeser di pertarungan UN SMP. Tapi kusyukuri, begitulah cara bapak mengurangi kekuranganku. Ia hanya ingin anaknya selalu berada di baris terdepan.

Sayang, sejak aku menempuh SMA di kota lain dan hanya bisa pulang saat lebaran, tak bisa lagi kubantu bapak menuliskan khutbah (baik solat Jumat maupun Ied). Lebih lagi tahun-tahun aku menjadi mahasiswi, bapak mendapat jadwal permanen di Jakarta untuk menjadi khotib, imam, sekaligus penyembelih hewan qurban.

Hatiku mendadak basah.

Sungguh, aku rindu nasihat bapak yang selalu ia selipkan lewat dikte-an khutbah. Aku kangen amarah bapak yang ia lontarkan dalam diam. Aku pun sangat ingin merasakan menjadi ma’mumnya bapak saat solat Ied -karena seumur hidupku, bapak selalu menjadi imam untuk orang lain.

Hal lain yang selalu terbesit tentang bapak terkait Hari Raya Idul Adha, ialah sepenggal perjuangan untuk memerdekakan keadilan ‘jatah qurban’.

Begini ceritanya. Pengurus masjid di kampungku itu, masih menganut gaya lama. Metodenya, semua hewan qurban satu desa (dari beberapa RW) dikumpulkan dan disembelih di masjid semua. Itu masjid memang satu-satunya di desa.

Sepintas tak masalah, memang. Tapi praktik kecurangan pembagian daging qurban menjamur dari pimpinan hingga akar. Kyai (pemuka agama, pimpinan, sesepuh) yang dijabat oleh satu orang, mendapat bagian paling besar: satu paha sapi (bisa lebih bisa kurang sedikit). Pengurus masjid sejajarannya hingga tukang tetel (sebutan untuk warga yang membantu proses pemotongan dan pembagian), tidak kalah rakusnya.

Tak heran jika masyarakat biasa hanya mendapat satu atau dua kantet -sekira kurang dari satu ons- saja. Ini berlangsung selama bertahun-tahun.

Hingga 6 tahun lalu bapak berani memperjuangkan sebuah perombakan. Menggandeng para pengurus mushola dan pemuka agama di desa, bapak mengajukan permohonan pada pimpinan. Sederhana saja, bapak hanya ingin setiap mushola diberi hak otonom untuk menyembelih, memotong, dan membagikan hewan qurban dari dan untuk masyarakat sekitar mushola.

Bahasa kerennya, sistem sentralisasi diganti menjadi desentralisasi. Dengan begitu, tidak ada lagi kecurangan pembagian daging oleh para atasan. Rakyat pun mendapat bagian yang layak, setidaknya cukup untuk dimakan sehari bersama keluarga. Pembagian juga disesuaikan jumlah anggota keluarga, karena adil bukan berarti sama rata jatahnya tapi jumlah penerima tidak sama.

Jelas sempat ditentang semua pengurus masjid dan pimpinannya. Bahkan adu mulut, caci maki, dan virus benci menjalar dengan cepat. Untungnya bapak tidak menyerah. Keadilan, kata bapak, hak mutlak untuk semua orang.

Hasilnya, ini sudah tahun ke-6 otonomi pembagian hewan qurban berjalan. Meski bapak sama sekali tidak mencicipi hasilnya lantaran selama itu ia bertugas di Jakarta, bapak sudah sangat bahagia.

Maka, di hari yang seharusnya menjadi kenikmatan untuk semua muslim di dunia, terucap kata yang teramat jarang kusua langsung di depannya, “terima kasih, bapak.”

Kaulah orang yang mencinta tanpa kata, menangis tanpa air mata, dan selalu berdoa tanpa suara. Kau pula pemilik kelembutan hati yang terbalut kasarnya telapak kaki. Kau, sungguh ingin sekali hatimu kupinjam, untuk belajar tentang pengorbanan.

Terimakasih telah menjadi bapakku, aku bahagia menjadi anakmu.***

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*